Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 29 Padang, Maknai Tingkuluak dalam Kehidupan Perempuan Minang

Novitri Selvia • Senin, 18 November 2024 | 15:05 WIB

KOMPAK: Pj Ketua Dharma Wanita Kota Padang, Netty Yosefriawan dan Ketua Dharma Wanita Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Mona Yopi krislova.(TIM LAMAN GURU)
KOMPAK: Pj Ketua Dharma Wanita Kota Padang, Netty Yosefriawan dan Ketua Dharma Wanita Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Mona Yopi krislova.(TIM LAMAN GURU)


PADEK.JAWAPOS.COM-Pada hakatnya, tingkuluak adalah penutup kepala bagi perempuan-perempuan di Minangkabau untuk menutupi rambut agar tidak terlihat oleh orang lain dan lawan jenis.

Tujuannya tentunya agar tidak sumbang dilihat orang, Dulu tingkuluak juga digunakan untuk berbagai acara oleh nenek moyang orang Minangkabau.

Saat ini tingkuluak kembali menghiasi kepala-kepala Perempuan-perempuan di Minangkabau, dalam berbagai evant. Variasi dan kombinasinya tingkuluak pun berkembang sesuai dengan zaman, beragam warna-warna tingkuluak pun bermunculan untuk menarik peminat tingkuluak.

Melihat fenomena ini, Dharma wanita Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang memberikan apresiasi terhadap perkembangan tingkuluak.

Ini dibuktikan dengan didiadakannya pelatihan pembuatan dan pemasangan tingkuluak untuk ibu-ibu Dharma wanita di lingkungan Disdikbud Kota Padang, baik untuk istri-istri pegawai maupun para ASN/P3k di Disdikbud.

Ketua Dharma Wanita Disdikbud, Mona Yopi krislova mendukung minat serta bakat dari anggota Dharma wanita Disdikbud yang sangatlah banyak dalam pembuatan dan pemasangan tingkuluak ini. Sehinnga pelatihan ketrampilan pembuatan tingkuluak tradisi maupun kreasi diberikan kepada anggota Dharma wanita Disdikbud.

Tentunya DW Disdikbud juga ikut dalam rangkaian acara HUT DW yang diadakan oleh DWP Kota Padang yang di ketuai oleh penjabat (Pj) Netti Yosefriawan, dalam perlombaan pembuatan dan pemasangan tingkuluak antar anggota Dharma wanita se-Kota Padang

Tingginya minat perempuan-perempuan saat ini dalam mengunakan tingkuluak, baik pada usia ibu-ibu, remaja dan anak-anak, mulai dari sekolah-sekolah sampai kepada instansi pemerintahan dan swasta, menunjukkan pelestarian tingkuluak sebagai identitas perempuan minang berjalan dengan baik.

Namun banyak hal juga yang perlu di perhatikan dalam pembuatan tingkuluak. Ada dua versi tingkuluak yaitu tradisi dan kreasi. Pengunaan tingkuluak pun dari zaman dulu disesuaikan bentuk dan modelnya dengan acara yang akan diikuti.

Bak kato rang minang “sawah jo pamatang jan di samoan”maksudnya di sini bentuk tingkuluak ini sangatlah banyak model dari dulu. Bahkan setiap daerah memiliki model yang mengidentitaskan kota dan kabupaten mereka masing-masing.

Bahkan dalam prosesi upacara adat, tidak boleh disamakan model dan kainnya dengan tingkuluak sehari-hari. Jika kita seorang sumandan modelnya pun berbeda dan jika kita seorang ibu modelnya pun berbeda.

Nah, hal ini yang perlu kita perhatikan. Wawasan pada bentuk dan pengunaan kain serta model harus kita ketahui, agar pakem dan nilai budaya pada tingkuluak tersebut tidak hilang. Bermunculanya tingkuluak-tingkulauk kreasi saat ini juga merupakan satu hal yang positif.

Di mana banyak Wanita-wanita karir dan modern pun mau mengunakan tingkuluak dan menjadi sesuatu yang dibanggakan dari adat minang. Revitalisasi tingkuluak pun bermunculan dengan berbentuk gaya dan model modern.

Namun kita wajib ketahui pemaknaan setiap tingkuluak yang harus selalu mempertahankan marwahnya perempuan minang. Di kala memakai tingkuluak tidak dibenarkan sehelai rambutpun tampak. Nilai kerapian dan esterika juga perlu dijaga.

Hendaknya tingkuluak dipasang oleh seorang perempuan untuk enak dipandang sebagai sebuah hiasan kepala, bukan hanya sekedar gaya-gayan semata saja.

Selain bentuk dan cara pemasangan yang harus di perhatikan kita juga harus tau nilai-nilai kain yang digunakan sebagai media pembuatan tingkuluak tersebut.

Seperti penempatan kapalo kain dan bentuk motif kain yang di gunakan, dari dulu tidak ada standar kain tertentu yang digunakan, tidak selalu harus kain yang mahal.

Namun tempatkan motif serta corak kain sebaik mungkin hingga nilai estetis tingkuluak tersebut nampak dengan jelas. Inilah yang menjadi salah satu tingkat kesulitan dalam membuat tingkuluak.

Kini, hal itu yang kurang dipahami dalam pembuatan tingkuluak. Semahal apapun kainya, kalau pakem pemasanganya salah justru akan asing terlihat. Namun walau kain sederhana jika penempatan kainya benar akan muncul keindahan dengan sendirinya.

Saat ini banyak kita temukan tingkuluak yang bertranformasi dalam bentuk yang lebih kontemporer. misalnya bentuknya tidaklah mencerminkan tingkuluak minang. Namun mengunakan kain Minangkabau.

Ada juga sebaliknya, bentuknya tingkuluak minang, namun kainya tidak mengunakan kain khas Minangkabau, bahkan sudah diberikan asesoris-asesoris yang lebih modern. Pertanyaan yang serinng muncul apakah ini salah?

Perspektifnya tidak ada yang salah bila pemakaianya tidak di dalam ranah acara adat Minangkabau, mungkin dalam evant nuansa informal maupun acara bebas. Itu tidak akan jadi masalah. Namun sebagai seorang perempuan minang, tentu sudah tahu penempatan berpakaian perempuan yang baik dan benar.

Sehingga dari ujung rambut sampai ujung kaki mengunakan keidentitasan padusi minang, mulai dari tingkuluak tradisi, baju basiba, kain kodek, tarompa di tambah asesoris-asesoris yang mendukung penampilan perempuan minang semakin terhormat.

Mari bersama-sama kita maknai tingkuluak dengan baik, sebagai suatu identitas kebudayaan Minangkabau dan menjadi suatu kebanggan bagi perempuan minang.

Selalu lestarikan tingkuluak dengan mempertahankan pakem dan nilai positif yang terkandung dalam tingkuluak tersebut. Bangga menjadi pedusi minang, bangga mengunakan tingkuluak.(Widia Agustin, M.Pd, Guru SMPN 29 Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Disdikbud Kota Padang #Widia Agustin #Perempuan Minang #SMP Negeri 29 Padang #Tingkuluak