Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Memaknai Nilai TKA

Adriyanto Syafril • Senin, 15 Juni 2026 | 08:50 WIB
Arespi Junindra, M.Pd
Arespi Junindra, M.Pd

Penulis : Arespi Junindra, M.Pd - Guru SDN 32 Bungo Pasang

Selasa, 26 Mei 2026 menjadi hari yang terasa berbeda bagi banyak guru se­kolah dasar di Indonesia. Pada hari itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD/MI. Angka yang mun­cul terasa seperti tamparan pelan namun menyengat. Rerata nilai Matematika siswa SD secara nasional hanya 43,41 dari skala 100, sementara Bahasa Indonesia mencapai 60,14. Artinya, lebih dari separuh kemampuan yang seharusnya dimiliki anak-anak kelas enam se­ko­lah dasar kita belum terbangun dengan kokoh. Sebagai seorang guru yang sehari-hari berhadapan langsung dengan siswa di ruang kelas, saya tidak bisa diam membaca angka ini. Sebab angka bukan sekadar bilangan, ia adalah cermin dari proses panjang yang sudah dan belum kita lakukan bersama.

Sebelum kita larut dalam kegelisahan, penting kiranya kita meluruskan pemahaman tentang apa itu TKA dan untuk apa ia diadakan.

Tes Kemampuan Akade­mik lahir dari sebuah keprihatinan yang sudah lama mengganjal dalam dunia pendidikan kita, tidak adanya alat ukur yang terstandar untuk menilai kemampuan akademik siswa secara nasional. Selama bertahun-tahun, nilai rapor menjadi satu-satunya patokan, padahal nilai rapor dari satu sekolah ke sekolah lain tidak bisa dibandingkan secara adil. Ada sekolah yang memberikan nilai tinggi dengan standar yang longgar, ada pula sekolah yang jujur menilai dengan standar ketat namun justru terlihat “tidak berprestasi” di mata orang tua. TKA hadir untuk membenahi ketimpangan ini dengan menggunakan sistem peni­laian berbasis Item Response Theory (IRT), yakni sistem yang tidak sekadar menghitung jumlah jawaban benar, melainkan mempertimbangkan tingkat kesulitan setiap butir soal. Sis­tem inilah yang dipakai dalam tes pendidikan bertaraf internasional seperti PISA dan TIMSS. Maka nilai 43 bukan berarti anak hanya mampu menjawab 43 soal dari 100, ia adalah cerminan posisi kemampuan nyata anak dalam peta kompetensi yang terstandar.

Sebagai guru, saya membaca angka 43,41 bukan sebagai vonis kegagalan, melainkan sebagai undangan untuk bercermin lebih dalam dan lebih jujur. Di lapangan, kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit dari yang terlihat dari luar. Ada siswa yang datang ke sekolah dalam keadaan belum sarapan dan belum terjangkau oleh MBG. Ada siswa yang tumbuh di lingkungan tanpa satu pun buku bacaan di rumahnya. Ada siswa yang le­bih­ fasih mengoperasikan ponsel pintar daripada mem­baca sebuah paragraf dengan pemahaman. Namun di balik semua itu, ada pula introspeksi yang perlu kita hadapi dengan lapang dada. Apakah selama ini kita mengajarkan matematika sebagai kumpulan rumus yang harus dihafal, ataukah sebagai cara berpikir yang perlu dilatih? Apakah asesmen yang kita berikan benar-benar mengukur kemampuan bernalar siswa, ataukah sekadar mengukur seberapa baik mereka menghafal ja­wa­ban dari latihan soal yang su­d­ah berulang kali dikerjakan? Fakta bahwa nilai Matematika konsisten lebih rendah dibanding Bahasa Indonesia di hampir semua jenjang dan daerah seharusnya membuat kita ber­gegas bertanya pada diri sendiri. Sudahkah kita melatih siswa untuk berpikir, bukan hanya mengerjakan? Bagi guru, hasil TKA seharusnya menjadi Kompas, bukan cambuk yang menunjukkan arah perbaikan pembelajaran secara nyata dan terukur.

