Penulis : Yuhermita, S.Si - Guru SMK Negeri 6 Padang
Perpisahan sekolah merupakan momen istimewa yang sangat dinantikan siswa setelah menyelesaikan pendidikan selama beberapa tahun. Di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), acara perpisahan sering menjadi ajang perayaan besar yang dipenuhi berbagai seremonial dan kemewahan.
Tidak jarang, acara tersebut membutuhkan biaya tinggi dan persiapan yang rumit. Padahal, makna utama perpisahan bukanlah kemegahan acara, melainkan rasa syukur atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan serta kesiapan melangkah menuju masa depan.
Karena itu, sudah saatnya budaya seremonial berlebihan dalam perpisahan SMK mulai dilunturkan dan diganti dengan konsep tasyakuran yang lebih sederhana, bermakna, serta sarat nilai pendidikan. Tasyakuran menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada guru dan orang tua yang telah mendampingi proses belajar siswa.
Konsep tasyakuran dapat dilaksanakan secara sederhana, namun tetap berkesan. Kegiatan seperti pelepasan siswa kelas XII, doa bersama, tausiah, penampilan kreativitas siswa, makan bersama, serta penyampaian pesan dan kesan akan menghadirkan suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Kesederhanaan tersebut justru mampu mempererat hubungan antara siswa, guru, dan orang tua tanpa harus dibebani biaya besar.
Mengurangi seremonial perpisahan juga menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi ekonomi orang tua siswa. Tidak semua keluarga mampu memenuhi kebutuhan biaya acara yang mewah.
Dengan konsep tasyakuran, sekolah menunjukkan bahwa kebersamaan dan rasa syukur jauh lebih penting dibandingkan kemegahan acara sesaat.
Selain itu, tasyakuran di SMK dapat menjadi pembelajaran karakter bagi siswa. Dunia kerja yang akan mereka hadapi menuntut sikap sederhana, bertanggung jawab, dan menghargai proses.
Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui kegiatan perpisahan yang tidak berlebihan, tetapi tetap penuh makna dan penghormatan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan juga perlu memberikan teladan bahwa keberhasilan tidak harus dirayakan dengan kemewahan. Perpisahan seharusnya menjadi momentum refleksi atas perjuangan selama belajar di SMK, sekaligus langkah awal memasuki dunia kerja, perguruan tinggi, maupun kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, melunturkan seremonial perpisahan dan menggantinya dengan tasyakuran bukan berarti mengurangi kebahagiaan siswa. Justru melalui kesederhanaan, acara perpisahan di SMK akan terasa lebih tulus, hangat, dan bermakna.
Dari sana akan lahir kenangan indah yang tidak hanya dikenang karena kemeriahannya, tetapi juga karena nilai syukur dan kebersamaan yang tertanam di dalamnya.(*)
Editor : Adriyanto Syafril