Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Suasana Fun Untuk Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa

Novitri Selvia • Selasa, 16 Agustus 2022 | 11:59 WIB
Marjohan, M.Pd Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
Marjohan, M.Pd Guru SMA Negeri 3 Batusangkar
Para praktisi pendidikan dunia secara berkala melakukan evaluasi SDM pendidikan global. Sebuah majalah yang sering melakukan evaluasi global yang terbit di New York, Amerika Serikat, survei CEOWorld memaparkan tentang negara-negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia pada 2020.

CEOWorld melakukan survei ini di 93 negara dengan mewawancarai 196.300 orang responden terkait kualitas pendidikan di negaranya masing-masing. Responden yang disurvei berasal dari kalangan mahasiswa, profesor, dosen, peneliti, guru sekolah, pakar pendidikan, serta pekerja pofesional dan pelaku industri.

Hasilnya, Inggris menduduki peringkat puncak dengan skor tertinggi, yakni 78,2 dari 100. Sedangkan Indonesia mendapat skor 46,4 dari 100 dan berada di peringkat ke-70 global.
Namun kita tidak perlu berkecil hati karena kita dan banyak pihak selalu berbuat yang terbaik buat meningkatkan mutu pendidikan.

Bagi kita sendiri, mari kita selalu memiliki wawasan global dan selalu melakukan hal-hal sekecil apapun buat perbaikan kualitas hidup ini. Sekarang penulis ingin berbagi tip dengan menggunakan kata Fun.

Kata menyenangkan dalam Bahasa Inggris berarti fun. Kata fun sekarang sangat disenangi oleh banyak pebisnis dan sangat fenomena. Banyak aktivitas sosial dan aktivitas pembelajaran yang menggunakan label fun.

Yaitu seperti fun bike, fun learning, fun house atau having fun. Event atau kegiatan yang menggunakan kata fun pasti menyenangkan, karena terasa menantang dan sekaligus memberi hiburan.

Sebaliknya kegiatan yang jauh dari suasana fun (menyenangkan) diperkirakan bahwa suasananya akan membosankan dan menyebalkan, itu karena suasananya banyak menekan dan menyiksa perasaan.

Dapat dibayangkan bahwa aktivitas yang bernuansa fun (menyenangkan) memang akan menggairahkan. Seperti dalam kegiatan fun bike, peserta yang bercucuran keringat, namun masih menebar senyum karena di sana ada suasana riang gembira.

Aktivitas fun learning yaitu suasana belajar yang membuat pesertanya selalu bersemangat dalam melakukan eksplorasi intelektual. Begitu pula aktivitas dalam fun house, yang mana anggota keluarganya selalu riang gembira karena diberi kehangatan dan komunikasi yang sangat menyenangkan.

Bayangkan, kalau suasana di atas jauh dari kondisi fun, maka suasana tersebut tentu akan diganti oleh kondisi yang serba membosankan-bored atau boring. Maka selanjutnya label aktivitas akan menjadi boring bike, bored learning, boring house, atau yang lain mungkin menjadi boring school, boring game, boring hospital, dan lain-lain.

Belajar sudah menjadi kebutuhan primer kita. Banyak ungkapan-ungkapan yang mendorong/ memotivasi kita untuk belajar, seperti life long education atau belajar seumur hidup. Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga ke liang lahat, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina, menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan.

Belajar itu sendiri tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga harus terlaksana di rumah dan dalam masyarakat. Belajar dibimbing oleh guru, orang dewasa, instruktur dan orangtua. Para pembelajarnya adalah anak-anak atau siswa-siswi. Seharusnya suasana belajar haruslah menyenangkan atau fun in learning.

Rasa menyenangkan, feeling fun memang sangat penting dalam semua aktivitas kehidupan. Dengan feeling fun hidup ini akan jadi berarti dan bergairah. Ibarat jilatan atau belaian seekor induk kucing pada anaknya akan membuat anak-anaknya jadi bersemangat dalam melompat dan mencengkram.

Kata-kata yang menyejukan, dan kehangatan belaian ayah dan bunda membuat sang bayi dan balita jadi lincah dan selalu kreatif untuk bereksplorasi melalui pandangan, pendengaran dan jari-jarinya yang mungil. Sungguh rasa menyenangkan bisa membuat seseorang menjadi kreatif.

Banyak bukti yang menunjukan bahwa rasa senang bisa menciptakan kreatifitas. Sekali lagi bahwa bayi dan balita yang diasuh oleh orangtua yang memberikan rasa senang menerima kehadirannya dan memberi kehangatan akan membuatnya kreatif, menjadi lincah, riang gembira dan selalu melakukan eksplorasi.

Guru-guru taman kanak-kanak yang selalu memberikan rasa senang akan membuat anak didik jadi lincah dan cerdas. Tempat-tempat penitipan anak yang memberikan rasa senang akan membuat anak merasakan tempat penitipan sebagai rumah mereka sendiri. Pusat belanja shopping center yang memberikan rasa senang akan membuat pembeli menyerbu tempat tersebut.

Salah seorang teman penulis mengatakan bahwa banyak orang yang mampu membuat rumah mewah dan cantik, dan banyak stake holder yang mampu mendirikan sekolah dengan gedung yang indah dan megah, namun anggota keluarga enggan untuk berada dalam rumah atau anak didik jadi malas berlama-lama berada di sekolah.

Penyebabnya adalah karena di sana tidak ada rasa senang atau feeling fun. Benar bahwa cukup banyak orang yang bosan berada di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat pelatihan, di tempat klub lainnya.

Penyebabnya adalah karena di sana miskin dengan suasana yang menyenangkan. Rumah kayu yang sudah tua bisa terasa sangat menarik karena di sana ada rasa senang yang dikondisikan oleh pemilik rumah dari pada tinggal di rumah megah.

Namun di sana penuh dengan keangkuhan, kemarahan dan tekanan terhadap perasaan. Sekolah megah atau pusat bimbingan belajar yang mewah tidak ada gunanya kalau di sana tidak ada keramahtamahan dan rasa senang.

Faktor manusia adalah faktor penentu bahwa rasa senang bisa hadir atau tidak. Rasa senang yang ada selanjutnya akan membuat warga atau peserta suatu kegiatan menjadi kreatif tidak pasif.

Pedagang, walaupun ia cantik atau tampan dan dibaluti oleh busana yang sangat bagus, namun berlaku kasar kepada pembeli/pengunjung, maka tunggulah bahwa dagangannya bakal tidak laris.

Guru dan pekerja sosial yang memberikan jasa pelayanan pada orang lain. Bila tidak ramah/bersikap kasar, maka nasibnya akan sama dengan pedagang yang berkarakter kasar, yaitu menjadi guru dan pekerja sosial yang tidak disenangi oleh orang lain (anak didik atau client mereka).

Guru yang cuma mengejar target kurikulum, sekedar tugas mengajar, dan mengabaikan perasaan anak didik akan membuat guru tersebut (juga mata pelajarannya) menjadi sangat tidak menarik, kreativitas anak didik akan tidak berkembang.

Kemudian orangtua yang hanya banyak berharap agar anak bersikap manis dan patuh, namun kurang memahami perasaan anak, tentu akan menjadi orangtua yang tidak menarik dan rumah sendiri tidak pernah memberikan rasa senang, begitu pula dengan sang anak akan tidak kreatif dan suka bengong.

Rasa senang atau feeling fun bisa diciptakan oleh orangtua, guru dan pemimpin dari suatu instansi. Pemimpin yang hanya pintar memonitor, merencanakan program dan melakukan evaluasi serta berharap banyak tanpa mampu bersimpati dan berempati akan berpotensi dalam menciptakan kantor, perusahaan dan instansi yang sangat tidak menyenangkan.

Pada akhirnya bawahannya akan tidak kreatif kecuali hanya sekedar bermental ABS alias Asal Bapak Senang atau karyawan yang bermental Oke Boss. Sebuah instansi dengan boss yang membanggakan powernya dalam menjalankan kepemimpinannya.

Kemudian membuat jarak sosial dan jual mahal untuk tersenyum dengan harapan agar bawahan jadi segan dan risih untuk mendekat. Namun apa yang diharapkan adalah bukan prestasi dan produktivitas yang tinggi, tetapi yang terjadi adalah bawahan yang serba pasif dan tidak kreatifitas.

Pemimpin seperti ini harus berfikir untuk segera mengundurkan diri sebagai pemimpin atau segera mengubah karakter agar bisa menciptakan rasa senang di lingkungan kerjanya. (***) Editor : Novitri Selvia
#Kreativitas Belajar Siswa #Marjohan #Suasana Fun