Tanpa kita sadari bahwa dampak dari sikap dan tingkah laku kita sebagai orang tua tidak terlihat sewaktu kita melakukannya. Melainkan akan terlihat mungkin satu bulan ke depan, tahun depan, bisa jadi beberapa tahun kemudian atau setelah puluhan tahun mendatang.
Ada sebuah kisah tentang satu keluarga yang memiliki tiga orang anak laki–laki. Mereka menganggap tindakan yang telah dilakukan kepada ketiga anaknya itu sudah benar. Kini setelah puluhan tahun, ketika dia sudah tak dapat lagi memperbaikinya, baru dia menyadari betapa kelirunya tindakan dan perlakuan yang telah dilakukannya.
Orang tua pasti tidak suka mendengar anak–anaknya “berkelahi”. Oleh karena itu, dia selalu mengusahakan untuk tidak terjadi konflik di antara mereka, orang tua selalu memberikan dan menyediakan semuanya serba tiga mulai dari mereka kecil sampai dewasa.
Ketika kecil, agar tidak berebut, apapun yang dibeli orang tua untuk anak–anaknya selalu tiga, baik makanan maupun mainan. Ketika mereka sudah bisa tidur terpisah, orang tuanya membuatkan tiga kamar yang berbeda, dengan perlengkapan tersendiri.
Waktu kecil, anak–anak mereka dibelikan sepeda. Waktu anak-anaknya menginjak remaja pun mereka ingin memiliki motor sendiri–sendiri, begitu juga dengan perangkat komputer. Terakhir mereka minta di belikan mobil satu–satu.
Meski berat, sebagai orang tua tetap berusaha untuk membelikan tiga mobil sekaligus dalam waktu yang yang hampir bersamaan. Sesuatu yang awal nya kami pikir tidak menimbulkan masalah, ternyata berdampak serius bagi kehidupan mereka kemudian hari.
Ini kami rasakan betul ketika kami sudah beranjak tua, ketika mereka sudah berkeluarga dan mandiri. Meskipun mereka saudara kandung, tak ada kedekatan di antara mereka. Kehidupan mereka berjalan dengan sendiri–sendiri sehingga mereka pun jarang untuk salin tolong–menolong.
Ketika salah satu di antara mereka membutuhkan pertolongan, yang lain seakan tidak peduli. Dulunya orang tua ini adalah pasangan suami istri yang terlalu asyik untuk bekerja. Kami pikir yang kami lakukan itu adalah yang terbaik untuk mereka, demi memenuhi kebutuhan mereka.
Namun, kami melupakan kebutuhan emosi dan pendidikan karakter mereka. Yang paling kami sedih kami rasakan selaku orang tua kandung dari mereka anak-anak kami, kepada kami pun selaku orang tuanya mereka kurang peduli.
Bahkan ketika kami makin tua, yang membutuhkan perhatian dan pertolongan dan kasih sayang dari mereka tetapi mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Pengalaman nyata yang di alami oleh salah satu keluarga di kota metropolitan di atas, mengingatkan kita akan arti pentingnya berbagi sejak usia dini.
Sering kali orang tua dengan segala fasilitas yang dimilikinya, menyelesaikan atau menghindari konflik dengan cara instan, tanpa memikirkan akibatnya. Dengan selalu memberi barang masing–masing pada tiap anak, membuat mereka kurang memiliki pengalaman berbagi.
Karena anak sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa harus bersusah payah dan tanpa harus memberi sesuatu pada orang lain, apa yang diinginkannya selalu terpenuhi dan tersedia. Dengan berbagi, walaupun berpotensi menimbulkan masalah membuat anak–anak belajar dan merasakan banyak hal.
Berbagi membuat anak merasakan indahnya kasih sayang, belajar menunda kepuasan dan belajar berempati. Dengan kata lain berbagi itu harus menjadi pembiasaan sedari kecil supaya menjadi kebiasaan di kemudian hari.
Kisah di atas memberikan pelajaran bahwa jika sejak kecil anak tidak dibiasakan berbagi, maka sampai dewasa dia akan sulit untuk menolong. Mari lah sama–sama kita coba menerapkan di lingkungan keluarga kita terutama anak–anak kita supaya kelak menjadi anak–anak yang membanggakan orang banyak terutama kita sebagai orang tuanya. Salam Literasi. (Wewet Anggraini, SPd.SD, GURU UPTD SDN 05 TARAM) Editor : Novitri Selvia