Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

TK Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh, Memahami Perkembangan Anak Usia Dini

Novitri Selvia • Kamis, 13 Maret 2025 | 16:30 WIB

PEMBELAJARAN: Sejumlah murid TK Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh didampingi para guru terlihat sedang asyik bermain bersama di lingkungan sekolah mereka.(TIM LAMAN GURU)
PEMBELAJARAN: Sejumlah murid TK Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh didampingi para guru terlihat sedang asyik bermain bersama di lingkungan sekolah mereka.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Melihat anak-anak bermain, bertingkah laku dan bersikap, kita sebagai orang dewasa mungkin sering geleng-geleng kepala. Kesabaran orang dewasa, apakah itu orang tua, guru atau orang dewasa lainnya sering diuji oleh tingkah laku anak-anak di sekitarnya.

Itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari di sekitar kita saat ini. Akibat kurang sabarnya orang dewasa, ayah, ibu atau guru terhadap anak-anak membuat anak-anak sering jadi sasaran kemarahan, kekesalan bahkan orang dewasa sampai hati menyakiti fisik dan psikisnya.

Mereka bisa berkata-kata kasar, mencubit, memukul bahkan ada yang sampai menganiaya dan nyaris membunuh anak-anak tersebut hanya karena mereka tidak tahan dengan tingkah laku anak-anak tersebut.

Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak usia dini dimana mereka seharusnya mendapat perlakuan yang tepat dari orang-orang disekitarnya.

Cara yang tepat bisa diberikan kalau kita orang dewasa mengerti dan paham tahapan dan tugas-tugas perkembangan anak. Perlakuan yang tepat akan membantu anak berkembang secara optimal baik pisik maupun psikisnya.

Karakteristik anak usia dini sangat unik karena mereka berada pada proses tumbuh kembang yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan berikutnya. Secara psikologis, anak usia dini memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan anak yang usianya di atas delapan tahun.

Anak usia dini memiliki karakteristik sebagai berikut : 1) Egosentris, artinya anak lebih cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Menurut Piaget, anak usia dini berada pada tahap Sensorimotorik yaitu usia 0-2 tahun dan tahap Praoperasional yaitu usia 2-6 tahun.

Pada fase Pra operasional pola berpikir anak bersifat egosentris dan simbolis, karena anak melakukan operasi-operasi mental atas pengetahuan yang mereka miliki, belum dapat bersikap sosial yang melibatkan orang yang ada disekitarnya, asyik dengan kegiatan sendiri dan memuaskan diri sendiri.

Dengan mengetahui dan memahami karakter anak usia dini yang egosentris orang dewasa dihapakan lebih sabar dan bisa menghadapi anak secara wajar.

Orang dewasa tidak perlu memperlihatkan keegoisannya juga dihadapan anak-anak. Namun orang tua diharapkan mampu menahan diri dan menunjukkan kasih sayang terhadap anak-anaknya.

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang kuat (Curiosity) artinya anak berpandangan bahwa dunia ini dipenuhi hal-hal yang menarik dan menakjubkan. Hal ini mendorong rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu anak sangat bervariasi, tergantung apa yang menarik perhatiannya.

Sebagai contoh, anak akan tertarik dengan warna, perubahan yang terjadi dalam benda itu sendiri. Bola yang berbentuk bulat dapat digelindingkan dengan warna-warni serta kontur bola yang baru dikenal oleh anak sehingga anak suka dengan bola.

Rasa ingin tahu ini sangat baik dikembangkan untuk memberikan pengetahuan yang baru bagi anak dalam rangka mengembangkan kognitifnya. Semakin banyak pengetahuan yang didapat berdasar kepada rasa ingin tahu anak yang tinggi, semakin kaya daya pikir anak.

Orang dewasa baik orang tua maupun guru diharapkan mampu memenuhi setiap rasa keingintahuan anak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak ataupun memfasilitasi rasa keingintahuan anak dengan memenuhi sarana prasarana, media dan sumber belajar bagi anak-anak.

Ketiga, anak bersifat unik, menurut Bredekamp (1987), anak memiliki keunikan sendiri seperti dalam gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Keunikan dimiliki oleh masing-masing anak sesuai dengan bawaan, minat, kemampuandan latar belakang budaya serta kehidupan yang berbeda satu sama lain.

Meskipun terdapat pola urutan umum dalam perkembangan anak yang dapat diprediksi, namun pola perkembangan dan belajarnya tetap memiliki perbedaan satu sama lain. Orang dewasa baik orang tua maupun guru diharapkan tidak menyamakan anak dalam pemenuhan kebutuhan minatnya.

Orang dewasa juga diharapkan tidak membanding-bandingkan anak satu dengan yang lainnya karena keunikan dari masing-masing anak membuat mereka memiliki kelebihannya masing-masing
Keempat, memiliki imajinasi dan fantasi, artinya anak memiliki dunia sendiri, berbeda dengan orang di atas usianya.

Mereka tertarik dengan hal-hal yang bersifat imajinatif sehingga mereka kaya dengan fantasi. Terkadang mereka bertanya tentang sesuatu yang tidak dapat ditebak oleh orang dewasa, hal itu disebabkan mereka memiliki fantasi yang luar biasa dan berkembang melebihi dari apa yang dilihatnya.

