Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harapan dari Kaki Gunung Sago: Catatan Kelulusan Sunyi Anak-Anak Petani

Adriyanto Syafril • Rabu, 10 Juni 2026 | 08:35 WIB
Ira MDK, S.S.
Ira MDK, S.S.

Penulis : Ira MDK, S.S. - Guru UPTD SMP N. 2 Kecamatan Luak

Kabut tipis masih menggelayut di punggung Gunung Sago. Ketika jam dinding berdentang sembilan kali pada Selasa malam, 2 Juni 2026. Suasana di Nagari Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang terasa senyap. Di SMPN 2 Luak, tempat saya mengajar, gerbang sekolah sengaja dikunci rapat sejak siang. Tidak ada pengumuman fisik di mading, tidak ada kerumunan remaja berseragam putih-biru, dan tidak ada raungan sepeda motor di jalanan.

Tahun ini, sekolah kami mengambil langkah tegas: me­ngumumkan kelulusan secara daring (online) tepat pukul 21.00 WIB. Keputusan ini diambil untuk memastikan anak-anak didik tetap aman di rumah, sekaligus memutus tradisi buruk aksi coret-coret baju dan keluyuran di jalan raya. Lewat layar ponsel yang berpendar di dalam rumah-rumah sederhana, lembar penentu masa depan itu dibuka dalam sunyi.

Namun, sunyi itu tidak bertahan lama. Keheningan ma­lam pecah ketika gawai saya bergetar hebat. Melalui panggilan video grup, anak-anak itu menelpon saya bersama-sama setelah berhasil membuka link kelulusan. Di layar ponsel yang terbatas, wajah-wajah polos itu berteriak gembira, mengucapkan terima kasih atas bimbingan selama ini. Mendengar gemuruh suara kegembiraan yang tulus dari seberang telepon, pertahanan saya runtuh. Air mata saya menetes tanpa sadar karena terharu melihat mereka berhasil lepas dari satu fase krusial hidup.

Bagi sebagian orang, kelulusan mungkin hanya seremonial rutin. Namun di kaki Gunung Sago, selembar surat kelulusan adalah sebuah pembuktian harga diri. Mayoritas murid di SMPN 2 Luak tumbuh dalam keluarga yang retak dan kurang mendapat perhatian akibat kemiskinan yang akut. Di sini, masyarakat umumnya menggantungkan hi­dup sebagai buruh tani dan menjaga kandang ayam. Di tengah sepinya perhatian dan keterbatasan ekonomi itulah, anak-anak ini dipaksa matang sebelum waktunya. Sekolah sering kali menjadi satu-satunya tempat mereka menemukan “rumah” dan ruang untuk didengar.

Di antara wajah yang bersorak di panggilan telepon malam itu, ada Angel. Siswi yatim ini adalah pelari atletik berbakat kebanggaan sekolah kami yang bulan lalu lolos ke Kejuaraan Nasional (Kejurnas) tahun ini. Di saat remaja lain mungkin patah arang karena kehilangan figur ayah, Angel justru berlari melompati nasib buruknya. Ia memantapkan hati memilih jalur SMA. “Saya mau jadi Polwan,” ujarnya dengan mata berbinar, mengejar mimpi demi mengangkat derajat almarhum ayahnya.

Kontras dengan lingkungan sekitarnya, ada Hafis yang tumbuh mekar dalam dekapan hangat keluarga. Mantan Ketua OSIS SMPN 2 Luak ini adalah anak yang selalu mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya yang masih lengkap. Bakat mengaji Hafis mengalir langsung dari sang ibu yang merupakan seorang guru mengaji di kampung kami. Tak heran, Hafis tumbuh menjadi seorang hafiz Al-Qur’an bersuara merdu yang sudah banyak menghafal surah, sekaligus pilar utama tim futsal sekolah. Kombinasi kepiawaian di lapangan dan keteduhan hatinya membuat Hafis mantap memilih melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) demi memperdalam ilmu agama.

Di sudut kampung yang lain, Gibran juga sedang menatap layar yang sama. Ia adalah anak yang luar biasa rajin ke sekolah, meski penampilannya kerap memprihatinkan akibat kurangnya perhatian di rumah. Gibran sering datang dengan baju kusut tanpa diset­rika, rambut kusam tanpa mi­nyak rambut, serta sepatu kotor yang tak pernah dicuci hingga kerap menjadi bahan olokan teman-teman karena baunya. Namun, di balik seragamnya yang kusam dan sepinya perhatian yang ia terima, tekad Gibran sangat membaja. Ia tidak menyerah pada ejekan dan memilih masuk ke Se­kolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan alasan yang menohok realitas: “Saya harus cepat kerja setelah tamat, untuk bantu ekonomi keluarga.”

Tiga keputusan yang berbeda, namun lahir dari rahim perjuangan yang sama. Sebagai guru, melihat lembar kelulusan mereka malam itu bukan sekadar melihat angka di atas kertas ijazah digital. Ini adalah tentang menyaksikan anak-anak tangguh yang menolak menyerah pada takdir kemiskinan, status broken home, dan sepinya perhatian orang tua. Mereka adalah bukti nyata bahwa dari tanah yang paling sunyi seka­lipun, harapan akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh dan mekar. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Limapuluh Kota