Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi: Tradisi Makan Bajamba di P5, Bangun Kearifan Lokal

Suci Kurnia Putri • Selasa, 20 Mei 2025 | 16:30 WIB

BERSEMANGAT: SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi terlihat kompak dalam kegiatan P5 dengan tema kearifan lokal, yang dilaksanakan pada Selasa (13/5).(TIM LAMAN GURU)
BERSEMANGAT: SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi terlihat kompak dalam kegiatan P5 dengan tema kearifan lokal, yang dilaksanakan pada Selasa (13/5).(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan bagian penting dari Kurikulum Merdeka yang menekankan pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik melalui pembelajaran berbasis proyek.

Dalam kerangka ini, SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi menyelenggarakan P5 dengan tema Kearifan Lokal, yang dilaksanakan pada Selasa, 13 Mei 2025.

Kegiatan ini mengangkat salah satu budaya khas Minangkabau, yaitu tradisi makan bajamba, sebagai media pembelajaran kontekstual untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik.

Kegiatan ini dikoordinatori oleh guru pembimbing projek, yakni Nia Mahesa Agustia, Anita Wahyuni, dan Lola Rahmana Putri. Namun, tanggung jawab pelaksanaan kegiatan tidak hanya bertumpu pada guru pembimbing.

Sebagai koordinator, mereka menjalankan peran strategis dalam merancang kerangka proyek dan mengatur jalannya kegiatan, sekaligus memastikan sinergi antarpihak yang terlibat.

Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan, guru pembimbing bekerja sama secara erat dengan para guru dari berbagai mata pelajaran yang turut berperan sebagai fasilitator. 

Para guru tersebut terlibat sejak tahap perencanaan hingga refleksi akhir, mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran secara lintas disiplin.

Mereka membimbing siswa memahami filosofi di balik tradisi makan bajamba, mendiskusikan makna sosial budaya yang terkandung di dalamnya, dan menanamkan keterampilan abad ke-21 melalui pendekatan kontekstual.

Dengan kerja sama yang erat antarguru dan kepemimpinan koordinator yang inklusif, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang bukan hanya bermakna, tetapi juga menyenangkan dan membangun kesadaran budaya siswa.

Tradisi makan bajamba sendiri merupakan kegiatan makan bersama dalam adat Minangkabau yang sarat akan makna filosofis. Kegiatan ini bukan hanya sekadar duduk dan menyantap hidangan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, sopan santun, dan rasa hormat terhadap sesama.

Dalam pelaksanaannya, para peserta didik diajak untuk memahami tata cara adat yang meliputi pasambahan (ungkapan penghormatan), penataan hidangan, hingga etika saat makan bersama. Setiap tahapan menjadi ajang pembelajaran yang bermakna dan membentuk karakter siswa.

Mengangkat makan bajamba dalam P5 bukan semata-mata sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga sebagai upaya strategis dalam menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan ini sejatinya sejalan dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Misalnya, ketika siswa mengikuti prosesi pasambahan, mereka belajar untuk menghormati nilai-nilai spiritual dan adat yang diwariskan oleh leluhur, yang selaras dengan dimensi beriman dan bertakwa.

Saat makan bersama dan saling berbagi peran, siswa dilatih untuk bekerja sama, menekan ego, dan belajar hidup dalam kebersamaan, yang mencerminkan dimensi gotong royong.

Sementara dalam perencanaan kegiatan, siswa dilibatkan dalam diskusi, pengambilan keputusan, hingga evaluasi, yang menjadi praktik nyata dari bernalar kritis dan mandiri. Keunikan kegiatan ini juga terletak pada pendekatannya yang menyenangkan dan menyentuh sisi emosional siswa.

Proses pembelajaran tidak berlangsung dalam suasana formal yang kaku, melainkan dalam nuansa budaya yang hangat dan akrab. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan yang memerdekakan, yaitu menciptakan ruang bagi siswa untuk tumbuh, mengenal jati dirinya, serta bangga terhadap akar budayanya.

Selain memberikan pengalaman belajar yang otentik bagi siswa, kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang kerap mengikis nilai-nilai tradisional, langkah sekolah ini patut diapresiasi sebagai upaya konkret dalam menyelaraskan pendidikan dengan kearifan lokal.

Sudah saatnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik semata, tetapi juga pada pembangunan karakter dan pelestarian identitas budaya.

P5 menjadi ruang yang strategis untuk mewujudkan hal tersebut, dengan catatan pelaksanaannya harus digarap secara serius, kolaboratif, dan kontekstual sesuai dengan nilai-nilai lokal yang dimiliki masing-masing daerah.

Tradisi makan bajamba adalah warisan budaya yang kaya akan nilai moral dan sosial. Melalui kegiatan ini, SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi tidak hanya mengajarkan siswa untuk memahami budayanya, tetapi juga menjadikan budaya sebagai sarana untuk menumbuhkan karakter luhur sesuai Profil Pelajar Pancasila.

Semoga langkah ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk menggali dan menghidupkan kembali kearifan lokal sebagai fondasi pendidikan bangsa. (Suci Kurnia Putri, S.Pd, Guru Sosiologi SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi)

 

Editor : Novitri Selvia
#Makan Bajamba #P5 #SMA Islam Al Ishlah Bukittinggi