PADEK.JAWAPOS.COM-Keberkahan adalah esensi utama dalam kehidupan seorang muslim. Harta, usia, jabatan, bahkan ilmu pengetahuan tidak akan bermakna apabila tidak menghadirkan keberkahan.
Rezeki yang melimpah tanpa keberkahan hanya akan membawa kegelisahan, sementara rezeki yang sedikit namun diberkahi justru menghadirkan ketenangan dan kecukupan.
Karena itu, yang semestinya menjadi orientasi hidup bukan sekadar kuantitas, melainkan nilai keberkahan yang Allah SWT titipkan di dalamnya.
Bulan Ramadhan hadir sebagai momentum istimewa untuk meraih keberkahan tersebut.
Kehadirannya bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriyah, melainkan undangan ilahi untuk memperbaiki kualitas iman dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Di dalamnya terdapat kewajiban berpuasa, sebuah ibadah fundamental yang menjadi salah satu rukun Islam. Puasa Ramadhan dapat diibaratkan sebagai fondasi bangunan.
Sebagaimana bangunan yang kokoh membutuhkan dasar yang kuat, demikian pula kehidupan beragama memerlukan ibadah yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran.
Jika fondasi dibangun secara asal-asalan, bangunan akan rapuh. Begitu pula jika puasa dijalankan tanpa kesungguhan, maka dampaknya terhadap pembentukan ketakwaan menjadi tidak maksimal.
Karena itu, Ramadhan seharusnya diisi dengan peningkatan kualitas ibadah: memperbanyak shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menjaga lisan, serta menjauhi hal-hal yang sia-sia.
Ramadhan adalah madrasah ruhani yang melatih kesabaran, keikhlasan, dan keistiqamahan. Tujuannya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk pribadi bertakwa.
Sebuah kisah inspiratif dari seorang sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Syakban memberikan pelajaran mendalam tentang makna kesungguhan beramal.
Syakban dikenal sebagai pribadi yang sangat istiqamah dalam beribadah. Ia tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid Rasulullah SAW, bahkan selalu hadir lebih awal dan mendapatkan takbir pertama.
Suatu hari, Rasulullah SAW merasa heran karena Syakban tidak terlihat dalam shalat Subuh berjamaah. Ketidakhadirannya menimbulkan pertanyaan, sebab hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.
Setelah shalat selesai, Rasulullah SAW bersama para sahabat memutuskan untuk mengunjungi rumah Syakban, yang berjarak sekitar dua hingga tiga jam perjalanan dari masjid.
Jarak yang cukup jauh itu menunjukkan betapa besar pengorbanan Syakban demi menjaga konsistensinya dalam berjamaah.
Setibanya di rumah, Rasulullah SAW mendapati kabar bahwa Syakban telah wafat pada pagi hari itu.
Namun sebelum menghembuskan napas terakhir, ia mengucapkan kalimat penuh penyesalan: “Mengapa tidak lebih jauh? Mengapa tidak yang baru? Mengapa tidak semuanya?”
Rasulullah SAW menjelaskan makna penyesalan tersebut. Pertama, “mengapa tidak lebih jauh” merujuk pada pahala langkah menuju masjid. Setiap langkah dicatat sebagai pahala dan penghapus dosa.
Ketika Allah SWT memperlihatkan balasan atas amalnya, Syakban merasa jarak dua hingga tiga jam yang ia tempuh setiap hari masih belum cukup untuk mengumpulkan pahala sebanyak mungkin.
Kedua, “mengapa tidak yang baru” berkaitan dengan peristiwa ketika ia mengenakan dua lapis pakaian karena udara dingin.
Dalam perjalanan ke masjid, ia bertemu seseorang yang kedinginan dan spontan memberikan pakaian luarnya—yang lama—kepada orang tersebut.
Ketika diperlihatkan pahala atas sedekah itu, ia menyesal karena tidak memberikan pakaian yang baru sekalian.
Ketiga, “mengapa tidak semuanya” berhubungan dengan kisah ketika ia membagi roti miliknya kepada seorang pengemis yang kelaparan.
Ia hanya memberikan separuh dari roti yang dimilikinya. Setelah Allah SWT memperlihatkan balasan atas kebaikan itu, ia menyesal karena tidak memberikan seluruh roti tersebut.
Kisah ini menggambarkan bahwa orang-orang saleh pun masih merasa kurang dalam beramal ketika melihat besarnya ganjaran Allah SWT.
Penyesalan mereka bukan karena kurang berbuat baik, tetapi karena merasa belum maksimal dalam memanfaatkan kesempatan hidup.
Dari sini kita belajar bahwa Ramadhan adalah peluang emas yang belum tentu terulang. Jangan sampai bulan penuh ampunan ini berlalu tanpa peningkatan kualitas ibadah.
Perbanyak shalat, maksimalkan puasa, tingkatkan sedekah, dan jaga konsistensi dalam kebaikan. Jangan menunggu hingga akhir hayat untuk menyadari bahwa kesempatan telah terlewat.
Semoga Ramadhan menjadikan kita hamba-hamba yang lebih bertakwa dan meraih keberkahan yang hakiki dalam kehidupan dunia dan akhirat. (Syafri Salmi, S.Pd.I, GURU INSAN CENDEKIA PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia