PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam dunia yang terus berubah dengan kecepatan eksponensial, growth mindset (pola pikir berkembang) telah menjadi fondasi bagi siapa pun yang ingin bertahan dan unggul.
Konsep yang dipopulerkan oleh Carol Dweck ini menekankan bahwa kecerdasan dan kemampuan bukanlah sifat tetap, melainkan bisa dikembangkan melalui usaha, pembelajaran, dan ketekunan.
Namun, pertanyaannya adalah: di mana growth mindset menemukan puncak penerapannya? Jawabannya mungkin terletak pada deep learning. Apa Hubungan Deep Learning dengan Growth Mindset?
Pertama, Belajar dari Kesalahan.
Growth mindset mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Deep learning, sebagai cabang AI, bekerja dengan prinsip serupa: model neural network terus belajar dari kesalahan melalui mekanisme backpropagation, menyesuaikan bobotnya untuk meningkatkan akurasi.
Kedua, Adaptasi tanpa Batas.
Orang dengan growth mindset selalu mencari cara untuk berkembang, bahkan di bidang yang awalnya asing. Deep learning juga bersifat adaptif dari pengenalan gambar, terjemahan bahasa, hingga prediksi pasar saham, ia terus memperluas kemampuannya dengan data baru.
Ketiga, Proses Iteratif Pembelajaran Berkelanjutan.
Tidak ada kesuksesan instan, baik manusia maupun AI perlu latihan berulang. Model deep learning seperti GPT-4 atau AlphaGo tidak langsung sempurna, mereka melalui ribuan iterasi sebelum mencapai keahlian tinggi.
Deep Learning sebagai Manifestasi Ultimate Growth Mindset
Jika growth mindset adalah filosofi, maka deep learning adalah perwujudan teknisnya.
Seorang manusia dengan growth mindset akan Mencoba, gagal, belajar, ulangi. Terus memperbarui pengetahuannya. Menyesuaikan strategi berdasarkan umpan balik.
Deep learning melakukan hal yang sama tapi dalam skala yang jauh lebih besar dan cepat. Ia adalah bukti bahwa proses belajar yang konsisten meskipun dimulai dari ketidaktahuan pada akhirnya bisa mencapai tingkat kecerdasan yang mengagumkan.
Baca Juga: Wako Sorot Kinerja dan Disiplin ASN
Jadi Kesimpulannya, Jika AI Bisa, Manusia Juga Bisa. Deep learning tidak hanya mengubah teknologi, tetapi juga memberi kita metafora kuat: setiap kemajuan adalah hasil pembelajaran terus-menerus. Jika sebuah algoritma bisa berkembang dari nol menjadi ahli, mengapa kita tidak?
Jadi, benarkah deep learning adalah muara akhir dari growth mindset? Mungkin iya—karena di situlah prinsip “belajar tanpa henti” mencapai bentuknya yang paling canggih.
Dan sebagai manusia, kita punya keunggulan tambahan, kita bisa memilih untuk terus tumbuh, lebih dari sekadar apa yang diprogramkan.(Adril Maiyanto, S.Pd, M.Pd, GURU MTSN 7 PESISIR SELATAN)
Editor : Novitri Selvia