PADEK.JAWAPOS.COM-Ramadhan bulan penuh kemuliaan telah pergi meninggalkan kita. Sebagai muslim kita tentu merasa sedih, karena tidak ada jaminan dari Allah swt untuk mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan tahun yang akan datang.
Semoga Allah swt. menerima amal ibadah kita selama bulan Ramadhan, amin.Di sisi lain kita merasa bahagia, karena kita sudah merayakan Idul Fitri. Idul Fitri adalah hari kemenangan dan kebahagiaan orang yang berpuasa.
Rasulullah saw bersabda yang artinya : “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.” (HR. Al-Bukhâri, Muslim, Ahmad , Ibnu Mâjah)
Bagi orang yang beriman, yang sudah berjuang dan bersungguh-sungguh selama bulan Ramadhan, berpuasa pada siang hari, qiyamul lail pada malam hari,membaca Al Quran, memperbanyak sedekah, i’tikaf dan melantunkan kalimat takbir, tahmid,dan tahlil mulai dari terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai khatib naik mimbar pada 1 Syawal.
Merekalah yang pantas di sebut kembali kepada fitrah, bersih dan suci dari noda dan dosa seperti bayi yang terlahir dari rahim ibunya.Fitrah manusia adalah hati yang bersih dan suci yang senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah swt.
Setelah kita meraih kemenangan di hari Idul Fitri/ kembali kepada fitrah.Sudah selesai kah tugas kita ? tentu belum. Tugas kita selanjutnya adalah menjaga fitrah/kesucian diri setelah Ramadhan dan inilah diantara ciri orang yang sukses di bulan Ramadhan. Bagaimana cara menjaga fitrah setelah Ramadhan ?
Pertama,bertakwa kepada Allah swt. dimana saja berada. Takwa dalam arti takut kepada Allah swt. Melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah tujuan utama dari puasa.
Takwa adalah derajat manusia paling mulia di sisi Allah swt.Berbagai cara umat Islam dalam merayakan Idul Fitri, seperti berpakaian serba baru. Ini adalah perkara yang dibolehkan dalam agama, karena Allah swt adalah zat yang maha indah dan menyukai yang indah-indah.
Namun, yang perlu dipahami bahwa hakikat dari Idul Fitri itu adalah “laisal ‘iidu man labisal jadiidu walakinnal ‘iidu Ath tha’aatu yaziidu” bukanlah Idul Fitri itu dengan berpakaian serba baru akan tetapi Idul Fitri itu adalah bertambahnya ketaatan kepada Allah swt.
Sebelum Ramadhan mungkin kita masih sering melalaikan shalat, maka setelah Ramadhan menjadi orang-orang yang menjaga shalat dan ibadah lainnya.” Jagalah shalatmu Allah swt akan jaga dan perbaiki hidupmu”.
Banyak umat Islam menjadikan Idul Fitri momen untuk pulang kampung,bebagi kebahagian dengan keluarga di kampung halaman. Ini adalah termasuk perkara yang sangat dicintai Allah swt.Ketika kita memberi kebahagiaan kepada orang lain, insyaallah Allah swt. akan memberikan kebahagiaan hidup kita dunia akhirat.
Namun yang mesti kita ingat bahwasanya kita semua akan pulang ke kampung halaman kita yang sesungguhnya yaitu kampung akhirat. Persiapkanlah bekal untuk kampung akhirat kita.
Kedua, istiqomah dalam beribadah kepada Allah swt.
Selama Ramadhan kita sudah dilatih untuk menjaga ibadah shalat lima waktu, meramaikan masjid, shalat malam,membaca Al Quran, bersedekah, i’tikaf dan ibadah lainnya. Setelah Ramadhan ibadah itu mesti kita jaga dan pertahankan.
Jangan sampai kita taat kepada Allah swt. di bulan Ramadhan saja. Akan tetapi ,jadilah hamba Allah swt yang mengagungkan Allah swt. dimana saja dan kapan saja. Ibadah yang utama disisi Allah swt adalah ibadah yang rutin walaupun kecil.
