Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 5 Padang: Guru, Garda Terdepan Cegah Bullying di Sekolah

Zulkarnaini. • Senin, 22 September 2025 | 14:15 WIB
Pepi Susanti, S.Pd.I, M.Pd, GURU SMPN 5 PADANG.(TIM LAMAN GURU)
Pepi Susanti, S.Pd.I, M.Pd, GURU SMPN 5 PADANG.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Kasus bullying yang baru-baru ini terjadi di salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, baru-baru ini kembali menyadarkan kita bahwa dunia pendidikan menghadapi tantangan serius dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan sehat.

Kejadian tersebut sungguh membuat hati kita miris. Bagaimana tidak, sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk belajar justru ternodai oleh perilaku yang menyakiti teman sebaya. Bullying bukan hal sepele.

Ia bisa melukai fisik, merusak perasaan, bahkan meninggalkan trauma panjang. Kasus-kasus bullying di sekolah biasanya berkaitan dengan perbuatan fisik, seperti mendorong, memukul, menampar dan menendang.

Selain fisik, praktek bullying juga sering dilakukan secara verbal, seperti mengejek, mengancam, memberi julukan buruk pada teman dan memfitnah. Apapun bentuk bullyingnya, guru memegang peran penting untuk mencegahnya baik sebelum terjadi maupun menghentikan bullying ketika terjadi.

Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga teladan, pengayom, sekaligus pelindung bagi anak-anak di sekolah. Ada tiga sisi yang bisa dilakukan guru, yakni dari sisi agama, sosial, dan psikologis.

Dari sisi agama bullying jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa seorang muslim sejati adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.

Artinya, mengejek, merendahkan, apalagi menyakiti teman adalah perbuatan dosa. Guru perlu menanamkan hal ini kepada siswa, bahwa akhlak mulia bukan sekadar teori, tapi harus diwujudkan dalam sikap sehari-hari.

Secara sosial, Sekolah adalah miniatur masyarakat. Kalau budaya saling menghargai dijaga, anak-anak akan tumbuh jadi generasi yang peduli dan penuh empati. Sebaliknya, jika bullying dibiarkan, sekolah bisa jadi tempat yang menakutkan.

Guru punya tugas membangun suasana kelas yang ramah: membuat aturan bersama, mendorong kerja sama, memberi penghargaan pada anak-anak yang berperilaku positif, dan jadi penengah jika ada konflik.

Tidak kalah penting, guru harus peka terhadap kondisi mental psikologis murid. Anak yang jadi korban biasanya murung, pendiam, atau kehilangan semangat belajar.

Sebaliknya, pelaku juga sering punya masalah yang perlu dibimbing. Guru bisa menjadi pendengar yang baik bagi korban, sekaligus pembimbing yang tegas bagi pelaku agar mereka sadar dan berubah.

Apa yang harus dilakukan guru ketika praktik bullying benar-benar terjadi? Ketika seorang ataupun sekelompok murid membully temannya di sekolah, guru tidak boleh menutup mata, guru harus segera mengambil langkah-langkah taktis dan strategis.

Langkah pertama tentu menghentikan tindakan dengan tegas. Setelah itu, amankan korban, beri rasa nyaman, lalu ajak bicara dengan penuh empati. Pelaku juga perlu diajak dialog, diberi nasihat, dan jika perlu sanksi yang bersifat mendidik.

Jangan lupa, libatkan orang tua, pihak sekolah, bahkan teman sebaya agar kasus benar-benar selesai dan tidak terulang lagi.

Guru adalah garda terdepan dalam menjaga anak-anak kita di sekolah. Dengan keteladanan, perhatian, dan ketegasan, guru bisa memutus rantai bullying.

Mari jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman, tempat di mana setiap anak merasa dihargai, dilindungi, dan didorong untuk tumbuh menjadi pribadi terbaiknya.(Pepi Susanti, S.Pd.I, M.Pd, Guru SMPN 5 Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Pepi Susanti #bullying anak sekolah #SMPN 5 Padang