Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Stop Budaya Normalisasi Pacaran

Adriyanto Syafril • Selasa, 26 Mei 2026 | 08:15 WIB
GENI DEWITA SARI, S.Sos, Gr
Geni Dewita Sari, S.Sos, Gr

Penulis : Geni Dewita Sari, S.Sos, Gr - Guru Antropologi SMA Swasta Banuhampu

Fenomena pacaran di kalangan pelajar dan mahasiswa saat ini semakin dianggap normal. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), sekitar 81% remaja perempuan dan 84% remaja laki-laki usia remaja (termasuk pelajar) telah berpacaran. 

Sementara itu, lingkup mahasiswa, survei lembaga pendidikan tinggi mencatat sekitar 32% hingga 42% mahasiswa sedang aktif menjalin hubungan  selama masa kuliah.

Banyak remaja merasa harus memiliki pacar agar dianggap keren, gaul, dan tidak berbeda dari teman-temannya. Masa sekolah dan kuliah seharusnya digunakan untuk belajar, mencari pengalaman, mengembangkan bakat, dan mempersiapkan masa depan. Namun kenyataannya, banyak pelajar dan mahasiswa lebih sibuk memikirkan hubungan asmara dibanding pendidikan mereka sendiri. Waktu belajar sering habis untuk mengobrol, bermain bersama pasangan, atau memikirkan masalah percintaan sehingga fokus belajar dan semangat meraih cita-cita menjadi berkurang.Padahal, kebiasaan tersebut dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan dan masa depan mereka.

Salah satu dampak buruk pacaran adalah menurunnya prestasi belajar. Pelajar dan mahasiswa yang terlalu fokus pada pacaran biasanya sulit berkonsentrasi saat belajar. Pikiran mereka lebih banyak tertuju pada pasangan dibanding tugas sekolah, kuliah, atau masa depan. Ketika sedang bertengkar dengan pacar, mereka menjadi malas belajar dan sulit fokus. Akibatnya, nilai menurun, tugas terbengkalai, dan semangat belajar semakin berkurang. Bahkan, ada yang rela melanggar aturan sekolah atau meninggalkan perkuliahan demi bertemu pasangan.

Selain itu pacaran juga dapat memengaruhi kondisi mental dan emosional anak muda. Pada usia remaja dan awal dewasa, emosi seseorang masih mudah berubah dan belum sepenuhnya stabil. Saat hubungan berjalan baik, mereka merasa sangat bahagia. Namun ketika terjadi pertengkaran atau putus cinta, banyak pelajar dan mahasiswa menjadi sedih berlebihan, stres, bahkan kehilangan semangat hidup. Ada yang menjadi murung, malas sekolah atau kuliah, sulit makan, dan tidak fokus belajar.

Pacaran juga bisa membawa mereka ke dalam pergaulan yang tidak baik. Demi menyenangkan pasangan, sebagian pelajar dan mahasiswa rela berbohong kepada orang tua, melanggar aturan, hingga melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama dan sosial. Tidak sedikit pula kasus kehamilan di luar nikah yang melibatkan pelajar maupun mahasiswa, bahkan ada yang meninggal dunia di bunuh pacarnya.Hal ini tentu sangat merugikan karena dapat merusak masa depan mereka.

Media sosial menjadi salah satu penyebab kuat mengapa pacaran semakin dinormalisasi. Banyak konten di media sosial menunjukkan hubungan romantis sebagai sesuatu yang indah dan membanggakan. Foto bersama pasangan, video romantis, hadiah ulang tahun, dan tren pasangan membuat banyak anak muda merasa iri jika tidak memiliki pacar. Mereka akhirnya berpikir bahwa memiliki pacar adalah tanda kebahagiaan dan kesuksesan. Padahal, kebahagiaan seseorang tidak ditentukan dari punya pacar atau tidak, melainkan dari prestasi, sikap baik, dan kemampuan yang dimiliki.