Dari sudut pandang ora­ng tua, hasil TKA menying­kap sebuah ironi yang selama ini ter­sembunyi di balik lembar rapor. Tidak sedikit orang tua yang terkejut, bahkan tidak percaya, ketika mendapati anak mereka yang selalu me­raih nilai 80 atau 90 di rapor ternyata mencatat skor TKA yang jauh lebih rendah dari itu. Inilah yang para ahli pendidikan sebut sebagai “ilusi prestasi”, nilai tinggi yang tidak berbanding lurus dengan kemampuan nyata. Tentu saja ini bukan semata-mata kesalahan sekolah atau guru. Ini adalah panggilan bagi orang tua untuk memahami bahwa rapor adalah penilaian internal yang bisa dipengaruhi berbagai faktor, sementara TKA adalah potret yang lebih jujur dan dapat dibandingkan secara nasional. Daripada tersulut emosi dan menyalahkan guru, ada baiknya orang tua mengambil langkah yang lebih produktif. Jadikan selisih angka itu sebagai bahan percakapan yang hangat dan bermakna di rumah. Tanyakan kepada anak, apa yang terasa sulit dalam pelajaran Matematika. Luangkan dua puluh menit setiap malam untuk membaca bersama. Kurangi tekanan terhadap angka dan tingkatkan perhatian pada proses berpikir. Penelitian pendidikan secara konsisten menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak, bukan hanya dalam urusan nilai tetapi memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kemampuan literasi dan numerasi. Nilai TKA yang rendah bisa jadi bukan hanya soal apa yang terjadi di se­kolah, tetapi juga apa yang tidak sempat terjadi di rumah.

Bagi masyarakat luas, data TKA seharusnya dibaca seba­gai peta, bukan sebagai peri­ng­kat untuk ditertawakan atau dipermalukan. Data TKA jenjang SMA/SMK yang dirili­s sebelumnya menunjukkan ke­senjangan yang sangat me­ncolok antarprovinsi. Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat rerata keseluruhan 46,33, sementara Nusa Tenggara Timur hanya 33,07. Pola serupa sangat mungkin ditemukan pada jenjang SD. Per­be­daan angka ini bukan ha­nya­ soal tingkat kecerdasan anak, ia mencerminkan ke­timpangan ekosistem, ketimpangan jumlah dan mutu guru, ketimpangan fasilitas belajar, ketimpangan akses buku, dan ketimpangan ling­kungan yang mendukung tum­buhnya kebiasaan berpikir kritis. Masyarakat mulai dari tokoh adat, alim ulama, pemuda, hingga organisasi kemasyarakatan, sesungguhnya memiliki peran yang tidak kecil dalam menciptakan ekosistem yang menghargai ilmu. Di Sumatera Barat, filosofi la­ma yang berbunyi “alam ta­kam­bang jadi guru” sesungguhnya mengandung pesan ya­ng sangat relevan. Belajar bukan hanya urusan dinding se­kolah, melainkan tanggung jawab seluruh lingkungan. Perpustakaan kelurahan yang aktif, taman baca komunitas, orang tua yang membiasakan anaknya membaca sebelum tidur. Semua itu adalah ba­gian­ dari ekosistem pendidikan yang tidak bisa digantikan oleh kebijakan mana pun juga.

Lantas, apa yang semestinya kita lakukan setelah angka ini terungkap? Membaca data tanpa mengubah perilaku adalah pemborosan. Guru perlu menjadikan analisis hasil TKA sebagai agenda rutin dalam forum Kelompok Kerja Guru (KKG), bukan sekadar laporan yang disimpan di laci meja kepala sekolah. Identifikasi kompetensi dasar mana yang paling lemah pada siswa kita, lalu susun program penguatan yang konkret, bukan program seremonial. Kepala sekolah perlu menggunakan data TKA sebagai dasar perencanaan anggaran dan program se­ko­lah, dari pengadaan buku latihan bernalar, program membaca intensif, hingga pelatihan mengajar yang benar-benar menyentuh praktik di kelas. Orang tua perlu menggeser orientasi dari mengejar angka menjadi menemani proses. Dan pemerintah da­erah­ perlu memastikan bahwa distribusi guru berkualitas tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota. Sebab anak-anak di pinggir kota, di perbukitan, dan di pulau terpencil berhak men­dapatkan guru terbaik yang sama.

Pada akhirnya, nilai TKA SD dengan rerata Matematika 43,41 dan Bahasa Indonesia 60,14 bukanlah akhir dari cerita. Ia justru adalah pembuka dari sebuah babak ba­ru. Babak di mana kita tidak lagi bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, babak di mana data mengha­ruskan kita berge­rak. Guru, orang tua, dan ma­sya­rakat adalah tiga sisi dari sebuah segitiga yang menopang pendidikan anak. Jika salah satu sisi melemah, seluruh bangunan menjadi goyah. Maka marilah kita baca angka ini bukan dengan kepanikan, bukan dengan penya­ng­kal­an, dan bukan pula deng­an saling menyalahkan. Marilah kita membacanya dengan keberanian. Keberanian untuk beru­bah, keberanian untuk belajar, dan keberanian untuk berjalan bersama demi masa depan anak-anak yang lebih baik. Karena pendidikan, pada hakikatnya, bukan tentang angka yang ter­tera di lembar nilai. Ia tentang ma­nusia. Manusia kecil yang sedang tumbuh, dan ma­nusia dewasa yang memilih untuk hadir dan bertanggung jawab dalam proses tumbuh itu. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Kota Padang