Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 11 Padang: Kisah Inspiratif dari Seorang Guru PJOK, Rudi Priyatno

Novitri Selvia • Senin, 1 September 2025 | 16:45 WIB

REWARD: Rudi Priyatno saat menerima penghargaan Sekolah Stratifikasi UKS Standar dari Pemko Padang (17/8).
REWARD: Rudi Priyatno saat menerima penghargaan Sekolah Stratifikasi UKS Standar dari Pemko Padang (17/8).

PADEK.JAWAPOS.COM-Lelaki bertubuh tambun tersebut menggendong tubuh ringkih istrinya ke kursi roda sebelum suara azan Shubuh berkumandang. Hatinya pilu tiap kali mengangkat tubuh wanita yang telah 11 tahun menderita stroke.

Rudi Prayitno, sesosok guru PJOK di SMPN 11 Padang, begitu tegar menghadapi ujian kehidupan. Setiap kali ia menggendong istrinya, kian besar rasa cintanya kepada sosok tersebut.

Tak banyak percakapan yang bisa ia tuturkan seperti saat istrinya dulu masih sehat. Namun binar cinta dari manik istrinya sudah membuatnya bersyukur, ketika ia bangun tidur mendapati sosok istrinya masih setia menemani menjalani hari-harinya.

Meski usia pernikahan mereka menginjak usia 20 tahun, namun perasaan Rudi kepada istrinya sama sekali tak berubah. Aktifitas mendorong kursi roda menuju kamar mandi, dan memindahkan tubuh istrinya ke kursi biasa setiap hari dilakoninya.

Saat di kamar mandi, ia memindahkan tubuh istrinya ke kursi yang biasa digunakan untuk memandikan istrinya. Di sanalah ia menyabunkan, dan me-lap tubuh istrinya, layaknya seperti ia memandikan dua buah hati mereka saat masih kecil dulu.

Setelah memandikan istrinya, Rudi mengangkat kembali tubuh istrinya ke kursi roda dan memasangkan pampers seperti bocah. Saat memasangkan baju, begitu pilu ia menatap istrinya, betapa masa telah mengikis semua kecantikannya dulu, berganti ringkih dan tirusnya pipi yang dulu sering ia kecup.

Setelah memasangkan baju istrinya, Rudi berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka sekeluarga. Saat waktu menunjukkan setengah tujuh, Rudipun berangkat ke sekolah.

Ia meninggalkan raut wajah yang dulu selalu ceria menemani hari-harinya,yang sekarang berganti dengan senyum pias. Istrinya tetap memberikan semangat, mungkin sering bergumam ribuan terima kasih, meskipun tak pernah terucap.

Berat langkah diayunkan Rudi, semangat terkadang pasang surut, namun demi amanah yang diemban, ia tetap melangkap tegap. Anak- anaknya masih membutuhkan kehadiran Rudi, ayahnya. Pun, murid-murid di sekolah.

Senyum yang biasa diurai oleh istrinya, menatap teduh dengan ketulusan seorang Rudi suami yang juga imamnya. Istrinya, Wilda Rohyani, S.E, merupakan pensiunan muda yang berdinas di kantor BKD Propinsi Sumatera Barat.

Wilda, istri Rudi merupakan seorang PNS yang terpaksa pensiun muda 11 tahun yang lalu tepatya tahun 2014. Selama 11 tahun ia tak pernah alpa melayani istrinya, sembari membesarkan sepasang buah cinta mereka.

Andai saja ia punya pikiran yang singkat, barangkali dengan kondisi Wilda yang sekarat, mungkin ia akan nekat meninggalkan semua. Tokh, Rudi adalah lelaki yang masih muda dan bergaji perbulan pula.

Namun Rudi tak pernah menyerah, mengeluh, apalagi meratapi nasib. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya dengan ikhlas menjalani semua.

“Saya ikhlas menjalani semua. Karena ada anak anak yang merupakan tannggung jawab kami bersama.” Ujar Rudi saat diwawancarai via telepon.

Perjalanan membawa istri berobat ke sana-sini merupakan rutinitas yang sudah biasa ia tempuh. Saat kedua anak-anaknya masih butuh perhatian dan dukungan. Saat ia harus mengantar ke kantor istrinya untuk mengambil absen.

Namun kenyataan tak seindah harapan. Sudah berobat kesana- sini, namun hasinya masih nihil. Ia mencoba berdamai dengan keadaan. Menjalani takdir kehidupan yang digariskan oleh sang maha Pencipta.