Untuk memperkaya imajinasi dan fantasi anak, perlu diberikan pengalaman-pengalaman yang merangsang kemampuannya untuk berkembang.

Kelima, memiliki daya konsentrasi yang pendek, pada umumnya anak sulit untuk berkonsentrasi pada suatu kegiatan dalam jangka waktu yang lama. Anak selalu cepat mengalihkan perhatian pada kegiatan lain, kecuali memang kegiatan tersebut, selain menyenangkan juga bervariasi dan tidak membosankan.

Rentang konsentrasi anak usia lima tahun umumnya adalah sepuluh menit untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman.

Daya perhatian yang pendek membuat ia masih sangat sulit untuk duduk dan memperhatikan sesuatu untuk jangka waktu yang lama, kecuali terhadap hal-hal yang menarik dan menyenangkan bagi mereka.

Pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bervariasi dan menyenangkan, sehingga tidak membuat anak terpaku di tempat dan menyimak dalam jangka waktu lama.

Menurut Havighurst (1961) mengartikan tugas-tugas perkembangan sebagai “tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.

Tugas perkembangan pada usia kanak-kanak dimulai dari usia 2 (dua) sampai dengan 13 (tiga belas tahun). Usia kanak-kanak dibagi menjadi dua (dua) periode yaitu usia pra sekolah dan usia sekolah.

Usia pra sekolah disebut dengan kanak-kanak awal (early childhood), dan usia sekolah disebut dengan kanak-kanak akhir (Late childhood). Tugas perkembangan di usia pra sekolah yang disebut juga kanak-kanak awal (early childhood).

Periode ini orang tua sering dihadapkan pada problem tingkah laku, misalnya keras kepala, tidak menurut, negativistis, tempertantrums, mimpi buruk, iri hati, ketakutan yang irationil (tidak masuk akal) pada siang hari dan sebagainya.

Sifat “ketergantungan” anak pada periode bayi merupakan hal yang menarik bagi orang tua dan saudara-saudaranya. Sekarang si anak mulai tidak mau atau menolak tingkah laku kasih sayang orang tua atau saudara-saudaranya.

Selain itu para psikolog menyebut pula periode prasekolah sebagai periode eksplorasi. Hal ini disebabkan karena perkembangan yang utama pada periode ini ialah menguasai dan mengontrol lingkungannya.

Mereka selalu ingin mengetahui apa dan bagaimana lingkungannya itu, bagaimana mereka menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Cara umum yang dilakukan anak-anak usia 2-6 tahun yaitu dengan bertanya sebab itu sering pula dikenal sebagai usia bertanya (Questioning age).

Karena itu orang tua, guru atau orang dewasa lainnya diharapkan bisa memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sangat disayangkan kalau anak-anak di diamkan atau malah dimarahi kalau mereka banyak bertanya.

Tugas-tugas Perkembangan adalah penyempurnaan pemahaman mengenai konsep-konsep sosial, konsep-konsep benar dan salah dan seterusnya, dan belajar membuat hubungan emosional yang makin matang dengan lingkungan sosial baik di rumah maupun di luar rumah.

Tugas perkembangan pada masa kanak-kanak awal menurut Robert J. Havighurst (1961) (Monks, et al., 1984, syah syah, 1995; Andrissen, 1974; havighurst adalah sebagai berikut : 1) Toilet Training, hakikat tugas yang harus dipelajari anak yaitu buang air kecil dan buang air besar yang bisa diterima secara sosial.

Toilet training yang berhasil dapat membentuk anak yang berhati-hati, dapat menguasai dirinya, mendapatkan pandangan jauh kedepan dan dapat berdiri sendiri. Tentang toilet training Havighurst berpendapat: “Toilet training is the first moral training that child received.

The stamp of the first moral training that child later character” (Toilet training merupakan pelatihan moral pertama yang diterima anak. Stempel pelatihan moral pertama yang menjadi karakter anak kelak).

2) belajar membedakan jenis kelamin, serta dapat bekerja sama dengan jenis kelamin lain. Melalui observasi, maka anak akan melihat tingkah laku yang berbeda jenis kelamin satu dengan lain,

3) belajar mencapai stabilitas fisologis, manusia pada waktu lahir sangatlah labil jika dibanding fisik orang dewasa, anak akan cepat sekali merasakan perubahan dari panas ke dingin, oleh karena itu anak harus belajar menjaga keseimbangan terhadap perubahan,

4) pembentukan konsep-konsep yang sederhana tentang realitas fisik dan sosial, 5) belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain, menghubungkan diri sendiri secara emosional, 6) belajar membedakan mana yang baik dan buruk serta mengembangkan kata hati.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dengan memahami perkembangan anak maka orang dewasa baik orang tua, pendidik atau orang dewasa lainnya akan bisa bersikap dan memperlakukan anak-anaknya dengan baik sehingga anak-anak bisa berkembang sesuai tahap perkembangannya masing-masing.

Disarankan orang dewasa baik orang tua, pendidik atau orang dewasa lainnya memberikan stimulasi yang tepat terhadap perkembangan anak. Perlakukan anak-anak dengan baik sesuai perkembangannya.(Misrayeti, M.Pd, GURU TK ISLAM RAUDHATUL
JANNAH PAYAKUMBUH)

Editor : Novitri Selvia
#TK Islam Raudhatul Jannah Payakumbuh #perkembangan anak usia dini #Misrayeti