Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

BBM Meningkat Sekolah Maju

Novitri Selvia • Selasa, 27 September 2022 | 11:58 WIB
Alfi Hidayati KEPALA SMA NEGERI 1 PADANGGANTING
Alfi Hidayati KEPALA SMA NEGERI 1 PADANGGANTING
BBM meningkat, sekolah maju, kok bisa begitu ya? Padahal fakta yang terjadi di
masyarakat adalah ketika harga BBM naik, maka seluruh kebutuhan hidup sampai kebutuhan dalam dunia pendidikan akan meningkat. Apakah dengan harga BBM naik sekolah akan maju?.

Belum tentu. Tetapi dari judul di atas, menimbulkan pertanyaan apakah BBM adalah singkatan dari Bahan Bakar Minyak ataukah ada istilah lain yang artinya berbeda pula?
Baiklah.

Agar pembaca tidak bingung, penulis akan menyampaikan apa arti singkatan BBM dari judul di atas sehingga mengakibatkan sekolah menjadi maju. B yang pertama adalah singkatan dari Belajar. Belajar adalah hak semua warga negara yang bisa didapatkan baik secara formal di sekolah maupun nonformal di luar sekolah.

Apalagi pada era 4.0 di mana ilmu dan pengetahuan bisa didapatkan secara online dan tidak hanya tergantung dari yang diberikan guru di sekolah saja, sehingga guru pada zaman sekarang bukan lagi satu-satunya sumber ilmu bagi siswa.

Guru pada era 4.0 berperan sebagai fasilitator, coach dan tauladan bagi siswa (khusus untuk pembahasan tentang coach, akan penulis bahas pada artikel selanjutnya). Sebagai fasilitator guru harus mempersiapkan semua pembelajaran yang akan dilaksanakan siswa, dan tentunya untuk mempersiapkan itu semua guru juga harus belajar.

Belajar membuat modul yang menarik dan sesuai karakteristik siswa atau belajar membuat slide yang bagus dan menarik dengan menggunakan aplikasi yang ada. Guru bisa menggunakan microsoft office power point, google document, atau canva. Selain itu guru juga belajar mempersiapkan video yang menarik dan mampu merangsang nalar kritis siswa.

Guru juga bisa men-download yang sudah ada disediakan di youtube, atau menggabung beberapa video yang didownload dan atau membuat sendiri video sesuai tuntutan dari materi yang akan dikuasai siswa.

Di sinilah peran dari guru sebagai Guru penggerak yang sudah penulis sampaikan pada artikel sebelumnya (Guru Biasa, Luar Biasa, atau Guru Penggerak yang terbit di Padang Ekspres pada edisi Selasa, 30 Agustus 2022).

Guru biasa hanya menyampaikan materi pelajaran di depan kelas dengan metode ceramah serta tidak begitu memperhatikan apakah materi tersebut dapat dipahami dan dikuasai siswa (jika nilai UH diatas KKM, dikatakan siswa telah menguasai materi). Guru biasa juga kurang peduli apakah materi yang disampaikan mampu menjawab masalah hidup siswa dan tantangan pada zaman sekarang.

Sedangkan yang diinginkan siswa pada saat sekarang adalah guru penggerak yang bisa memahami karakteristik siswa, guru yang mampu membelajarkan siswa berdasarkan perbedaan gaya belajar siswa dan guru yang mampu menyajikan pembelajaran yang menarik minat siswa. Jika siswa sudah tertarik maka nalar kritis, rasa ingin tahu dan kreatifitas siswa akan muncul dengan sendirinya.

Pada saat inilah guru akan bertindak sebagai fasilitator, memfasilitasi siswa untuk menemukan sendiri materi yang harus dikuasai siswa sehingga mampu menjawab permasalahannya sendiri dan mampu bersaing terhadap tantangan pada zaman sekarang.