“Di awal sakit dulu, Wilda pernah mengalami hilang ingatan. Tersebab mandi saat Magrib. Ia baru pulang kerja, langsung mandi. Suhu tubuhnya belum stabil, lalu diguyur bagian kepala. Saat mandi itulah ia jatuh pingsan, dan muntah- muntah. Kemudian ia mengalami hilang ingatan. Hampir sebulan lebih hilang ingatan. Sudah kami bawa berobat, dan berangsur pulih.” Papar Rudi

Lebih lanjut Rudi berkisah, tiba- tiba suatu malam, separuh badan Wilda mengalami lumpuh sebelah. Hingga saya dan keluarga membawa Wilda berobat hampir tiap hari. Saat itulah, kami pontang- panting mengupayakan pengobatan Wilda, hingga memikirkan sumber dana untuk penyembuhan Wilda.” tambah Rudi.

Mengenal sosok Rudi di sekolah, barangkali banyak yang belum mengetahui bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang telah ia lakukan. Lelaki separuh baya ini, mempunyai track record yang tak kaleng- kaleng bila berbicara soal prestasi.

Sosok yang membawa sekolah tempat ia bernaung mendapatkan beberapa predikat terbaik. Sebut saja predikat sekolah Adiwayata, sekolah sehat, dan juga sekolah siaga kependudukan.

Terakhir, ia mendapatkan penghargaan Stratifikasi UKS Standar dari Pemerintah Kota Padang, saat perayaan kemerdekaan bulan Agustus lalu. Semua prediket tersebut merupakan hasil rintisan kinerjanya sebagai penggerak dan motivator.

Perjuangan dan pengorbanan saat kedua buah hatinya masih kecil- kecil, menjadi pelecut semangat baginya untuk memberikan yang terbaik bagi sekolahnya. Rudi bahkan pernah mendapatkan beasiswa propinsi untuk melanjutkan kuliah S2 pada jurusan olahraga.

Saat itu hanya tinggal penelitian dari penyelesaian tesisnya. Namun karena kondisi Wilda yang membutuhkan kehadirannya dan juga anak yang masih kecil-kecil, ia pun mengalah.

Saat ia lulus menjadi Guru Penggerak, tes untuk menjadi pengawas, dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi wakil hingga kepala sekolah, ia pun mundur. Bukan tanpa sebab, ia paham dengan kondisi yang tidak memungkinkan.

“Saya paham dengan kondisi saya. Bila saya ambil, barangkali saya akan melewatkan banyak waktu di luar lebih lama, Sedangkan di rumah, istri saya lebih membutuhkan,” tuturnya.

Laju motor kami pelan, membelah jalan Bypass Kota Padang. Riuhnya suara klakson di sana-sini membawa pikiran kami nelangsa. Kami kembali ke sekolah, setelah melihat kolega kami.

Ya, kami sudah menganggap Rudi dan Wilda bagian dari keluarga kami. Saat kami mengunjungi Wilda, Rudi sedang tidak membersamai kami. Ia bahkan sedang mendonorkan darah, di kantor Dinas Pendidikan Kota Padang. Hari ini kami belajar banyak hal.

Dari sosok yang sudah kami anggap Bapak, bahkan seperti saudara kandung kami sendiri. Di sebuah rumah yang dikelilingi tumbuhan kakao dan juga kelapa sebagai pembatasnya, Ada sosok yang tebaring lemah di ruang tengah meringkuk sendu seorang diri.

Seorang istri sekaligus ibu yang akan selalu menantikan pulangnya Rudi, sang suami, dan juga dua buah cinta pernikahan mereka yang akan selalu mendoakannya. Air mata saya menggenang tatkala membayangkan jika itu terjadi di lingkaran keluarga saya, bahkan terjadi pada kita.

Betapa berat dirasa, namun Allah meringankan segala. Ia punya cara sendiri dalam menunjukkan pilihan yang tepat. Bahkan cinta tak pernah alpa menyapa Rudi dan keluarga besarnya.

Cinta tanpa syarat itu memang nyata adanya. Dan Wilda, beruntung mendapatkannya. Semoga kita bisa bersabar terhadap cobaan yang diberikan-Nya.(Meri Fitriani, S.Pd, Guru SMPN 11 Padang)

Editor : Novitri Selvia
#SMPN 11 Padang #guru pjok #Rudi Priyatno #Meri Fitriani