PADEK.JAWAPOS.COM-Aku masih ingat, hari itu siang terasa malas di tahun 2003. Aku duduk di bangkuku, menatap papan tulis yang masih menyisakan tulisan pelajaran dari kelas XII, sebelumnya.
Suasana kelas setengah ramai, ada yang mengobrol, ada yang makan bekal, ada pula yang mulai mengerjakan PR mendadak. Aku sendiri hanya memainkan pulpen di tangan, membiarkan pikiranku mengembara ke mana saja.
Di antara hiruk-pikuk suara sepatu berlarian, seseorang menepuk bahuku dari belakang. “Ayi, ini Eem kirim surat.”
Aku menoleh. Itu Vera, temanku sejak SD. Ia tersenyum kecil sambil mengulurkan selembar kertas yang terlipat rapi.
Aku mengenali lipatan itu: bentuk segitiga kecil yang khas, seperti amplop buatan tangan. Di sudutnya, ada tulisan kecil: Untuk Sari.
Kertasnya kertas Big Boss, putih. Aku menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Eem?”
Vera mengangguk. “Iya. Katanya kamu susah dicari, jadi titip lewat aku.”
Vera melihat jam tangannya. “Aku ke kelas dulu ya, bentar lagi bel masuk.”
Aku mengangguk. “Iya, makasih ya, Ver.” Ia tersenyum singkat, lalu melangkah keluar.
Aku membuka lipatan itu dengan hati-hati, takut merusak setiap garisnya. Di dalamnya, tulisan tangan rapi menyapa: Bagaimana kabarmu?
Eem berharap kamu baik-baik saja di sekolah putih abu-abu itu. Kapan-kapan kita ketemuan ya, Eem udah kangen sama kamu. Kata Vera, kamu masih suka menyendiri di sana.
Jangan begitu, Sar. Kamu harus punya teman, tidak baik sendirian.
Eem sekarang sekolah di SMA PGRI 2. Kapan-kapan kita saling mengunjungi ya.
Dari sahabatmu, Eem Sulaini
Aku terdiam lama setelah membaca itu. Huruf-hurufnya seolah hidup, menembus batas waktu dan jarak. Rasanya seperti mendengar suaranya sendiri, ceria, cepat, dan penuh perhatian.
Eem. Teman sebangkuku waktu SD, dan kita juga satu sekolahan saat SMP. Gadis dengan tawa renyah dan rambut dikuncir dua. Kami dulu selalu bersama, cerita kecil yang sepele tapi terasa penting.
Setelah lulus, kami berpisah sekolah. Aku ke SMA PGRI, sementara dia ke SMA PGRI 2. Sejak itu, kami jarang berjumpa. Kadang hanya dengar kabar lewat Vera.
Sekarang, tiba-tiba saja sepucuk suratnya datang di siang hari yang sunyi ini. Bel masuk akhirnya berbunyi, memecah lamunanku. Suara langkah kaki bergema dari lorong, teman-temanku berlarian masuk ke kelas.
Aku buru-buru melipat surat itu, menyelipkannya di buku tulis. Tapi isi suratnya tetap berputar di kepala, mengisi ruang yang selama ini kosong.
Sore itu, di rumah, aku memutuskan membalas suratnya. Aku mengambil selembar kertas Big Boss juga, agar serupa. Di luar, matahari sudah condong ke barat, tapi aku menulis dengan hati yang hangat.
Untuk Eem Sulaini,
Hai Eem, makasih ya sudah kirim surat. Aku senang banget, jujur. Rasanya aneh tapi bahagia tahu kalau kamu masih ingat aku. Aku baik-baik aja, meski kadang masih lebih suka sendiri.
Mungkin karena aku nggak pandai memulai pertemanan baru. Tapi kamu benar, sendirian itu nggak baik. Aku akan coba berubah. Aku senang dengar kamu di SMA PGRI 2. Siapa tahu nanti aku bisa main ke sana, ya. Dari, Sari
Keesokan harinya, aku menemui Vera di halaman belakang sekolah, “Ver, tolong sampaikan ini ke Eem, ya.” Vera menerima surat itu sambil tersenyum. “Wah, kamu bales juga. Pasti dia senang banget.”
Aku ikut tersenyum. “Kayak zaman dulu ya, kirim-kiriman surat.”
“Zaman sekarang aja masih bisa, kok,” kata Vera sebelum berlalu ke arah kelasnya.
Sejak hari itu, surat-surat mulai berganti di antara kami. Tidak setiap minggu, tapi cukup sering untuk membuat hari-hariku terasa berbeda. Eem bercerita tentang lomba puisi yang ia ikuti, tentang temannya yang lucu.
Tahun-tahun berlalu cepat. Ujian akhir datang, semua orang sibuk dengan masa depan. Surat dari Eem mulai jarang datang. Hingga suatu hari, aku menerima satu surat terakhir.
Tulisan tangannya sedikit tergesa. “Sar, maaf ya, Eem sibuk banget akhir-akhir ini. Tapi jangan lupa, kamu sahabat Eem, selalu.”
Setelah itu, tak ada lagi surat yang datang. (Dita Indah Permata Sari, S.Pd, GURU SD NEGERI 10 BANDAR BUAT)