Penulis : Novi Handra, S.Pd.I., M.Pd. - Guru SMPN 8 Payakumbuh
Setiap kali pengumuman kelulusan diumumkan, jalan-jalan dipenuhi oleh siswa berpakaian seragam dengan beragam tanda tangan dan warna cat, serta konvoi kendaraan yang menunjukkan kegembiraan. Tradisi “coret-coret baju sekolah” tampaknya telah menjadi ritual tahunan yang dianggap biasa dan telah diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Namun, di balik semua sorak-sorai itu, muncul sebuah pertanyaan penting: apakah ini benar-benar bentuk perayaan, atau sekadar duplikasi tradisi yang tidak memiliki arti?
Banyak murid melihat coret-coret sebagai tanda kebebasan setelah banyak tahun menghadapi ujian dan tekanan akademis. Ada perasaan haru, lega, dan bangga yang ingin dibagikan dengan teman-teman seperjuangan. Sayangnya, ekspresi ini sering kali kehilangan makna awalnya. Seragam yang seharusnya mengandung nilai dan kenangan justru menjadi tempat pelampiasan yang tidak berarti.
Nyatanya, masih banyak siswa lain di luar sana yang memerlukan seragam yang layak.Banyak orang tua yang bekerja keras untuk mendapatkan pakaian sekolah bagi anak-anak mereka. Ironisnya, sementara beberapa orang berjuang untuk memiliki seragam, yang lain justru merusaknya di hari terakhir pemakaiannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya coret-coret lebih merupakan “replika sosial”dilakukan karena takut dicap tidak ikut merayakan, bukan karena memahami makna perpisahan itu sendiri. Akhirnya, yang diteruskan bukanlah nilai-nilai, melainkan kebiasaan mengikuti orang lain.
Perayaan kelulusan seharusnya dapat dilakukan dengan cara yang lebih berarti. Sekolah dan siswa bisa mengganti tradisi tersebut dengan melakukan kegiatan sosial, berdonasi seragam, menanam pohon, mengadakan pertunjukan seni, atau menulis pesan harapan di media yang lebih positif. Kenangan tidak selalu harus ditinggalkan dengan cat di pakaian.
Kelulusan adalah awal dari fase hidup yang baru. Oleh karena itu, seharusnya dirayakan dengan sikap yang matang, bukan sekadar kegembiraan sesaat. Sebab yang akan dikenang dari sebuah angkatan bukanlah seberapa meriah mereka mencoret-coret baju, tetapi apa yang mereka tinggalkan sebagai warisan setelah pergi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril