PADEK.JAWAPOS.COM-Tahun ini Indonesia genap 80 tahun merdeka. Delapan dekade sejak proklamasi yang dibacakan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Sejak itu, kita selalu merayakan kemerdekaan dengan bendera yang berkibar gagah, pekik “Merdeka!” yang menggema, dan rangkaian lomba yang penuh tawa.
Namun, di balik gemerlap perayaan itu, ada pertanyaan yang sering kali luput kita jawab. Sudahkah kita benar-benar bebas dari mentalitas penjajah?
Kemerdekaan sejatinya bukan hanya pembebasan dari belenggu kekuasaan asing. Lebih dari itu, kemerdekaan adalah pembebasan jiwa, pikiran, dan mentalitas dari segala bentuk penindasan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam diri kita sendiri.
Sayangnya, di tengah kemajuan bangsa, jejak mentalitas penjajah masih kadang bersembunyi dalam keseharian kita. Penindasan Berganti Wajah. Dulu, penjajah mengambil hasil bumi kita. Kini, justru sebagian dari kita yang mengambil hak saudara sendiri.
Korupsi, pungli, dan penyalahgunaan kekuasaan adalah bentuk penjajahan baru yang dilakukan anak negeri terhadap bangsanya sendiri. Dulu, penjajah memecah-belah rakyat dengan politik adu domba.
Kini, kita memecah-belah diri lewat ujaran kebencian di media sosial, fanatisme sempit, dan sikap saling curiga hanya karena beda pilihan atau pandangan. Dulu, penjajah memonopoli pengetahuan dan pendidikan.
Kini, walau akses terbuka lebar, kita kadang masih terpenjara oleh kemalasan belajar, lebih senang menyebarkan hoaks daripada mencari kebenaran. Kemerdekaan yang Sejati. Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Kalimat ini semakin terasa relevan di era sekarang. Kita merdeka secara politik, tetapi sering kali belum merdeka secara mental.
Kemerdekaan yang sejati adalah ketika kita mampu, Mengalahkan ego, sehingga mau bekerja sama demi kepentingan bersama.
Menghargai perbedaan, tanpa memaksakan kehendak. Mengutamakan kejujuran, meski kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar. Membela yang lemah, bukan justru menindasnya.
Perayaan 80 tahun kemerdekaan seharusnya bukan sekadar pesta, tapi juga momentum introspeksi. Sudahkah kita menjadi bangsa yang saling mengangkat, bukan saling menjatuhkan?
Sudahkah kita membangun negeri ini dengan semangat gotong royong yang dulu menjadi senjata melawan penjajah? Atau justru kita sibuk menjadi “penjajah” bagi sesama anak bangsa?
Kemerdekaan adalah hadiah yang diwariskan dengan darah dan air mata para pahlawan. Jangan sampai warisan itu ternodai oleh sikap dan perilaku kita yang menghidupkan kembali roh penjajahan, meski tanpa bendera asing yang berkibar.
Mari kita rayakan kemerdekaan bukan hanya dengan lomba, bendera, dan pawai, tetapi juga dengan tekad untuk memerdekakan hati dan pikiran dari keserakahan, kebencian, dan ketidakpedulian. Karena bangsa yang benar-benar merdeka adalah bangsa yang membebaskan dirinya dari mentalitas penjajah selamanya. (Adril Maiyanto, S.Pd, M.Pd, GURU MTSN 7 PESISIR SELATAN)
Editor : Novitri Selvia