Penulis : Arespi Junindra, M.Pd. - Guru SDN 32 Bungo Pasang
Bulan Mei selalu menjadi momentum penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Setelah peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei, sekolah-sekolah tidak hanya berbicara tentang capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai karakter, spiritualitas, dan penguatan mental peserta didik.
Semangat inilah yang coba kami hadirkan di SD Negeri 32 Bungo Pasang melalui kegiatan muhasabah bersama siswa kelas VI di Masjid Muhajirin yang berada di sebelah sekolah, Kamis (13/5).
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk refleksi dan penguatan spiritual menjelang Ujian Akhir Sekolah (UAS) yang akan berlangsung pada 18, 19, dan 20 Mei 2026. Tidak hanya siswa, orang tua murid juga diundang hadir mendampingi anak-anak mereka. Selain itu, seorang ustaz turut memimpin jalannya muhasabah agar suasana menjadi lebih khidmat dan penuh makna.
Di tengah tuntutan pendidikan yang semakin kompetitif, anak-anak sering kali menghadapi tekanan menjelang ujian. Mereka bukan hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu mengendalikan rasa takut, cemas, dan kurang percaya diri. Karena itu, sekolah merasa perlu menghadirkan ruang refleksi agar siswa memiliki kesiapan lahir dan batin.
Kegiatan refleksi spiritual ini bukan sekadar seremonial keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana mengajak siswa mengenali diri, memperbaiki niat belajar, menghargai perjuangan orang tua, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan kecerdasan, tetapi juga doa, usaha, dan akhlak yang baik.
Dalam suasana masjid yang tenang, siswa diajak merenungkan perjalanan belajar mereka selama enam tahun di sekolah dasar. Beberapa siswa tampak haru ketika mengingat pengorbanan orang tua yang selalu bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya. Tidak sedikit pula orang tua yang meneteskan air mata saat mendengar doa-doa yang dipanjatkan bersama.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat pendidikan sejatinya bukan hanya tentang angka dan nilai rapor. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang berkarakter, beriman, disiplin, dan bertanggung jawab.
Semangat tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, yang menegaskan, pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Melalui refleksi bersama tersebut, siswa tidak hanya dipersiapkan menghadapi ujian akademik, tetapi juga dibimbing agar memiliki kekuatan moral, ketenangan jiwa, serta rasa hormat kepada orang tua dan guru.
Ki Hadjar Dewantara juga terkenal dengan filosofi “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Filosofi ini mengajarkan bahwa pendidikan harus dibangun melalui keteladanan, kebersamaan, dan dorongan positif. Dalam kegiatan muhasabah tersebut, guru hadir memberi teladan, orang tua memberikan dukungan, sedangkan ustaz membimbing spiritual siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.
Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat juga menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Budayawan, sastrawan, dan wartawan senior kelahiran Padang, Sumatera Barat, yang berasal dari keluarga keturunan Mandailing, Sumatera Utara, Mochtar Lubis, dalam bukunya “Manusia Indonesia” menekankan pentingnya membangun karakter, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan generasi muda.
Pendidikan tidak cukup hanya melahirkan anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk pribadi yang memiliki integritas dan kepedulian sosial. Nilai-nilai inilah yang coba ditanamkan kepada siswa melalui kegiatan muhasabah, yakni membangun kesadaran bahwa keberhasilan ujian harus disertai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan doa.
Kehadiran orang tua memberikan dukungan moral yang besar bagi siswa. Anak-anak merasa bahwa perjuangan menghadapi ujian bukanlah beban yang harus dipikul sendiri, melainkan perjalanan bersama yang didukung oleh keluarga dan guru.
Kepala SD Negeri 32 Bungo Pasang, Aida Asari, S.Pd., menyampaikan, kegiatan muhasabah ini merupakan bagian dari upaya sekolah membentuk karakter siswa secara utuh. Menurut beliau, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik semata, tetapi juga dari sikap, akhlak, dan kesiapan mental peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Kami berharap melalui kegiatan ini siswa lebih tenang, percaya diri, dan memiliki semangat belajar yang lebih baik dalam menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Dukungan orang tua dan guru menjadi kekuatan penting agar anak-anak merasa tidak sendiri dalam menghadapi ujian,” ujarnya.
Beliau juga menambahkan, sekolah akan terus berupaya menghadirkan kegiatan-kegiatan positif yang mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan penguatan karakter dan spiritual siswa. Menurutnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu membentuk anak menjadi pribadi yang cerdas, beradab, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Bagi guru, momen ini menjadi pengingat bahwa tugas mendidik tidak hanya menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Guru juga memiliki tanggung jawab membimbing hati dan karakter siswa. Di era modern saat ini, pendidikan karakter dan penguatan spiritual justru semakin penting agar anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan moral.
Kegiatan di Masjid Muhajirin itu menjadi pengalaman berharga bagi siswa kelas VI SD Negeri 32 Bungo Pasang. Dari sana, mereka belajar bahwa ujian bukan hanya tentang memperoleh nilai tinggi, tetapi juga tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan tawakal setelah berusaha.
Semoga kegiatan sederhana ini mampu memberikan semangat dan ketenangan bagi siswa dalam menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Lebih dari itu, semoga pendidikan di Indonesia terus bergerak menuju pendidikan yang memanusiakan manusia, menguatkan karakter, dan menumbuhkan generasi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia.
Selamat menempuh Ujian Akhir Sekolah untuk seluruh siswa kelas VI SD Negeri 32 Bungo Pasang. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, hormati orang tua dan guru, serta iringi setiap usaha dengan doa. Karena pendidikan terbaik bukan hanya mencetak anak yang pintar, tetapi juga anak yang memiliki hati, adab, dan masa depan yang baik. (*)
Editor : Adriyanto Syafril