Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 41 Lubukminturun: Ramadhan, Bulan Penaklukan Nafsu

Novitri Selvia • Senin, 25 Maret 2024 | 10:10 WIB

Jias Mengki, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)
Jias Mengki, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)
Ramadhan bulan penuh berkah dan ampunan, kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menaklukkan nafsu. Nafsu adalah dorongan dalam diri manusia yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa. 

Dalam Islam, terdapat beberapa jenis nafsu yang perlu dikendalikan, di antaranya, pertama, nafsu amarah. Adalah nafsu negatif yang secara spiritual mendorong manusia untuk merasakan kemarahan, kesal, dan dendam terhadap orang lain.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 134, “Orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di jalan Allah, baik di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah (marah), dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.

Dalam konteks ini, menahan amarah adalah tindakan yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena kemarahan yang tidak terkendali seringkali menghasilkan tindakan yang tidak baik dan merugikan diri sendiri serta orang lain.

Kedua, Nafsu lawwamah. Adalah dorongan dalam diri manusia yang mendorong untuk melakukan perbuatan tercela seperti berbohong, menipu, atau mencuri. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyamah ayat 2-3, Allah berfirman, “Dan aku bersaksi atas diri yang menyalahkan dirinya sendiri. (Yaitu) apakah manusia menyangka bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangnya?”.

Ayat ini menggambarkan keadaan manusia yang memiliki kesadaran diri yang kritis terhadap perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukannya. Nafsu lawwamah membawa peringatan dan penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan, dan merupakan panggilan untuk bertobat dan memperbaiki diri menuju jalan yang benar. 

Yang diajurkan untuk diterapkan dalam diri adalah nafsu Mutmainnah. Adalah kekuatan dalam diri manusia yang mengarahkannya pada perbuatan baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika seseorang memiliki nafsu mutmainnah, ia merasakan kedamaian dan kepuasan batin karena tindakannya sesuai dengan nilai-nilai spiritual dan moral yang dianjurkan dalam agama.

Dalil yang menegaskan keberadaan nafsu mutmainnah ini dapat ditemukan dalam Al-Quran surat An-Najm ayat 32, di mana Allah SWT berfirman, “Maka berilah perhatian kepada al-Qur’an itu, dan tidak mungkin kamu berkehendak kepada sesuatu, kecuali dengan kehendak Allah, Tuhan semesta alam.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kehendak yang berasal dari nafsu seseorang seharusnya selaras dengan kehendak Allah SWT, yang mencerminkan nafsu mutmainnah yang mendukung perbuatan baik dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pada bulan Ramadhan, umat Islam diajarkan untuk mengendalikan nafsu amarah dan lawwamah, dan meningkatkan nafsu mutmainnah. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti, pertama, puasa.

Selain membantu mengendalikan hawa nafsu dan meningkatkan kesabaran, puasa juga memberikan pelajaran tentang empati dan pengertian terhadap orang-orang yang kurang beruntung. Dalam proses menahan lapar dan dahaga selama puasa, seseorang dapat merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan makanan dan minuman.

Hal ini membuka mata dan hati kita terhadap penderitaan orang lain yang mungkin mengalami kekurangan pangan setiap hari.
Kedua, Salat Tarawih dan Tadarus Al-Quran. Memperbanyak ibadah dapat membantu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan keimanan.

Dengan memperbanyak ibadah seperti ini, seseorang dapat memperkuat ikatan spiritualnya dengan Allah SWT dan merasakan peningkatan keimanan yang mendalam. Dalil yang menegaskan pentingnya memperbanyak ibadah ini dapat ditemukan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183, di mana Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Ayat ini menegaskan bahwa puasa, sholat, dan Tadarus Al-Quran adalah bagian dari kewajiban umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meningkatkan keimanan.

Dengan memperbanyak ibadah ini, seseorang dapat mencapai tingkat keimanan yang lebih tinggi dan mendapatkan ridha Allah SWT. Ketiga, Zakat dan Sedekah. Dengan memberikan zakat dan sedekah, seseorang dapat membersihkan hatinya dari sifat kikir dan pelit.

Hal ini karena tindakan memberikan tersebut mengajarkan pemiliknya untuk melepaskan cengkeraman terhadap harta benda dan memperluas hati mereka terhadap kebutuhan orang lain. Dengan demikian, mereka belajar untuk menjadi lebih dermawan, peduli, dan penuh empati terhadap kondisi sesama manusia.

Keempat, Menjaga Lisan dan Perbuatan. Menghindari berkata kasar, berbohong, dan melakukan perbuatan tercela dapat membantu menjaga hati dan pikiran tetap bersih. Menaklukkan nafsu adalah suatu upaya yang sangat penting dalam pengembangan diri spiritual dan moral.

Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa menundukkan nafsu adalah salah satu kunci untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sejati dalam hidup ini maupun di akhirat. Dalil yang terdapat dalam Al-Quran Surah Al-Syams ayat 7-10 menyatakan,

“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q. S. al-Syams [91]”.

Dalil ini mengisyaratkan bahwa manusia diberikan kebebasan memilih antara kejahatan dan kebaikan. Dengan menaklukkan nafsu, seseorang mampu memilih jalan kebaikan yang akan membawa keberkahan dalam kehidupannya. Selain itu, menaklukkan nafsu juga membawa manfaat dalam pembentukan karakter yang kuat dan bermoral.

Rasulullah SAW berkata bahwa orang yang paling kuat bukanlah yang paling pandai bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah. Ini menunjukkan bahwa kesabaran dan pengendalian diri dalam menghadapi godaan nafsu adalah tanda kekuatan sejati.

Dengan menaklukkan nafsu, seseorang dapat mengembangkan sifat-sifat mulia seperti kesabaran, keteguhan, dan kejujuran, yang merupakan pondasi bagi pembentukan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.Terima Kasih, semoga bermanfaat. (Jias Mengki, MA, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN)

Editor : Novitri Selvia
#ramadhan #SD Negeri 41 Lubukminturun #Jias Mengki #Penaklukan Nafsu