Penulis : Tosfayana Mawardi - Guru SMPN 8 Payakumbuh
Literasi… istilah ini semakin populer sejak diterapkannya Kurikulum 2013 hingga berlanjut pada Kurikulum Merdeka di berbagai lembaga pendidikan dasar dan menengah. Namun, sebagian orang masih cenderung memaknai literasi hanya sebatas kegiatan menulis. Padahal, hakikat literasi berawal dari membaca. Tidak mungkin seseorang mampu menghasilkan tulisan yang berbobot apabila ia minim membaca dan kurang memiliki bahan otentik untuk dipaparkan.
Membaca sendiri memiliki makna yang sangat luas. Membaca tidak hanya sebatas mengeja tulisan di atas kertas, tetapi juga membaca keadaan, membaca alam, membaca waktu, membaca pikiran, membaca raut wajah, bahkan membaca perubahan sosial yang terjadi di sekitar kehidupan manusia. Dari proses membaca inilah lahir pengalaman, pengetahuan, pemahaman, serta hikmah kehidupan yang kemudian dapat dituangkan dalam bentuk tulisan maupun dipresentasikan kepada orang lain.
Dalam ajaran Islam, perintah membaca memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Hal ini tercermin dalam wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw., yaitu Al-Qur’an Surat Al-‘Alaq ayat 1–5. Wahyu tersebut turun ketika Nabi Muhammad Saw. sedang bertafakur di Gua Hira, sekitar lima kilometer dari Kota Makkah. Saat itu, beliau merasa prihatin terhadap berbagai perilaku kaum jahiliyah yang jauh dari nilai kemanusiaan dan moralitas.
Kaum jahiliyah pada masa itu gemar mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berkelahi, bahkan tega mengubur anak perempuan hidup-hidup. Mereka juga menyembah berhala yang dibuat sendiri dari batu, kayu, tanah, bahkan dari bahan makanan yang sewaktu-waktu dapat mereka makan ketika persediaan makanan habis. Nabi Muhammad Saw. merenungkan bagaimana cara mengubah perilaku masyarakat tersebut menuju kehidupan yang lebih baik dan beradab.
Dalam kondisi perenungan itulah Allah Swt. menurunkan wahyu pertama sekaligus mengangkat Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasul-Nya: Iqra’ bismi rabbikalladz+ khalaq, Khalaqal-insna min ‘alaq, Iqra’ wa rabbukal-akram, Alladz+ ‘allama bil-qalam, ‘Allamal-insna m lam ya‘lam.
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Kelima ayat tersebut diawali dengan kata Iqra’ yang berarti “bacalah!” Menariknya, Nabi Muhammad Saw. yang dikenal sebagai seorang ummi (tidak pandai membaca dan menulis) spontan menjawab: M ana biqri’in (Saya tidak pandai membaca). Hal ini menunjukkan bahwa perintah membaca dalam ayat tersebut tidak hanya dimaknai sebagai membaca tulisan, tetapi juga membaca keadaan, memahami kehidupan, serta melakukan perubahan terhadap kondisi masyarakat yang rusak moral dan peradabannya.
Dengan demikian, Surat Al-‘Alaq ayat 1–5 menjadi landasan utama lahirnya semangat belajar, meneliti, berpikir, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ayat tersebut menjadi motivasi besar bagi manusia untuk terus belajar dan menciptakan berbagai inovasi demi kemajuan peradaban yang sesuai dengan petunjuk Allah Swt.
Seseorang yang terbiasa berliterasi akan memiliki wawasan yang luas, pola pikir yang terbuka, serta kemampuan untuk melahirkan gagasan-gagasan kreatif. Dari kebiasaan membaca dan menulis itulah lahir berbagai prestasi yang dapat membawa manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat luas.
Karena itu, marilah kita mencintai budaya literasi. Biasakan diri untuk rajin membaca, mengamati, berpikir, menulis, dan menyampaikan buah pikiran secara positif. Dengan literasi, kita dapat melahirkan inovasi; dan dengan inovasi, kita dapat meraih prestasi demi kemajuan peradaban bangsa. (*)
Editor : Adriyanto Syafril