Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 30 Padang: Gema Syiar, Menenun Karakter di Ruang Spiritual

Novitri Selvia • Senin, 2 Maret 2026 | 13:43 WIB

KHIDMAT : Murid SMP dan SD saat menjalani Pesantren Ramadhan 1447 H di Musala Sakinah baru-baru ini.
KHIDMAT : Murid SMP dan SD saat menjalani Pesantren Ramadhan 1447 H di Musala Sakinah baru-baru ini.

PADEK.JAWAPOS.COM-Suara lantunan shalawat dan ayat suci Al Quran memecah kesunyian pagi di sekitar Musala Sakinah. Ada pemandangan yang tak biasa namun selalu kita rindukan setiap tahunnya di Kota Padang.

Siswa-siswi kita, yang biasanya riuh hiruk-pikuk dengan tugas akademis, kini tampak anggun dan bersahaja dengan busana muslim.

Di Mushalla Sakinah, tempat saya berkhidmat sebagai pembimbing tahun ini, “genderang” Pesantren Ramadhan 1447 H telah dipukul.

Kita tidak lagi berbicara tentang rumus atau tata bahasa di depan papan tulis, melainkan sedang menenun benang-benang karakter di atas sajadah.

Sebagai pembimbing, momen pembukaan Pesantren Ramadhan di Mushalla Sakinah yang di dibuka secara resmi dengan penuh khidmat oleh Emilza, S.STP, S.I.Kom dari DP3AP2KB Kota Padang.

Memberikan getaran tersendiri bagi kita. Kita menyadari bahwa amanah ini bukanlah sekadar urusan absensi atau mengawasi siswa agar tidak ribut saat ceramah berlangsung.

Lebih dari itu, kita sedang menjadi saksi sekaligus pemandu bagi proses perpindahan “ruh” sekolah menuju surau.

Di rumah Allah yang tenang ini, kita memiliki kesempatan emas untuk melihat sisi lain dari anak didik kita, sisi yang mungkin selama ini tersembunyi di balik ketatnya jadwal pelajaran di sekolah.

Menjadikan Mushalla Sakinah Sebagai Laboratorium Kejujuran Salah satu instrumen penting yang kita pegang erat selama kegiatan ini adalah Buku Pesantren Ramadhan resmi dari Pemerintah Kota Padang.

Buku yang sangat komprehensif ini menjadi “kompas” bagi aktivitas siswa selama 24 jam.

Namun, di Mushalla Sakinah, kita menekankan satu hal kepada para siswa: bahwa buku tersebut bukan sekadar “tiket” untuk mendapatkan nilai agama yang bagus. Kita ingin buku itu menjadi cermin kejujuran mereka.

Saat kita mendampingi mereka mengisi kolom shalat lima waktu, shalat sunnah, hingga tadarrus, dan tahfi Al Quran. Kita sebenarnya sedang melatih integritas.

Di sekolah, hadapan kita bersama, kita bicara tentang inovasi digital, namun di Mushalla Sakinah, kita bicara tentang inovasi hati.

Kita mengajak siswa untuk menyadari bahwa tanda tangan pengurus masjid atau pembimbing hanyalah pengakuan manusia, sedangkan esensi dari setiap centang di buku tersebut adalah laporan langsung mereka kepada Sang Pencipta.

Inilah literasi spiritual yang sesungguhnya: memahami teks perintah agama dan mengamalkannya dengan penuh kesadaran.

Sinergi Pembimbing, Pengurus, dan Masyarakat Kekuatan Pesantren Ramadhan di Mushalla Sakinah terletak pada kolaborasi kolektif kita.

Kita melihat bagaimana pengurus mushalla menyambut anak-anak kita dengan tangan terbuka, dan bagaimana masyarakat sekitar ikut memberikan dukungan, baik moril maupun materil.

Sebagai pembimbing, kita berperan sebagai jembatan yang menghubungkan aturan sekolah dengan kearifan lokal di masjid.

Kita sering berdiskusi di sela-sela waktu istirahat mengenai tantangan mendidik generasi “Z” dan “Alpha” ini di lingkungan spiritual.

Kita menyadari bahwa cara kita membimbing tidak bisa lagi hanya dengan perintah yang kaku. Kita perlu pendekatan yang lebih personal, mendengar keluh kesah mereka tentang puasa, hingga memotivasi mereka agar tetap semangat mengikuti rangkaian kegiatan dari pagi hingga siang.

Di Mushalla Sakinah, kita belajar kembali bahwa menjadi guru adalah tentang kehadiran hati. Saat kita duduk melingkar bersama mereka saat tadarrus, di sanalah kedekatan emosional itu terbangun dengan kuat.

Menjemput “Sakinah” dalam Pembelajaran Sesuai dengan nama mushalla tempat kita bertugas, tujuan besar kita adalah menghadirkan rasa “Sakinah” atau ketenangan dalam proses belajar siswa.

Kita ingin mereka merasakan bahwa belajar agama itu tidak membebani, melainkan menyejukkan.

Ketika mereka merangkum ceramah dari para ustadz, kita mendorong mereka untuk menemukan satu kalimat saja yang paling menyentuh hati mereka untuk diterapkan di rumah.

Proses ini adalah bagian dari perjuangan tinggi yang pernah kita bahas dalam kompetisi guru terbaik.

Jika di panggung lomba kita diuji secara akademis, maka di Mushalla Sakinah ini, kualitas kita sebagai pendidik diuji melalui kesabaran dan keteladanan.

Kita tidak bisa menyuruh siswa shalat berjamaah tepat waktu jika kita sendiri tidak berada di barisan terdepan.

Kita tidak bisa meminta mereka jujur mengisi buku agenda jika kita sendiri tidak menunjukkan dedikasi dalam membimbing mereka.

Penutup: Warisan Karakter dari Mushalla Sakinah Waktu pelaksanaan Pesantren Ramadhan memang terbatas, namun dampak yang ingin kita tanamkan haruslah bersifat abadi.

Kita berharap, saat kegiatan di Mushalla Sakinah ini berakhir nanti, siswa-siswi kita kembali ke sekolah dengan membawa perubahan yang nyata.

Kita ingin mereka pulang dengan membawa semangat kemandirian, kedisiplinan shalat yang terjaga, dan budi pekerti yang lebih luhur.

Melalui artikel ini, mari kita sampaikan pesan kepada seluruh orang tua: Mari kita percayakan anak-anak kita pada proses yang sedang berlangsung di masjid dan mushalla ini.

Dukungan doa dan perhatian orang tua di rumah akan menyempurnakan bimbingan yang kita berikan di mushalla.

Baca Juga: Kemenhaj Imbau Tunda Umrah, Persiapan Haji 2026 Tetap Berjalan

Malam-malam di bulan Maret ini mungkin melelahkan bagi kita para pembimbing, namun melihat anak didik kita khusyuk bersujud di Mushalla Sakinah adalah obat lelah yang paling mujarab.

Mari kita terus bergerak, membimbing dengan cinta, dan mendidik dengan teladan.

Semoga setiap butir peluh kita di jalan dakwah dan pendidikan ini menjadi saksi keberhasilan kita dalam mencetak generasi Rabbani yang membanggakan Kota Padang. (Zahratil Husna, GURU SMPN 30 PADANG)

Editor : Novitri Selvia
#SMP Negeri 30 Padang #Gema Syiar Islam #Zahratil Husna