Akhirnya penulis bisa simpulkan bahwa guru harus bisa mempersiapkan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa dengan semaksimal mungkin dengan cara selalu belajar terhadap metode pembelajaran yang sesuai karakteristik siswa dan karakteristik materi.

Guru juga harus belajar mempersiapkan modul, slide dan video yang menarik minat siswa untuk mengikuti pembelajaran yang menghasilkan siswa yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, bisa bekerja sama, berakhlak mulia dengan selalu menghargai guru, teman, orang lain dan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Dampak yang diharapkan adalah profil pelajar pancasila yang bisa menjadi karakter dari lulusan dan tentunya bisa meningkatkan mutu siswa dan memajukan sebuah sekolah. B yang kedua adalah singkatan dari Bersatu. Sebagaimana sudah tercantum dalam peribahasa yaitu Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, sangat relevan sekali dengan topik ini.

Untuk memajukan sekolah selain B yang pertama diatas yaitu Belajar, baik guru, siswa dan seluruh warga sekolah, harus bersatu untuk memajukan sekolah. Tidak akan punya nilai apabila program yang dibuat sekolah sangat bagus, sarana prasarana sangat lengkap, keuangan sekolah mendukung, tetapi semua warga sekolah tidak bersatu.

Tidak hanya sesama warga sekolah harus bersatu tetapi juga dengan seluruh elemen masyarakat seperti dinas pendidikan, alumni, pemerhati pendidikan, Forkopimca, dan lembaga lain yang terkait dengan dunia pendidikan.

Penulis sebagai kepala SMAN 1 Padangganting sangat merasakan hasil dari bersatunya semua elemen yang ada di sekolah dan diluar sekolah untuk memajukan sekolah.

Contoh ketika sekolah sudah membuat program dibidang akademik dan non akademik, didiskusikan sarana prasarana pendukung semua program, dimasukkan dalam RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah), RKJM (Rencana Kegiatan Jangka Menengah) dan RKT (Rencana Kegiatan Tahunan) sekolah.

Program tersebut disosialisasikan kepada seluruh warga sekolah dan dilaksanakan sesuai program yang dimotivasi oleh kepala sekolah dan melibatkan orang tua serta pemerhati pendidikan. Hasilnya tentu akan sesuai dengan yang rencanakan dan sekolah tentu akan semakin maju.

Sedangkan singkatan dari M adalah Merdeka. Merdeka untuk kemajuan sekolah bukanlah merdeka sebebas-bebasnya sesuai keinginan guru dan siswa. Guru mengajar pakai panduan atau tidak, mengajar sesuai tuntutan kurikulum atau tidak, masuk kelas untuk belajar bersama guru dalam kelas atau tidak masuk, bukan itu substansinya.

Merdeka disini artinya guru merdeka dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai capaian pembelajaran yang sudah diatur kurikulum, sesuai karakteristik sekolah, karakteristik siswa dan karakteristik lingkungan sekolah.

Begitu juga dengan siswa. Siswa merdeka dalam mengemukakan pendapatnya dalam belajar, merdeka mendapatkan pembelajaran sesuai dengan gaya belajarnya (visual, audio ataukah kinestetik). Siswa merdeka dalam berkreatifitas dan merdeka dalam menuntaskan rasa ingin tahunya terhadap pembelajaran dengan belajar dari sumber apa saja.

Peran guru disini adalah sebagai fasilitator hebat yang bisa membimbing siswa menjadi pribadi tangguh sesuai harapan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 yaitu membentuk siswa yang beriman bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Melalui semangat BBM (Belajar, Bersatu, dan Merdeka) yang kualitasnya selalu meningkat, diharapkan sekolah semakin maju dan juga akan semakin berkualitas. Semua itu akan terwujud kalau semua komponen tidak berhenti belajar, bergerak seayun selangkah dan melaksanakan tupoksi dengan nyaman sesuai aturan. Jadi tidak ada yang kita takutkan dengan BBM naik kan?(***) Editor : Novitri Selvia
#BBM Meningkat Sekolah Maju #Alfi Hidayati