Penulis : Mutiara, S.Pd., Gr - Guru UPT SMPN 3 Sungayang
Pada Senin yang teduh, 25 Mei 2026, langit perlahan menurunkan warna senjanya di pelataran UPT SMPN 3 Sungayang. Cahaya matahari yang sejak siang menari di antara dedaunan mulai melemah, seolah enggan meninggalkan hari.
Dari balik perbukitan, semburat jingga memancar lembut, jatuh di kaca-kaca jendela kelas dan lorong sekolah yang biasanya ramai oleh suara langkah dan gelak tawa para pelajar. Namun sore itu berbeda.
Ada ketenangan yang tidak biasa berdiam di setiap sudut sekolah. Udara terasa lebih damai, lebih hangat, seakan waktu sedang berjalan lebih lambat demi memberi ruang bagi kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Di tengah suasana itu, para akhwat berkumpul untuk menjalani puasa Arafah bersama sebuah momen kecil yang diam-diam menyimpan banyak keindahan. Mereka datang tanpa kemewahan. Tidak ada dekorasi mewah, tidak pula jamuan yang berlebihan. Hanya tikar-tikar sederhana yang dibentangkan di lantai sekolah, kotak-kotak makanan yang disusun rapi, serta wajah-wajah teduh yang memancarkan ketulusan. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah lahir rasa hangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Puasa Arafah bagi mereka bukan sekadar menahan lapar sejak fajar hingga petang. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan sunyi menuju hati yang lebih bersih. Di sekolah yang setiap harinya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan, sore itu mereka juga belajar tentang makna persaudaraan: tentang bagaimana saling menjaga dalam kebaikan, saling menguatkan di tengah lelah, dan saling mengingatkan agar hati tetap dekat kepada Tuhan. Menjelang magrib, angin sore berembus perlahan melewati halaman sekolah. Aromanya membawa kesejukan tanah yang mulai dingin dan harapan-harapan yang tumbuh diam-diam di dada setiap orang. Beberapa siswi terlihat menundukkan kepala, melafalkan doa dengan suara lirih yang nyaris menyatu dengan desir angin. Sebagian lainnya berbincang pelan sambil melempar senyum hangat kepada sahabat di sampingnya. Ada mata-mata yang sesekali memandang langit.
Menunggu dengan penuh harap detik-detik ketika azan magrib akan memecah senyap sore itu. Sebab bagi orang-orang yang berpuasa, waktu berbuka selalu memiliki rasa yang berbeda lebih syahdu, lebih penuh syukur. Di sudut ruangan, kurma dan air mineral telah tersedia. Hidangannya sederhana, mungkin jauh dari kata istimewa jika dipandang sekilas. Namun sore itu, semuanya terasa begitu berharga. Karena nikmat berbuka bukan hanya tentang makanan yang mengenyangkan, melainkan tentang rasa syukur yang tumbuh perlahan dalam hati yang sabar menunggu waktu. Dan ketika azan magrib akhirnya berkumandang, suasana hening seakan berubah menjadi lautan ketenangan. Suara azan itu mengalir lembut, menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya. Perlahan, tangan-tangan terangkat memanjatkan doa. Wajah-wajah yang sejak siang menahan dahaga kini dipenuhi senyum lega dan rasa damai. Para akhwat membatalkan puasa bersama dalam suasana yang begitu hangat, seolah senja sedang memeluk mereka dengan cahaya terakhirnya. Di atas meja-meja sederhana sekolah itu, bukan hanya makanan yang dibagikan. Ada kebahagiaan yang berpindah dari satu hati ke hati lainnya. Ada keakraban yang tumbuh dari obrolan ringan, dari gelas-gelas yang saling disentuhkan, dari tawa kecil yang pecah setelah seharian menahan lapar bersama.
Mereka mungkin tidak menyadarinya saat itu, tetapi kebersamaan semacam itulah yang kelak akan menjadi kenangan paling indah. Kegiatan berbuka bersama tersebut bukan hanya sekadar acara rutin sekolah. Ia menjadi ruang bagi para siswi untuk mempererat silaturahmi dan merasakan bahwa sekolah bukan hanya tempat mencari ilmu, melainkan juga rumah kedua tempat tumbuhnya iman, persahabatan, dan kenangan yang akan selalu tinggal di hati. Perlahan, senja tenggelam sepenuhnya. Langit berubah gelap, dan lampu-lampu sekolah mulai menyala satu per satu menggantikan cahaya matahari yang telah pulang ke peraduannya. Meski malam mulai datang, hangat kebersamaan sore itu tetap tertinggal. Barangkali beberapa tahun mendatang, ketika mereka telah meninggalkan bangku sekolah dan berjalan menempuh jalan hidup masing-masing, menu berbuka hari itu tidak lagi mereka ingat. Namun suasananya akan tetap hidup dalam ingatan: doa-doa yang diaminkan bersama, senyum kecil selepas azan, serta langit Arafah yang menjadi saksi bahwa kebahagiaan kadang lahir dari hal-hal yang paling sederhana.
Dan di antara dinding-dinding sekolah itu, senja seolah telah menulis sebuah kisah kecil yang abadi tentang para akhwat yang belajar mencintai kebersamaan dalam diamnya puasa, dalam lembutnya doa, dan dalam hangatnya berbuka bersama. (*)
Editor : Adriyanto Syafril