Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Gudang Buku jadi Pusat Literasi

Adriyanto Syafril • Rabu, 13 Mei 2026 | 10:00 WIB
Siswa SMPN 1 Suliki mengikuti Lomba desain poster yang diselenggarakan Perpustakaan Tan Malaka SMP SAKI dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)
Siswa SMPN 1 Suliki mengikuti Lomba desain poster yang diselenggarakan Perpustakaan Tan Malaka SMP SAKI dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu. (TIM LAMAN GURU)

Penulis : Abdul Rahman - Pustakawan Tan Malaka UPTD SMPN1  Kecamatan Suliki

Sejak berdirinya UPTD SMP Negeri 1 Kecamatan Suliki, perpustakaan sekolah hanya menjalankan fungsi klasik: tempat menyimpan buku, meminjam, dan mengembalikan.

Aktivitasnya sunyi, nyaris tanpa denyut kehidupan. Siswa datang hanya saat perlu, bukan karena ingin. Perpustakaan belum menjadi ruang tumbuh, melainkan sekadar ruang singgah.

Namun, keadaan itu mulai berubah sejak tahun 2025. Ketika saya dipercaya menjadi pustakawan, muncul satu keyakinan sederhana: perpustakaan tidak boleh berhenti sebagai gudang buku.

Ia harus menjadi jantung sekolah—ruang hidup yang menggerakkan literasi, kreativitas, karakter, bahkan spiritualitas siswa.

Langkah pertama yang dilakukan adalah membangun identitas baru. Saya mengusulkan perubahan nama menjadi Perpustakaan Tan Malaka SMP SAKI, sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pemikir besar bangsa sekaligus simbol keberanian berpikir kritis.

Kini, perpustakaan ini telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) 130701E1000002, menandai eksistensinya secara resmi dalam sistem perpustakaan nasional.

Transformasi tidak berhenti pada nama. Perubahan nyata dimulai dari menghadirkan inovasi ruang dan program. Salah satunya adalah Pojok Baca Tan Malaka, ruang literasi yang dirancang lebih nyaman, menarik, dan ramah siswa.

Tidak hanya di perpustakaan, budaya literasi juga “dibawa keluar” melalui lomba pojok baca antar kelas. Setiap kelas berlomba menghadirkan sudut baca kreatif, menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari siswa.

Program-program kreatif lainnya lahir dari perencanaan kerja tahunan yang disusun bersama kepala perpustakaan. Perpustakaan kini menjadi pusat kegiatan siswa melalui berbagai lomba, seperti lomba mading antar kelas, desain poster pada peringatan hari besar nasional dan keagamaan (PHBN/PHBI), cipta puisi, hingga lomba melukis.

Bahkan, kegiatan kepramukaan pun masuk ke ranah literasi melalui lomba miniatur pionering. Semua ini bertujuan menumbuhkan kreativitas sekaligus rasa memiliki terhadap perpustakaan.

Inovasi yang tidak kalah penting adalah hadirnya program SAKATO (Santri Al-Qur’an, Kader Aktif, Taqwa, dan Orator Ummat). Program ini menjadi bentuk integrasi antara literasi dan pembinaan karakter religius.

Dilaksanakan dua kali dalam seminggu, yaitu setiap Senin dan Kamis pada jam pembelajaran G7KAIH, kegiatan ini dipusatkan di perpustakaan dan mushala sekolah. Melalui kerja sama dengan KUA Kecamatan Suliki yang diperkuat dengan MoU, program ini juga mendukung visi pemerintah daerah melalui gerakan Sakato Mangaji.

Target besar yang ingin dicapai adalah Khatam Al-Qur’an Akbar oleh seluruh siswa—sebuah cita-cita yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga membentuk generasi berkarakter kuat.

Perpustakaan juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pembelajaran kini didukung oleh penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis digital, yang merupakan bantuan dari Pemerintah Republik Indonesia.

Kehadiran fasilitas ini menjadi bukti nyata komitmen negara dalam memajukan kualitas pendidikan di sekolah. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang telah menghadirkan berbagai program strategis bagi dunia pendidikan Indonesia.

Dengan dukungan teknologi ini, suasana belajar menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan tidak monoton. Siswa tidak lagi hanya membaca, tetapi juga berinteraksi dengan materi secara visual dan dinamis.

Menariknya, perpustakaan juga menjadi ruang inklusif bagi berbagai minat siswa. Turnamen Mobile Legends diadakan sebagai bentuk pendekatan terhadap dunia digital yang digemari siswa, namun tetap diarahkan pada nilai sportivitas, strategi, dan kebersamaan. Selain itu, kegiatan Gebyar Bulan Bahasa semakin menghidupkan suasana perpustakaan melalui beragam lomba literasi.

Tidak hanya siswa, guru pun turut memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat pembinaan. Beberapa guru wali kelas bahkan memusatkan kegiatan pembinaan siswa di perpustakaan, menjadikannya ruang diskusi, refleksi, dan penguatan karakter.

Untuk memperluas jangkauan, perpustakaan Tan Malaka juga hadir di dunia digital melalui website: tanmalakalib-dveoqbkx.manus.space,serta media sosial Instagram (@perpustakaan.tanmalaka.smpsaki) dan TikTok (@pustakatanmalakasmpsaki). Kehadiran ini menjadi jembatan komunikasi sekaligus sarana publikasi kegiatan agar lebih dikenal luas.

Transformasi ini menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah memiliki potensi besar jika dikelola dengan visi dan inovasi. Dari ruang yang dahulu sepi, kini menjadi pusat aktivitas yang hidup, kreatif, dan bermakna. Perpustakaan bukan lagi tempat yang dihindari, tetapi ruang yang dirindukan.

Inovasi ini bukan sekadar perubahan program, tetapi perubahan paradigma. Bahwa perpustakaan adalah ruang peradaban—tempat ilmu, karakter, dan kreativitas tumbuh bersama. Dan dari Suliki, langkah kecil ini diharapkan mampu menginspirasi banyak sekolah lainnya untuk menghidupkan kembali perpustakaan sebagai jantung pendidikan. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Perpustakaan SMPN 1 Suliki #transformasi perpustakaan #perpustakaan sekolah #tan malaka #Literasi Sekolah