Jika berilmu saja, tidak dibarengi dengan akhlak yang “Akhlakul Karimah” (sifat yang terpuji), tentunya membuat kepribadian menjadi rapuh dan mudah terpengaruhi dengan tipu daya kehidupan di muka bumi ini.
Beranjak dari hal tersebut, penguatan nilai-nilai karakter sangat perlu ditanamkan sejak dini kepada siswa. Sekolah merupakan wadah, pembentukan nilai-nilai karakter tersebut. Seorang pendidik berperan aktif dalam membina perilaku anak bangsa yang tumbuhberkembang mengikuti perkembangan zaman.
Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa peran pendidik adalah menuntun kebebasan anak untuk mencapai kebahagiaan lahir batin dan keselamatan anak sesuai dengan kodratnya masing-masing Kita sebagai guru, dihadapkan dengan persoalan yang mendasar terhadap karakhter anak didik.
Bagaimana upaya kita dalam mempertebal karakter mereka? Tentunya bukan perkara yang mudah, karena lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku anak. Tentunya perlu kerjasama yang sinergis pihak sekolah dengan lingkungan keluarga siswa.
Berbicara tentang karakter, erat hubungan dengan disiplin positif. Disiplin positif adalah proses pendisiplinan terhadap anak tanpa memberikan ancaman atau memberikan hukuman. Dengan menerapkan disiplin positif, guru dapat meningkatkan kesadaran siswa dalam membentuk karakter yang positif.
Dalam penerapannya, disiplin positif dapat dibuat melalui kesepakatan antara guru dengan siswa karena guru ingin membuat siswa terlibat dan bertanggung jawab dalam menjalankan disiplin tersebut. Selain itu dengan menerapkan disiplin positif, pendidik dapat mengembangkan pendidikan karakter siswa sehingga terwujud budaya positif di satuan pendidikan.
Di dalam pengelolaan kinerja guru di Platform Merdeka Belajar (PMM), terdapat fitur pengisian disiplin positif yang merupakan salah satu indikator prioritas pada rapor pendidikan sekolah. Indikator penerapan disiplin positif membuat banyak guru menjadi penasaran, seperti apa maksudnya dan bagaimana cara menerapkannya.
Pada PMM, periode observasi kelas dan diskusi tindak lanjut dilakukan pada bulan Maret 2024. Tentunya para sudah mempersiapkan perangkat mengajarnya yang siap diuploud di PMM.
Ada beberapa perilaku yang diobservasi, yaitu yang pertama, guru melakukan refleksi dinamika kelas untuk menerapkan kesepakatan kelas, yang kedua, guru melakukan penguatan positif terhadap perilaku yang sesuai, dan yang ketiga, guru memfasilitasi peserta didik menyadari konsekuensi dan memperbaiki perilaku melanggarnya (restitusi). Ketiga perilaku ini, terintegrasi nantinya di dalam perangkat mengajar guru.
Sebenarnya, penerapan budaya positif sudah dilaksanakan oleh guru di dalam pembelajaran namun, tidak tertuang di dalam perangkat mengajar. Dengan mengintegrasikan disiplin positif dalam pemebelajaran, tentunya akan mepertebal karakter siswa nantinya.
Dalam praktiknya, disiplin positif melibatkan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak tentang perilaku yang efektif untuk membantu anak memahami konsekuensi dari perilaku mereka. Bagaimanakah cara kita sebagai pendidik menerapkan disiplin positif kepada siswa?
Jawabanya adalah sebagai berikut : (1) Membuat kesepakatan kelas secara bersama. Pendidik melakukan diskusi dengan siswa perihal kesepakatan kelas yang diptuskan secara bersama-sama di dalam kelas. Buatlah aturan yang singkat, mudah dimengerti.
Kesepakatan bersama yang dipraktikkan akan mendorong anak melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik dan teratur, yang menjadi modal penting dalam menumbuhkan sikap disiplin. Namun yang perlu diingat, memberikan konsekuensi haruslah terarah dan masuk akal. Bukan dengan kekerasan.
Berikan penjelasan dan alasan yang tepat mengenai konsekuensi yang diterima si Kecil saat melanggar aturan agar si Kecil belajar memahami sebab-akibat dan belajar tentang tanggung jawab. Berikan juga kesempatan kepada anak untuk belajar dari kesalahan.
Kemudian, (2) memberikan pujian. Dalam menerapkan disiplin positif, pujian yang tepat menjadi alat disiplin yang baik karena memberikan pengalaman belajar. Dengan cara ini, anak akan termotivasi untuk terus selalu berperilaku baik.
Ketika siswa mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik, maka berikan apresiasi kepadanya sebagai bentuk penguatan karakter sehingga mereka merasa dihargai dan bangga.
Penelitian menunjukkan bahwa jika anak dipuji atas apa yang telah mereka lakukan dengan benar, maka mereka cenderung akan melakukan hal yang sama lagi. Tindakan ini tentu saja bisa dikatakan efektif untuk dilakukan oleh guru dan orang tua di rumah.
Lalu, (3) menjalin komunikasi yang baik. Salah satu caranya yakni dengan memberikan kesempatan anak untuk berbicara dan mengekspresikan pikiran serta perasaannya. Dengan menjadi pendengar yang baik, Mama akan membuat anak merasa pendapat dan perasaannya dihargai dan didengar dengan baik, (4) Melakukan.
Segitiga restitusi , merupakan salah satu cara memperbaiki diri untuk mewujudkan disiplin diri. Segitiga restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahannya sehingga karakter mereka lebih kuat ketika kembali pada kelompoknya.
Restitusi membantu murid untuk jujur pada dirinya sendiri dan mengevaluasi dampak dari kesalahan yang dilakukan. Restitusi memberikan penawaran bukan paksaan.
Sangat penting bagi guru menciptakan kondisi yang membuat siswa bersedia menyelesaikan masalahnya dan berbuat lebih baik lagi. Mengajar anak bangsa merupakan tuntutan hati nurani sebagai pendidik dengan sepenuh hati untuk menuntunnya menjadi lebih baik.
Tentunya bukan segi ilmu saja yang diberikan kepada mereka, namun penebalan nilai- nilai karakter juga menjadi hal yang penting dalam pembelajaran agar menjadi anak yang cerdas dan berkarakter yanga kuat. Mudah-mudahan pemaparan di atas bermanfaat bagi pembaca. Wasalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarrakatu. (Irma Yenni, M. Pd, GURU SMPN 5 PADANG)
Editor : Novitri Selvia