PADEK.JAWAPOS.COM-Ada yang berbeda di UPT SDN 03 Pasie Laweh pada Jumat, 30 Agustus 2024. Di mana, kepsek, guru dan seluruh murid memakai pakaian minangkabau untuk hadir ke sekolah. Untuk yang padusi memakai baju kuruang atau Basiba.
Sedangkan laki–laki memakai baju Taluak Balango. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan kepada murid kebudayaan minangkabau.
Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan minangkabau sudah banyak ditinggalkan orang.
Terutama kaum muda dan anak–anak telah banyak mencontoh kebudayaan luar yang sangat bertentangan dengan kebudayaan minang. Pergaulan, tata karma, cara berbicara, cara berpakaian, sopan santun dan sebagainya sudah mulai meninggalkan cara minang kabau.
Di mana di minangkabau menganut falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Di mana adat di minangkabau berdasarkan kepada agama Islam dan agama Islam itu dijalankan berdasarkan Kitabullah.
Dengan kondisi seperti ini, UPT SDN 03 Pasie Laweh merasa terpanggil untuk bergerak melestarikan budaya minangkabau khususnya budaya nagari Pasie Laweh.
Tentunya dengan cara memasukkan pemangku adat nagari Pasie Laweh, untuk terlibat langsung dalam mengenalkan dan memberi pendidikan mengenai adat minangkabau kepada anak–anak, generasi penerus budaya minang yang khususnya belajar di UPT SDN 03 Pasie Laweh.
Program yang kami rancang bernama Hari Baradaik UPT SDN 03 Pasie Laweh. Kegiatannya dilaksanakan sekali sebulan pada hari Jumat minggu ke 4. Kegiatannya adalah menghadirkan pemangku adat ke sekolah dan memberikan materi–materi sesuai dengan yang di programkan.
Kegiatan dilaksanakan di mulai pukul 07.30 dan berakhir di pukul 08.00 WIB. Di pertemuan perdana ini, kami pihak sekolah menghadirkan seorang Datuak pucuak dari kaum piliang di nagari Pasie Laweh yaitu H Dt Paduko Sirajo.
Beliau juga sekaligus menjabat sebagai wali nagari Pasie Laweh. Beliau memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap pendidikan dan sekolah. Hal ini di buktikan dengan selalunya beliau mendukung semua program sekolah.
Pihak sekolah senantiasa berkolaborasi dengan komite dan pemerintahan nagari untuk selalu memberikan yang terbaik untuk mempersiapkan generasi–generasi hebat dalam menyonsong Indonesia Emas.
Tema yang kami usung untuk pertama ini adalah ambo bangga menjadi urang minang. Hal yang pertama di sampaikan oleh Dt Paduko Sirajo adalah berkenaan dengan sejarah berdirinya bangsa Indonesia.
Karena masih suasana bulan kemerdekaan beliau kembali membuka sejarah, bahwa bangsa Indonesia ini lahir berkat kegigihan para pejuang bangsa, semangat pantang menyerah dan berserah diri kepada Allah.
Banyak para pejuang itu berasal dari Sumatera Barat. Bahkan ada yang digelari sebagai bapak pendiri bangsa dan proklamator Indonesia. Semua pejuang itu juga berasal dari keluarga biasa dan belajar di surau.
Tetapi dengan semangat yang membara mereka bisa mengusir penjajah. Maka sepatutnyalah kita bangga bisa menjadi cucu dari orang–orang hebat pendiri bangsa. Sekarang tinggal usaha kita semua sebagai generasi penerus bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan hal–hal yang bermanfaat.
Selanjutnya Dt Paduko Sirajo menjelaskan suku–suku yang ada di nagari Pasie Laweh. Dimana di nagari ini terdapat 4 suku, yaitu Caniago, piliang, gugun dan mandailiang. Beliau menyampaikan bahwa urang sasuku itu namonyo badunsanak.
Karena pada awalnya berasal dari satu niniak. Orang yang berasal dari daerah diluar pasie laweh juga bisa menjadi anggota salah satu suku yang ada dengan mengikuti tata cara yang telah ditentukan.
Beliau meminta apabila ada masalah disekolah, agar dilibatkan datuak datuak masing–masing suku terlibat dalam menyelesaikannya. Sehingga hubungan antara cucu dan datuak bisa terjalin dengan baik. Karena selama ini banyak anak–anak tidak mengetahui siapa datuaknya.
Dt Paduko Sirajo juga menyampaikan bahwa rasa kekeluargaan ini merupakan asset terbesar dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Seperti yang beliau lakukan dalam mengatasi permasalahan saat galodo menghantam nagari Pasie Laweh tempo hari.
Penanggunggulangan korban bencana tekait dengan pengadaan makan untuk para korban dibuat posko persuku. Dan Alhamdulillah makanan bisa tersalurkan dengan cepat.
Diakhir pertemuan Dt Paduko Sirajo berpesan kepada murid–murid agar selalu menjunjung adat dan istiadat yang ada di nagari kita. Banggalah bisa menjadi orang minang.
Karena kelestrian budaya minang kabau dapat terwujud jika generasi sekarang bisa mencintai dan melaksanakan budaya minang kabau dalam kehidupan sehari–hari. (Beni Nilma, S.Pd.SD, KEPALA UPT SDN 03 PASIE LAWEH)
Editor : Novitri Selvia