Penulis : Dini Kurnia, S.Si. - Guru UPTD SMPN 1 Kec. Lareh Sago Halaban
Berkaca pada pendidikan hari ini, begitu banyak ke-ngerian yang kita temui. Seolah menyampaikan bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja.
Ya, dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja kan? Orang tua dan guru sedang berperang, sedang berpacu dengan dunia digital dalam hal pendidikan.
Media sosial saat ini lebih gencar daripada guru dalam mencontohkan dan mengajarkan banyak hal. Trend.
Trend, membuat dunia pendidikan menjadi kacau. Alih-alih tren yang mendidik, justru yang terjadi adalah trend yang semakin banyak menghilangkan marwah pendidikan pada peserta didik.
Bukankah kita telah pernah menyaksikan tayangan video singkat berdurasi hitungan detik atau hanya foto yang menunjukkan tentang guru yang sedang di debat muridnya, tentang guru yang di-adu fisik oleh muridnya dan masih banyak lagi lainnya?
Kenapa harus sampai ada berita viral yang seperti ini? Karena dunia digital hari ini, membangun pola pikir anak-anak atau remaja menjadi mental “lo siapa?” pada guru hari ini. Dunia digital seolah memberikan panggung bahwa setiap orang adalah tokoh utamanya, dan ini dunia penuh kebebasan dan ga ada satupun yang berhak mengatur, mengusik apalagi menyalahkan hidup mereka.
Sayang sekali bukan? Pendidikan yang diusahakan oleh orangtua dan guru harus kalah oleh contoh buruk yang viral. Entah itu dalam bentuk video POV yang di-posting oleh influencer cilik yang akunnya ga kalah rame dari akun mbak Dewi Nur Aisyah yang tentu lebih meng-inspirasi untuk dunia pendidikan. Sayangnya, mereka banyak yang tidak tahu begitu banyak akun-akun influencer yang mendidik, sebaya mereka juga ada, tapi mereka merasa di bela dengan POV yang “ah ini bener nih”, padahal POV nya lagi ngeluh ke guru yang ngasih tugas banyak, lagi nge-batin kata-kata buruk ke guru, dan punya ribuan like, dibagikan berkali-kali.
Jika dunia pendidikan hari ini begitu gencar dengan dunia digital, maka tak ada salahnya juga, guru dan orangtua memanfaatkan dunia digital hari ini untuk pendidikan. Jika hal-hal buruk tetap eksis dan terus mengajarkan pembiasaan hal buruk dalam dunia digital anak sekolah, maka kenapa kita tidak maju juga untuk eksis di laman media sosial yang mereka gunakan untuk meng-‘eksis’kan kembali bahwa pendidikan itu kendali-nya ada di tangan orangtua dan guru, bukan infuencer POV yang juga masih merupakan pelajar.
Dengan banyaknya tenaga muda atau guru muda dan melek dunia digital hari ini, kita berharap entah itu media sosial sekolah atau media sosial guru itu sendiri digunakan dan dimanfaatkan untuk meng-‘eksis’kan tentang pendidikan. Jangan sampai guru dan orangtua, malah juga ikutan FOMO sama trend yang justru membuat para murid menjadai berfikir, “guru aja begitu kan?” Lalu mereka menangkap bahwa itu boleh untuk dilakukan.
Maka yang harus kita ingat sebagai orangtua dan guru adalah, bahwa guru, orangtua, memiliki peran untuk ditiru dan digugu segala hal tentangnya. Bahkan isi media sosial yang terbaca oleh murid kita, mereka mengambil kesimpulan bahwa kalau guru saja begini, kenapa kita tidak?
Jadi, jangan sampai justru kita sebagai guru dan orangtua yang membuat mereka me-lazimkan pembiasaan buruk.
Sebagaimana pepatah lama yang mungkin masih relevan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Artinya apa? Segala sesuatu yang dilakukan oleh guru atau pengajar atau orangtua, terutama kebiasaan buruk dan di-ekspose, biasanya akan ditiru oleh muridnya, bahkan lebih parah dari yang dilakukan oleh guru atau orangtua yang mereka lihat.
Kita sebagai guru dan juga orangtua, dalam dunia digital saja perlu berhati-hati. Jangan sampai, justru dari postingan kita mereka belajar hal-hal buruk. Mari kita posting kebaikan. Mari kita eksis-kan media sosial kita dengan pembelajaran. Mari kita menjadi konten kreator yang bukan FOMO untuk ikut membagikan trend yang tidak baik untuk ditiru dan digugu.
Tak perlu menjadi fyp baru mem-posting. Karena setiap guru, punya murid yang menggunakan media sosial. Jika kebaikan-kebaikan yang terus kita posting, sering muncul di beranda anak murid kita, lama-kelamaan apa-apa yang kita posting satu atau dua akan menjadi pembelajaran bagi mereka. Jaring yang kita sebar bukan untuk menangkap sebanyak-banyaknya pembaca, tapi untuk mewarnai agar media sosial hari ini tidak berhenti dengan FOMO semata yang kadang tak urung hanyalah hiburan semata, tanpa makna. (*)
Editor : Adriyanto Syafril