Selain media sosial, tontonan dan lingkungan sekitar juga memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir remaja. Banyak film dan sinetron menggambarkan pacaran sebagai hal utama dalam kehidupan anak muda. Akibatnya, banyak pelajar dan mahasiswa mulai berpikir bahwa cinta adalah prioritas utama dibanding pendidikan. Padahal, masa muda adalah waktu yang sangat berharga untuk membangun masa depan. Jika waktu tersebut dihabiskan hanya untuk pacaran, maka banyak kesempatan penting yang bisa terlewatkan.

Lingkungan pergaulan juga sangat memengaruhi pola pikir mereka. Jika teman-teman di sekitarnya menganggap pacaran sebagai hal biasa, maka mereka akan mudah mengikuti kebiasaan tersebut. Banyak yang takut dijauhi teman jika tidak mengikuti tren pacaran. Oleh sebab itu, lingkungan yang baik sangat penting untuk membantu pelajar dan mahasiswa tetap fokus pada pendidikan dan masa depan mereka.

Orang tua memiliki peran besar dalam membimbing anak-anak agar tidak salah dalam bergaul. Orang tua perlu memberikan perhatian, pengawasan, dan nasihat kepada anak-anak mereka. Selain itu, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak juga sangat penting agar mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang masalah yang dihadapi. Dengan bimbingan yang baik, anak muda akan lebih mudah memahami mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya.

 

Sekolah dan kampus juga harus ikut berperan dalam mencegah normalisasi pacaran yang berlebihan. Guru dan dosen tidak hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik karakter peserta didik. Sekolah dan kampus dapat memberikan pendidikan moral, agama, dan etika pergaulan agar pelajar dan mahasiswa memahami pentingnya menjaga diri dan fokus pada masa depan. Selain itu, kegiatan positif seperti organisasi, olahraga, seni, dan kegiatan keagamaan perlu diperkuat agar anak muda lebih fokus mengembangkan bakat dan kemampuan mereka.

Pelajar dan mahasiswa perlu menyadari bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk mengejar impian dan membanggakan orang tua. Prestasi dan pendidikan jauh lebih penting daripada hubungan asmara yang belum tentu bertahan lama. Jika anak muda fokus belajar dan mengembangkan diri, maka mereka akan memiliki masa depan yang lebih baik. Kesuksesan tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang memiliki pasangan, tetapi oleh usaha, kerja keras, dan kedisiplinan dalam meraih cita-cita.

Fokuskan sebagian besar waktu dan pikiran untuk belajar, berkarya, dan beribadah, sedangkan sisanya gunakan untuk membangun pertemanan yang sehat dan saling mendukung. Gunakan masa muda untuk memperbaiki diri, menambah ilmu, mengikuti kegiatan positif, serta membangun masa depan yang membanggakan. Jangan sampai hubungan asmara membuat tujuan hidup menjadi terganggu. Anak muda yang hebat bukanlah mereka yang sibuk mencari pasangan, tetapi mereka yang sibuk mengejar impian dan membangun kualitas diri.

Menghentikan normalisasi budaya pacaran bukan berarti melarang anak muda berteman atau bergaul. Mereka tetap bisa memiliki teman dekat dan berhubungan baik dengan siapa saja tanpa harus pacaran. Pertemanan yang sehat justru dapat saling mendukung untuk belajar, berkembang, dan mencapai cita-cita bersama.Sudah saatnya kita mengubah cara pandang mereka bahwa keren bukan berarti punya pacar, tetapi memiliki prestasi, sopan santun, akhlak baik, dan tujuan hidup yang jelas. Generasi muda adalah harapan bangsa. Karena itu, pelajar dan mahasiswa harus dijaga agar tetap fokus pada pendidikan, karakter, dan masa depan mereka.

Oleh sebab itu, semua pihak harus bekerja sama untuk menghentikan budaya normalisasi pacaran di kalangan pelajar dan mahasiswa. Orang tua, guru, dosen, masyarakat, dan anak muda sendiri perlu menciptakan lingkungan yang positif dan sehat. Generasi muda harus diarahkan untuk lebih fokus pada pendidikan, pengembangan diri, dan kegiatan yang bermanfaat. Dengan begitu, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang cerdas, disiplin, berakhlak baik, dan siap meraih masa depan yang cerah tanpa harus terjebak dalam budaya pacaran yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Sumatera Barat