PADEK.JAWAPOS.COM-Suasana Aula lantai 4 Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat sejak pagi hingga sore dipenuhi semangat literasi.
Ratusan pasang mata menyaksikan jalannya presentasi lomba menulis surat bagi guru dan siswa, sebuah ajang yang bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang perjumpaan gagasan dan perasaan antara pendidik dan peserta didik.
Acara ini menjadi momentum penting untuk kembali menghidupkan budaya tulis-menulis yang mulai terpinggirkan di era digital. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Drs. Barlius, MM. menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memajukan literasi.
“Kemampuan menulis dan berbicara kita belum seimbang. Dahulu tokoh-tokoh Sumatera Barat seperti Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, hingga Syahrir tidak hanya pandai berpidato, tetapi juga menulis. Melalui tulisan, mereka meninggalkan jejak sejarah yang abadi,” ujarnya.
Menurut Barlius, meski ribuan naskah surat masuk ke panitia, banyak di antaranya masih memerlukan pendalaman cerita serta ketepatan penggunaan tanda baca.
Namun, hadirnya para finalis yang tampil hari itu membuktikan bahwa semangat literasi di Ranah Minang tetap tumbuh dan berkembang.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, Ansharullah S.P melalui sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kearsipan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd, M.Pd memberikan apresiasi besar.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Albert Hendra Lukman, anggota DPRD Sumatera Barat yang menjadi donatur utama, serta kepada Sastri Bakry bersama rekan-rekan SatuPena yang telah bertungkus Lumus mewujudkan acara ini.
Menurut Mahyeldi, lomba ini memiliki keunikan tersendiri. “Surat bukan sekadar tulisan, tetapi wadah perasaan. Kini siswa dapat menuliskan kritik, pujian, atau ucapan terima kasih kepada gurunya secara tertulis tanpa harus bertatap muka. Sebaliknya, guru juga bisa menuangkan harapan dan perjuangan yang sulit diucapkan secara langsung kepada murid. Hubungan emosional semacam ini sangat berharga,” ujarnya.
Tidak hanya berhenti pada lomba, surat-surat para finalis bahkan diterbitkan dalam bentuk buku, sehingga setiap karya memiliki jejak abadi yang bisa dibaca generasi berikutnya.
Menariknya, para peserta tidak hanya mengandalkan isi surat, tetapi juga kemampuan presentasi. Dalam waktu lima menit, mereka ditantang untuk menguasai panggung, menyampaikan isi surat, serta menjawab pertanyaan juri sesuai dengan tulisan yang dibuat.
Inilah yang membedakan lomba ini dengan storytelling. Melalui proses tersebut, peserta tidak hanya berlatih menulis, tetapi juga berbicara, mengatur waktu, dan menguasai audiens. Kompetensi ini menjadi bekal penting bagi siswa maupun guru di era komunikasi modern.
Dalam kategori guru, juara pertama diraih Gusra Farnita, disusul Kusdar Yuni, S.Pd di posisi kedua, serta Addurorul Muntatsiroh, M.Pd di posisi ketiga. Nama-nama lain yang juga mendapat penghargaan di antaranya Fredrik Tirtosuryo Esoputro, Dra. Lifya, Erlinaweti, M.Pd, Liberlina, S.Pd, dan Dwi Utari Kusuma, S.Pd.
Sementara itu, di kategori siswa, juara pertama jatuh kepada Dyima Guszita, juara kedua Jingga Aldernes, dan juara ketiga Annemarie Kaori Z.
Adapun nominasi lain yang mendapat penghargaan yaitu Hilmza Quratu Aini, Messi Dwi Wulan Dari, Yulia Dwi Sefira, Maulida Hanifah Nursy, dan Tiara Puja Wulandari.
Hadiah yang diberikan tidak main-main. Selain uang tunai, buku menarik, dan sertifikat penghargaan, pemuncak lomba berhak membawa pulang sebuah laptop.
Hadiah diserahkan langsung oleh Bunda Literasi Sumatera Barat, Hj. Harneli Mahyeldi, yang juga mengundang para pemenang ke Istana Gubernuran sebagai bentuk apresiasi.
Tak hanya itu, Satupena Sumatera Barat juga memberikan penghargaan khusus kepada enam guru penggerak literasi: Dilla, S.Pd (SMP Negeri 2 Bukittinggi), Erlinaweti, M.Pd (SMAN 1 Sungai Limau), Ridha, MM (SMA Negeri 5 Padang), Marlis Fatma, S.Sos, MM (SMA Negeri 3 Sumbar), Miftahul Hidayat (SMKN 2 Padang Panjang), dan Fredrik Tirtosurya Esoputra (SMK Negeri 2 Padang Panjang).
Dalam penutupan, Bunda Literasi menegaskan bahwa menulis adalah cara untuk mengabadikan gagasan. “Karya akan tetap hidup meski penulisnya tiada. Karena itu, teruslah menulis dengan hati,” pesannya penuh motivasi.
Ia juga mengingatkan bahwa lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan gerakan bersama yang memperkuat budaya literasi di sekolah.
Guru menulis dengan hati, murid menulis dengan suka, sebuah harmoni yang kelak bisa menjadi bahan evaluasi bagi kepala sekolah, sekaligus pemantik lahirnya penulis-penulis hebat dari Ranah Minang.
Dengan semangat itu, Lomba Menulis Surat Guru dan Siswa di Sumatera Barat menjadi bukti bahwa literasi bukan hanya tentang membaca, melainkan juga tentang menyuarakan isi hati dan pikiran. Dari aula sederhana di Padang, semangat itu kini mengalir, menyebar, dan siap menyalakan api literasi hingga ke pelosok negeri. (Dra. Lifya, GURU SLBN 1 PADANG)
Editor : Novitri Selvia