Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketika Layar Menggantikan Pelukan

Adriyanto Syafril • Selasa, 28 April 2026 | 08:32 WIB
Sry Eka Handayani, M.Pd
Sry Eka Handayani, M.Pd

Penulis : Sry Eka Handayani, M.Pd - Kepala Sekolah SDN 06 Parit Antang Bukittinggi

PADEK.JAWAPOS.COM - Di banyak rumah hari ini, keheningan bukan lagi tanda kedamaian, melainkan tanda keterputusan. Anak duduk tenang menatap layar, sementara orang tua berada di dekatnya tanpa percakapan berarti.

Mereka bersama, tetapi tidak saling terhubung. Relasi yang seharusnya hangat dan hidup perlahan digantikan oleh cahaya dingin dari gawai.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan kebiasaan, melainkan pergeseran cara anak tumbuh dan belajar. Data terbaru menunjukkan lebih dari 78% anak usia 5–17 tahun di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, dengan tingkat penggunaan internet mendekati 74%. Pada usia dini, lebih dari 40% anak sudah terpapar gawai. Ironisnya, sebagian besar penggunaan internet oleh anak masih didominasi untuk hiburan, bukan pembelajaran. Angka-angka ini tidak sekadar statistik. Ia adalah cermin dari realitasanak-anak kita tumbuh dalam limpahan informasi, tetapi miskin interaksi bermakna. Mereka cepat mengakses, tetapi lambat memahami. Mereka aktif di layar, tetapi pasif dalam kehidupan nyata.

Psikolog perkembangan Jean Piaget menegaskan bahwa anak belajar melalui interaksi aktifmengamati, mencoba, dan berkomunikasi. Sementara Lev Vygotsky menekankan bahwa perkembangan kognitif anak bertumpu pada interaksi sosial. Ketika ruang interaksi itu menyempit, digantikan oleh layar yang serba instan, maka proses belajar anak pun kehilangan kedalamannya. Dampaknya mulai terasa nyata. Anak lebih mudah bosan, sulit fokus, dan cepat berpindah perhatian. Mereka terbiasa dengan stimulasi cepat, tetapi tidak terlatih untuk berpikir mendalam.  Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan akademik, melainkan persoalan karakter dan ketahanan mental.

Dalam perspektif Islam, persoalan ini jauh lebih mendasar. Pendidikan anak bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa keluarga adalah benteng pertama pendidikan, bukan layar.Rasulullah saw. juga mengingatkan, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang tua bukan sekadar penyedia fasilitas, melainkan pendidik utama. Ketika anak lebih dekat dengan layar daripada orang tuanya, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku anak, tetapi kehadiran orang tua itu sendiri.

Lebih jauh, Al-Qur’an menghadirkan teladan pendidikan melalui kisah Luqman. Nasihatnya dimulai dengan panggilan penuh kasih, “Wahai anakku…” (QS. Luqman: 13). Ini bukan sekadar kata, melainkan pendekatan. Pendidikan dimulai dari kedekatan, bukan dari perintah.

Sayangnya, banyak keluarga hari ini tanpa sadar menyerahkan ruang interaksi itu kepada teknologi. Gawai menjadi “pengasuh kedua” yang diam-diam mengambil alih peran orang tua. Anak menjadi tenang, tetapi bukan karena terpenuhi kebutuhannya, melainkan karena terdistraksi. Solusi dari persoalan ini bukanlah pelarangan total terhadap teknologi. Dunia digital adalah bagian dari kehidupan modern yang tidak bisa dihindari. Namun, yang mendesak adalah mengembalikan keseimbangan. Gawai harus menjadi alat, bukan pengganti relasi. Orang tua perlu hadir secara utuhbukan hanya di rumah, tetapi juga dalam perhatian. Membatasi waktu layar, menciptakan waktu tanpa gawai, serta membangun kebiasaan sederhana seperti membaca bersama, bercerita, dan berdiskusi adalah langkah kecil dengan dampak besar. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang hadir.

Pada akhirnya, kita perlu jujur pada satu pertanyaan: apakah anak kita lebih mengenal isi layar daripada isi hati orang tuanya?Jika jawabannya “ya”, maka ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan tanda bahwa fondasi keluarga sedang rapuh. Dan jika fondasi itu tidak segera diperkuat, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara digital, tetapi rapuh secara emosional dan sosial.Anak tidak tumbuh dari layar. Mereka tumbuh dari pelukan, percakapan, dan kehadiran. Dan di sanalah masa depan sebenarnya sedang dibentuk. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#gadget anak #Laman Guru