Sesuai hadits nabi yang artinya “ amalan yang dicintai Allah swt. adalah amalan yang rutin walaupun pun kecil”. Keistiqomahan dalam beribadah kepada Allah swt. merupakan upaya kita menggapai husnul khatimah.
Allah swt berfirman dalam Al Quran surat Fushshilat ayat:30 yang berbunyi “innalladzîna qâlû rabbunallâhu tsummastaqâmû tatanazzalu ‘alaihimul-malâ’ikatu allâ takhâfû wa lâ ta+zanû wa absyirû bil-jannatillatî kuntum tû‘adûn”.
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Jangan pernah merasa puas dengan amalan kita, karena di akhirat kelak kata Rasul tidak hanya penghuni neraka yang menyesal bahkan penghuni surga pun menyesal. Mereka menyesal karena masuk ke dalam surga yang rendah, sementara surga itu bertingkat-tingkat bahkan sampai seratus tingkat.
Tingkat yang satu dengan yang di atasnya jaraknya langit dan bumi. Fasilitas yang Allah berikan untuk penghuni surga terendah dan paling akhir masuk surga adalah 10x lipat dunia beserta isinya.Semoga kita memiliki amalan yang istimewa yang akan kita persembahkan kepada Allah swt amin.
Ketiga, memiliki kesalehan sosial/kepedulian sosial. Tidak sempurna iman seseorang kalau tidak peduli dengan orang miskin, anak yatim,karib kerabat, terlebih lagi orang tua.Orang yang sukses Ramadhan nya adalah orang orang yang menolong orang miskin, menyantuni anak yatim, menjalin silaturrahmi dan berbakti pada orang tua.
Dari Abi Burdah, ia melihat melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung
“Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari”Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?
”Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya.”(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 11, shahih secara sanad).
Lihat saja begitu besar ternyata jasa orang tua kita, terutama ibu. Satu tarikan nafas saat melahirkan kita saja tidak bisa kita balas. Belum lagi usaha keras beliau saat menyusui kita. Seringnya nangis tengah malam karena tangisan kita.
Ia sering menangis karena kenakalan kita saat kecil. Saat kita sakit, ia pun sering meneteskan air mata karena tak bisa melihat anaknya menderita. Apalagi perjuangannya beliau mendidik kita sehingga menjadi sukses saat ini.
Upaya mempertahankan fitrah diri setelah Ramadhan di atas, merupakan intisari dari khutbah yang disampaikan oleh (penulis) Romi Desrianto, S.Pd.I ketika menyampaikan khutbah Idul Fitri 1446 H di kampung halaman tercinta, tepatnya di masjid Nurul Yakin Kandang Lamo jorong Sarilamak, kenagarian Sarilamak, Kabupaten 50 Kota.
Rangkaian shalat Idul Fitri 1446 H di Kandang Lamo Bahagian Dalam ( KANADA) berjalan penuh khidmat. Shalat Idul Fitri diimami oleh Buya Anggi Abu Umar. Ratusan jama’ah memadati masjid dan bahkan tumpah ruah sampai ke halaman luar dan jalan raya.
Shalat Idul Fitri dihadiri oleh ketua masjid Al Toyo, S.P ( Eks Sespri Wakil Walikota Payakumbuh),bendahara umum, Bapak Asri Cun, M.Pd ( Pengawas SMA Payakumbuh ), seksi dana, Bapak Sofyan efendi, S.Pd ( Pengawas TK SD Kab. 50 Kota). Bapak Zul ( eks ketua masjid) beserta tokoh masyarakat yang tidak bisa disebutkan namanya satu persatu.
Idul Fitri adalah hari kemenangan umat Islam. Idul fitri dan bulan Syawal diharapkan dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, menjaga ibadah, menjaga hubungan sesama manusia, berbakti pada orang tua serta menjadi pribadi yang lebih baik.
Selamat Idul Fitri 1446 H. Taqabbalallahu minna wa minkum,kullu ‘am wa antum bi khairin.(Romi Desrianto, S.Pd.I, GURU SDN 22 LUBUKMINTURUN )
Editor : Novitri Selvia