Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 41 Lubukminturun: Tawuran No, Study Yes

Novitri Selvia • Senin, 8 Juli 2024 | 11:52 WIB

Jias Mengki, MA, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)
Jias Mengki, MA, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN.(TIM LAMAN GURU)


PADEK.JAWAPOS.COM-Tawuran atau bentrokan massal antara kelompok remaja dan pelajar, telah menjadi masalah yang mengkhawatirkan di berbagai wilayah di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya mencemari dunia pendidikan, tetapi juga merusak tatanan sosial. Dengan meningkatnya insiden tawuran, kita perlu menjawab pertanyaan penting “mengapa tawuran lebih menarik bagi mereka dibandingkan study yang serius?

Penyebab Tawuran

Untuk memahami penyebab tawuran, kita harus melihat beberapa faktor utama. Pertama, lingkungan sangat mempengaruhi perilaku remaja dan pelajar. Siswa yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan dan minim pengawasan dari berbagai pihak sehingga cenderung terlibat dalam tindakan agresif seperti tawuran. Lingkungan yang tidak mendukung ini dapat memperburuk kondisi mental dan emosionalnya, membuat mereka lebih rentan terhadap tindakan kekerasan.

Kedua, tekanan dari teman sebaya menjadi faktor yang signifikan. Dalam upaya untuk mendapatkan pengakuan dan diterima dalam kelompok tertentu, banyak remaja dan siswa yang terpaksa ikut dalam tawuran. Tekanan ini sering diperparah oleh media sosial yang mempromosikan kekerasan sebagai sesuatu yang keren dan heroik. Dengan akses mudah ke media sosial, video tawuran sering kali menjadi viral, memberikan dorongan tambahan bagi mereka untuk terlibat dalam perkelahian demi popularitas.

Dampak Tawuran

Dampak tawuran sangat merugikan, baik bagi individu maupun masyarakat. Bagi individu, tawuran bisa menyebabkan cedera fisik yang parah bahkan kematian. Selain itu, terlibat dalam tawuran dapat merusak masa depan akademis dan karier mereka. Siswa yang terlibat sering kali menerima hukuman berat dari sekolah, seperti skorsing atau dikeluarkan, yang sangat menghambat kemajuan pendidikan mereka.

Dari sudut pandang sosial, tawuran menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak mendukung proses belajar. Hal ini merusak reputasi sekolah dan komunitas setempat, serta menimbulkan ketidakpercayaan antara orang tua, siswa, dan pihak sekolah. Tawuran juga mengalihkan sumber daya yang seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, karena sekolah dan aparat keamanan harus memfokuskan upaya mereka pada penanganan dan pencegahan tawuran.

Secara Islami, tawuran sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan perdamaian, persaudaraan, dan saling menghormati. Islam mengajarkan pentingnya menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan mencegah pertikaian di antara sesama muslim. Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadits, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain; dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya dizhalimi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menekankan pentingnya menjaga keharmonisan dan saling melindungi di antara sesama muslim.

Menghindari tawuran juga sejalan dengan prinsip menjaga kesehatan dan keselamatan yang merupakan bagian dari maqasid syariah, yaitu tujuan-tujuan utama syariah dalam melindungi lima hal: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Dengan tidak terlibat dalam tawuran, individu dapat menjaga kesehatan fisik dan mental mereka, serta memastikan kelangsungan pendidikan dan masa depan mereka.

Solusi untuk Mengatasi Tawuran

Untuk mengatasi masalah tawuran, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Pertama, peran keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter dan moral kepada anak-anak. Orang tua perlu aktif dalam mendidik anak-anak mereka tentang pentingnya perdamaian, toleransi, dan kerjasama. Selain itu, orang tua juga harus memberikan perhatian lebih terhadap lingkungan pergaulan anak-anak mereka dan memastikan bahwa mereka tidak terlibat dalam kelompok-kelompok yang cenderung melakukan kekerasan.

Kedua, Metode pengajaran yang lebih interaktif dan partisipatif dapat membantu meningkatkan minat belajar siswa. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler yang positif, seperti olahraga, seni, dan klub sains, dapat menjadi alternatif bagi siswa untuk menyalurkan energi dan minat mereka dengan cara yang lebih konstruktif.

Peran guru juga sangat penting dalam upaya pencegahan tawuran. Guru harus lebih peka terhadap tanda-tanda awal kekerasan dan melakukan intervensi sedini mungkin. Mereka juga harus mampu membangun hubungan yang baik dengan siswa, sehingga siswa merasa nyaman untuk berbicara dan mencari bantuan ketika menghadapi masalah.

Ketiga, pemerintah dan lembaga terkait perlu bekerja sama dalam menciptakan kebijakan yang mendukung upaya pencegahan tawuran. Ini termasuk peningkatan keamanan di sekitar sekolah, penyediaan fasilitas yang memadai untuk kegiatan positif, serta pemberian sanksi yang tegas tetapi adil bagi pelaku tawuran. Selain itu, program-program sosial yang melibatkan komunitas juga dapat membantu mengurangi tawuran dengan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan saling mendukung.

Akhirnya, untuk menggantikan tawuran dengan belajar yang serius, diperlukan perubahan paradigma di kalangan siswa itu sendiri. Mereka perlu memahami bahwa pendidikan adalah kunci untuk masa depan yang lebih baik dan bahwa kekerasan tidak akan membawa manfaat. Motivasi intrinsik untuk belajar harus dibangun sejak dini, dan ini memerlukan peran aktif dari semua pihak: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Pelajar harus diberikan pemahaman bahwa keberhasilan akademis akan membuka lebih banyak peluang di masa depan, baik dalam hal karier maupun kehidupan pribadi. Mereka juga harus diajarkan bahwa keterampilan sosial dan emosional yang mereka kembangkan melalui belajar dan berinteraksi secara positif dengan orang lain akan lebih berguna dibandingkan dengan keterampilan fisik yang dikembangkan melalui kekerasan.(Jias Mengki, MA, GURU SDN 41 LUBUKMINTURUN)

Editor : Novitri Selvia
#tawuran #SD Negeri 41 Lubukminturun #Jias Mengki