Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 05 Mungo, Optimalkan Pemanfaatan Aset Demi Kualitas Pendidikan

Novitri Selvia • Rabu, 6 Maret 2024 | 14:01 WIB

DEKAT: Para guru SDN 05 Mungo terlihat akrab dengan kepala sekolah yang baru.(TIM LAMAN GURU)
DEKAT: Para guru SDN 05 Mungo terlihat akrab dengan kepala sekolah yang baru.(TIM LAMAN GURU)
Sekecil apapun potensi yang dimiliki sekolah merupakan aset yang sangat berharga untuk dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan. Sumber daya yang dikelola dengan pengelolaan yang cerdas akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar.

Tentunya tidak lepas dari pengelolaan yang terukur dan terarah sesuai dengan kekuatan yang dimiliki sekolah. Kekuatan tersebut akan bisa diketahui jika dilakukan pemetaan yang benar dan terfokus pada sumber tersebut.

Sekolah memiliki berbagai sumber daya , yaitu sumber daya manusia dan sumber daya lingkungan yang merupakan aset bagi sekolah untuk bisa berkembang. Terdapat tujuh sumber daya yang terdiri dari modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, modal agama dan budaya.

Pengembangan komunitas berbasis aset adalah langkah yang paling efektif dan relevan untuk dikembangkan dalam sebuah komunitas sekolah. Langkah ini nantinya akan memadukan dua kekuatan yang bersumber dari kekuatan sumber daya manusia (biotik) dan kekuatan yang bersumber dari lingkungan fisik (abiotik).

Jika kedua kekuatan ini dipadukan maka akan akan dapat dijadikan sebuah dasar dalam mengelola sebuah komunitas sekolah agar dapat berkembang dan memiliki nilai keunikan sendiri.

Menurut Green & Haine (2010) dalam Modul Pembelajaran 3.2 Calon Guru Penggerak, terdapat perbedaan yang jelas antara sekolah yang menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan sekolah yang menggunakan pendekatan berbasis aset.

Perbedaan tersebut adalah sekolah berbasis kekurangan/masalah/hambatan, mempunyai ciri-ciri, (1) fokus pada masalah dan isu, (2) berkutat pada masalah utama, (3) mengidentifikasi kebutuhan dan kekurangan,selalu bertanya apa yang kurang, (4) fokus mencari bantuan dari sponsor atau institusi lain, (5)merancang program atau proyek untuk menyelesaikan masalah dan (6) mengatur kelompok yang dapat melaksanakan proyek.

Disisi lain, berbeda halnya dengan sekolah yang berbasis pada aset. Sekolah ini memiliki ciri-ciri: (1) fokus pada kekuatan, (2) mengembangkan masa depan, (3) berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih, dan kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, (4) mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan), (5) merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, dan (6) melaksanakan rencana aksi yang telah diprogramkan.

Pengembangan komunitas yang ada di sekolah adalah sebagai sebuah tujuan untuk mengembangkan sekolah bukan sebagai penerima, tetapi sebagai pelaksana dari pengembangan aset tersebut dengan program yang telah disusun berdasarkan pemetaan.

Sekolah yang memanfaatkan hasil pemetaan sumber daya, akan memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekolah menjadi aset dan kekuatan sebagai dasar untuk mengembangkan sekolahnya, dengan tidak selalu memikirkan kekurangan.

Atas dasar itulah sebagai kepala sekolah baru di UPTD SDN 05 Mungo Kecamatan Luak, langkah pertama yang saya lakukan adalah memetakan aset yang ada di sekolah.

Kemudian menyusun program untuk mewujudkan visi dan misi sekolah, dengan memberdayakan aset yang ada, baik aset manusia maupun aset lingkungan alam. Dengan pemetaan aset ini diharapkan pemanfaatan semua potensi yang ada di sekolah akan optimal untuk perkembangan pendidikan.(Anariska, S.Pd, KEPALA SDN 05 MUNGO)

Editor : Novitri Selvia
#Pemanfaatan Aset #Anariska #SDN 05 MUNGO