PADEK.JAWAPOS.COM-Ada sesuatu yang mungkin membedakan saya pribadi dengan teman sejawat yang adakalanya diminta untuk menjadi pemateri pada sebuah seminar atau pelatihan. Perbedaan itu, mungkin nampak pada keakifan peserta.
Sejak lama saya suka sekali jika menjadi narasumber, yang umumnya pesertanya adalah para guru, aktif bergantian berbicara mengutarakan pendapatnya. Sehingga dominasi peserta menjadi dominan, sementara peran saya sebagai narasumber menjadi lebih santai.
Namun, bukan sekedar menjadi santai yang menjadi tujuan saya, keaktifan peserta itu sendiri merupakan sebuah keberhasilan. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa dalam sebuah kegiatan pembelajaran sesuatu yang penting adalah bagaimana murid belajar, bukan bagaimana guru mengajar.
Sehingga dalam hal ini, yang penting adalah bagaimana para peserta aktif, berdiskusi, mengutarakan pendapatnya, bertanya, menanggapi dan seterusnya.
Sehingga peran narasumber lebih sebagai fasilitator, dan hanya sesekali saja bericara ketika ada sesuatu yang penting untuk diluruskan atau bericara untuk memberikan koreksi dan apresiasi.
Itulah mungkin sebabnya, ketika menjadi fasilitator Pendidikan Guru Penggerak, ketika memasuki sesi dikusi di Ruang Kolaborasi. Maka pada umumnya para CGP akan aktif berbicara bersautan satu dengan yang lain, sehingga waktu 2 jam lebih terasa cepat berlalu, dipergunakan oleh para CGP saling mengutarakan pendapatnya.
Tak jarang pendapat seorang CGP demikian menarik sehingga membuat peserta yang lain, termasuk saya sendiri menjadi tertarik untuk menyimaknya. Dalam dunia pendidikan inilah bisa dikategorikan Pembelajaran yang Berpusat kepada Murid (Peserta).
Sedangkan dalam dunia kepemimpinan bisa dikategorikan sebagai Kepemimpinan yang Demokratis atau bisa juga disebut sebagai Kepemimpinan yang Dialogis.
Dalam budaya kita dienal dengan asas musyarawarah mufakat sedangkan dalam dunia kita sehari-hari kita mengenal budaya ngobrol-ngobrol, karena sesungguhnya dialog, ngobrol, rebukan, dalam dunia kepemimpinan mempunyai power atau kekuatan penting yang bergerak menuju tujuan yang diimpikan bersama.
Berkaitan dengan mimpi bersama misalnya, maka jika mimpi bersama itu dimusyawarahkan, dalam sebuah sesi dialog yang hangat dan produktif, maka selain visi tersebut menjadi visi yang lebih bagus dan berdaya guna, juga bisa menjadi visi bersama yang membuat segenap warga sekolah akan mendukung nya.
Dialog dalam hal ini membuat semua warga sekolah khususnya yang terlibat dalam dialog tersebut akan merasa ikut memiliki dan ikut bertangung-jawab (ownership) untuk bersama mewujudkannya.
Sebaliknya, sebuah visi misi yang disusun dalam senyap oleh seorang kepala sekolah, atau hanya disusun berdua dalam sepi bersama wakakur nya, maka visi misi tersebut tidak akan mempunyai power, tidak berkesan, tidak membuat warga turut memiliki, hambar, sehingga hanya sekedar menjadi visi misi formalitas belaka
Demikian dengan berbagai program sekolah, maka jika program-program tersebut diputuskan melalui proses dialogis yang demokratis, dengan sendirinya akan menarik dan mengundang semua pihak yang terlibat untuk bersama-sama bahu membahu mensukeskan program tersebut.
Sebaliknya, bila program-program sekolah hanya disusun top down ,dari atas ke bawah dalam sunyi sepi di ruang kepala sekolah, maka akan menjadi program yang kurang bermakna dalam benak warga sekolah lainnya.
Itulah sebabnya seorang pemimpin perlu menguasai keterampilan berbicara, mendengarkan, memimpin sidang atau musyawarah bahkan seorang pemimpin hendaknya juga mempunyai kemampuan coaching yang baik.
Sehingga seorang pemimpin dapat melakukan coaching terhadap anak buahnya, baik dalam penanganan masalah disiplin, maupun untuk peningkatan prestasi, meningkatkan kolaborasi, membangun atmosfer yang lebih baik, wellbeing bagi semua warga sekolah, sehingga program-program sekolah bisa berjalan lebih baik, dan memuaskan dari waktu ke waktu.
Demikian pula dengan kemampuan coaching yang baik, dan dialog yang hangat, maka seorang pemimpin mampu meningkatkan kompetensi anak buah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Seperti pepatah mengatakan,
“Leaders become great, not because of their power, but because of their ability to empower others”. (John C. Maxwell).
“Pemimpin yang hebat, bukan karena kekuatannya yang hebat, melainkan karena kemampuannya membuat anak buahnya menjadi hebat”.(John C. Maxwell)(Srimaiyenri, PENGAWAS SEKOLAH
DISDIKBUD TANAHDATAR)