Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Batagak Gala Sumber Inspirasi Pembelajaran Adat dan Budaya

Adriyanto Syafril • Jumat, 10 April 2026 | 10:10 WIB
Prosesi pelaksanaan Batagak Gala Datuak atau Pangulu di Nagari Sawah Tangah, Rabu (24/3). (TIM LAMAN GURU)
Prosesi pelaksanaan Batagak Gala Datuak atau Pangulu di Nagari Sawah Tangah, Rabu (24/3). (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM - Nagari Sawah Tangah pada tanggal 24 Maret 2026 menjadi saksi sebuah peristiwa adat yang sarat makna, yakni pelaksanaan Batagak Gala Datuak atau Pangulu. Prosesi ini bukan sekadar seremoni pengangkatan pemimpin kaum dalam adat Minangkabau, melainkan juga momentum penting dalam merawat nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. 

Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan inspirasi yang sangat berharga bagi dunia pendidikan, khususnya dalam upaya mengenalkan adat dan budaya Minangkabau kepada anak usia dini di PAUD Al-Fa’izin.

Batagak Gala Datuak merupakan simbol pengukuhan seorang pemimpin adat yang akan menjadi panutan dalam kaum dan nagari. Dalam prosesi tersebut, tergambar jelas nilai-nilai kebersamaan, musyawarah, tanggung jawab, serta penghormatan terhadap tradisi. Seluruh rangkaian acara dilaksanakan dengan penuh khidmat, melibatkan niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, serta masyarakat luas. Bagi masyarakat Minangkabau, peristiwa ini bukan hanya tentang pemberian gelar, tetapi juga peneguhan identitas dan jati diri budaya.

Baca Juga: Tol Pekanbaru–Padang Dipercepat, Ruas Sicincin–Bukittinggi Dikebut

Bagi PAUD Al-Fa’izin, kehadiran peristiwa adat ini menjadi sumber belajar kontekstual yang sangat kaya. Anak-anak usia dini pada dasarnya belajar melalui pengalaman langsung dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, memperkenalkan budaya tidak cukup hanya melalui cerita atau gambar, tetapi perlu menghadirkan pengalaman nyata yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan. Batagak Gala Datuak menjadi media pembelajaran yang hidup, yang memungkinkan anak-anak memahami budaya secara lebih mendalam dan bermakna.

Dalam konteks pendidikan anak usia dini, pengenalan budaya lokal memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter. Nilai-nilai yang terkandung dalam adat Minangkabau, seperti “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”, mengajarkan keseimbangan antara norma sosial dan nilai keagamaan. Melalui pengenalan budaya sejak dini, anak-anak tidak hanya mengenal identitasnya, tetapi juga belajar menghargai warisan leluhur serta mengembangkan sikap hormat, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Pasca kegiatan Batagak Gala Datuak, para pendidik di PAUD Al-Fa’izin merancang berbagai aktivitas pembelajaran yang terinspirasi dari peristiwa tersebut. Anak-anak diajak berdiskusi sederhana tentang apa yang mereka lihat, seperti pakaian adat yang dikenakan, musik tradisional yang dimainkan, serta peran tokoh-tokoh dalam acara tersebut. Guru menggunakan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak, seperti melalui bercerita, bermain peran, menggambar, dan bernyanyi.

Baca Juga: OJK: Pajak Kripto Tembus Rp1,96 T, Pengguna Terus Bertambah

Salah satu kegiatan yang menarik adalah bermain peran “Batagak Pangulu” dalam versi sederhana. Anak-anak diberi kesempatan untuk mengenakan pakaian adat mini dan memerankan tokoh-tokoh dalam prosesi adat. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu anak memahami peran sosial dalam masyarakat. Mereka belajar bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing, serta pentingnya bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

Selain itu, guru juga mengembangkan media pembelajaran berupa buku cerita bergambar yang mengangkat kisah Batagak Gala Datuak dengan bahasa yang sederhana dan ilustrasi yang menarik. Buku ini menjadi sarana literasi budaya yang efektif, karena anak-anak dapat memahami cerita dengan cara yang sesuai dengan usia mereka. Melalui cerita, nilai-nilai seperti kepemimpinan, kebijaksanaan, dan keadilan dapat ditanamkan secara halus dan menyenangkan.

Kegiatan lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran. PAUD Al-Fa’izin mengajak orang tua untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang adat Minangkabau di rumah. Orang tua didorong untuk menceritakan kembali pengalaman mereka saat menghadiri acara adat, mengenalkan istilah-istilah adat, serta membiasakan anak menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari. Sinergi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci keberhasilan dalam menanamkan nilai budaya kepada anak.

Baca Juga: Penguatan HAM di Pariaman, Tegaskan Layanan Kesehatan Tanpa Diskriminasi

Momentum Batagak Gala Datuak juga menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya harus dimulai sejak usia dini. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, anak-anak semakin terpapar pada budaya luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai lokal. Oleh karena itu, pendidikan berbasis budaya menjadi sangat penting untuk menjaga identitas dan jati diri generasi penerus.


PAUD Al-Fa’izin sebagai lembaga pendidikan memiliki komitmen kuat dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam kurikulum pembelajaran. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk mengenalkan budaya, tetapi juga untuk membentuk karakter anak yang berakar pada nilai-nilai luhur masyarakatnya. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya tumbuh cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat dan berbudaya.

Lebih jauh, pengalaman belajar yang bersumber dari peristiwa nyata seperti Batagak Gala Datuak memberikan dampak yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran yang bersifat abstrak. Anak-anak menjadi lebih mudah mengingat dan memahami karena mereka mengalami langsung. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran pada anak usia dini yang menekankan pada pengalaman konkret dan bermakna.

Keberhasilan PAUD Al-Fa’izin dalam memanfaatkan peristiwa adat sebagai sumber pembelajaran juga menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan lainnya. Setiap daerah memiliki kekayaan budaya yang dapat dijadikan sumber belajar. Dengan kreativitas dan komitmen pendidik, budaya lokal dapat diintegrasikan dalam pembelajaran secara menarik dan relevan.

Baca Juga: Simentai Imigrasi Padang Layani 15 WNI dan WNA di Mentawai

Di sisi lain, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat. PAUD tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem sosial yang lebih luas. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran, anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih autentik dan kontekstual. Masyarakat pun merasa memiliki peran dalam pendidikan generasi muda.

Sebagai penutup, Batagak Gala Datuak di Nagari Sawah Tangah bukan hanya sebuah peristiwa adat, tetapi juga sumber inspirasi yang luar biasa bagi dunia pendidikan anak usia dini. Melalui kegiatan ini, PAUD Al-Fa’izin menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya, bermakna, dan relevan. Upaya ini menjadi langkah nyata dalam menjaga dan melestarikan budaya Minangkabau sekaligus membentuk generasi yang berkarakter, beridentitas, dan bangga terhadap warisan leluhurnya.


Dengan semangat “alam takambang jadi guru”, setiap peristiwa di sekitar kita sesungguhnya adalah sumber pembelajaran. Tinggal bagaimana kita mampu mengolahnya menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak. Batagak Gala Datuak telah membuktikan bahwa adat bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari, dihayati, dan diwariskan kepada generasi masa depan. (Emelda, M.Ed, M.Pd - PAUD Al-Fa’izin Sawah Tangah)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru #guru