Sedangkan dampak negatifnya bisa berupa kehilangan identitas atau jati diri sebagai bangsa yang beradat dan berbudaya. Sebab banyaknya pengaruh dari dunia luar atau budaya asing terhadap kita. Hal ini terlihat dari kurangnya minat generasi muda atau generasi z untuk menggali dan mempelajari budaya sendiri, seperti mempelajari musik dan alat musik tradisional.
Generasi Z lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam dengan gawai-nya dibandingkan dengan mempelajari musik tradisional.
Mereka menganggap alat dan musik tradisional itu sudah kuno, tidak lagi relevan dengan zaman era digital saat ini.
Tingkat antusiasme generasi Z terhadap musik modern sangat tinggi. Buktinya adalah penuh sesaknya konser-konser musik modern, baik di kota maupun desa. Apalagi konser dari artis-artis asal Korea alias K-POP.
Lantas apa yang akan terjadi dengan musik tradisional jika hal ini dibiarkan? Apakah alat musik dan musik tradisional akan punah atau hilang ditelan zaman? Jelas kita tidak menginginkan hal demikian terjadi.
Salah satu alat musik tradisional yang sudah mulai ditinggalkan adalah Talempong dan pupuik sarunai oleh generasi z. Talempong merupakan alat musik tradisional khas dari Minangkabau yang terbuat dari bahan besi dan tembaga.
Dimainkan dengan cara dipukul menggunakan stik atau tongkat yang terbuat dari kayu. Sedangkan pupuik sarunai terbuat dari buluah (bambu kecil) yang diberi lubang dan corong dari tanduak kabau (tanduk kerbau) di ujungnya.
Memainkan pupuik sarunai dengan cara ditiup. Talempong dan pupuik sarunai biasa dipakai untuk kegiatan adat, seperti mengiringi tari pasambahan dalam menyambut tamu adat atau tamu kehormatan dalam tradisi Minang.
Namun sekarang Talempong dan pupuik sarunai jarang dimainkan secara langsung, melainkan hanya memakai instrumen musik yang sudah jadi atau direkam dan dibunyikan melalui pengeras suara. Sebab, orang yang pandai memainkan alat musik tersebut sudah mulai jarang.
Upaya menjaga dan melestarikan musik tradisional dengan memperkenalkannya kepada generasi Z melalui kegiatan kesenian. Hal ini yang dilakukan di SMP Negeri 32 Solok Selatan. Salah satu ekstrakurikuler unggulan di sekolah ini adalah ekstrakurikuler kesenian.
Yang langsung dibina oleh guru kesenian SMP Negeri 32 Solok Selatan, Milasari Handayani, lulusan ISI Padang Panjang. Program yang menjadi prioritas ekstrakurikuler kesenian adalah musik tradisional.
Disamping dibina oleh guru kesenian, SMPN 32 Solok Selatan juga mendatangkan praktisi dan pakar musik tradisional dari luar, yaitu Hafiz Kurniawan. Setiap hari Sabtu, peserta didik diberikan keterampilan memainkan alat musik tradisional.
Peserta didik juga diberikan motivasi agar selalu melestarikan budaya sendiri. Siapa lagi yang akan mencintai budaya sendiri, kalau bukan kita. Ketika peserta didik sudah mahir memainkan alat musik tradisional, maka akan mendatangkan manfaat bagi mereka.
Mereka akan diminta menjadi pengiring musik di acara sekolah dan tidak tertutup kemungkinan untuk mengisi acara-acara besar yang diadakan oleh instansi pemerintahan. Tentu hal ini akan meningkatkan personal branding peserta didik dan nama baik sekolah, serta melestarikan musik tradisional secara tidak langsung.
Musik tradisional masih relevan dengan hari ini dan bisa menghasilkan cuan. Darak Badarak telah membuktikan. Darak Badarak sebagai sanggar kesenian di Pariaman menjadi runner-up di ajang Indonesia’s Got Talent tahun 2023 kemarin.
Mereka menunjukkan musik tradisional bisa bersaing dengan musik modern. Musik tradisional yang dikemas dengan baik bisa disenangi oleh para pedengarnya. Dengan catatan tanpa menghilangkan ciri khasnya sebagai budaya bangsa.
Semoga sekolah-sekolah lain bisa melestarikan musik tradisional melalui kegiatan ekstrakurikuler, sehingga peserta didik sebagai generasi z bisa mencintai dan menyenangi musik tradisional. Pada akhirnya musik tradisional tetap eksis dan tidak hilang di telan zaman. Aamiin.(Rezi Rahmat, M.Pd, WAKIL KEPALA SMPN 32 SOLOK SELATAN)
Editor : Novitri Selvia