Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pendidikan dan Pengajaran Akar Peradaban

Adriyanto Syafril • Kamis, 9 Juli 2026 | 08:40 WIB
Hj. Firda Rawasiah, Lc
Hj. Firda Rawasiah, Lc

Penulis : Hj. Firda Rawasiah, Lc

Bayangkan dunia tanpa sekolah, tanpa guru, tanpa bengkel. Tidak ada dokter yang bisa bedah, tidak ada insinyur yang bisa bangun jembatan, tidak ada petani yang tahu cara memupuk. Yang ada hanya manusia kuat, tapi buta arah.

Itulah bukti paling sederhana: bangsa sebesar apa pun akan runtuh kalau kehilangan dua hal ini, pendidikan dan pengajaran. Satu membentuk otak, satu membentuk tangan. Satu melahirkan ilmu pengetahuan, satu melahirkan keterampilan. Dan dari keduanya, peradaban manusia lahir.

1. Pendidikan: Menanam Cara Berpikir 

Pendidikan adalah proses panjang yang membentuk cara manusia melihat dunia. Ia tidak sekadar mengisi kepala dengan rumus dan tanggal sejarah. Pendidikan yang baik melatih kita bertanya, berpikir kritis, menguji, dan menyimpulkan. dan mampu mengenal siapa yang menciptakan kita dan alam semesta ini sebagaimana dalam surat Muhammad ayat 19

Tanpa pendidikan, informasi hanya lewat sebagai hafalan. Dengan pendidikan, informasi berubah jadi ilmu. Seorang anak yang belajar IPA bukan hanya tahu air mendidih di 100 derajat celcius. Ia belajar metode ilmiah, belajar logika sebab akibat, belajar bahwa alam semesta bisa dipahami dengan nalar.

Filsuf Yunani, John Locke, hingga Ki Hajar Dewantara sepakat: tujuan pendidikan bukan menciptakan manusia yang penuh ingatan, tapi ma­nusia yang mampu berpikir. Karena bangsa yang warganya cerdas bertanya akan selalu lebih maju dari bangsa yang warganya hanya pandai menjawab.

2. Pengajaran: Me­nempa Ke­teram­pilan 

Jika pendidikan menja­wab “mengapa”, maka pengajaran menjawab “bagaimana”. Pengajaran adalah praktik, latihan, dan pengulangan. Guru menunjukkan, murid meniru, lalu mencoba sendiri sampai mahir.

Seorang dokter hebat bukan lahir dari buku anatomi saja. Ia lahir dari ruang operasi, dari tangan yang gemetar saat pertama memegang scalpel, lalu menjadi mantap setelah ribuan kali latihan. Seorang programmer jago bukan karena hafal sintaks, tapi karena sudah berjam-jam berlatih dan mengasah ketrampilan

Inilah yang disebut keterampilan. Keterampilan adalah ilmu yang sudah turun ke tangan dan jadi kebiasaan. Negara seperti Jerman dan Swiss maju bukan hanya karena risetnya kuat, tapi karena sistem vokasi dan pengajarannya link and match dengan industri. Lulusannya bukan hanya tahu teori, tapi langsung bisa kerja.

3. Ketika Ilmu Bertemu Keterampilan, Lahirlah Inovasi 

Sejarah membuktikan, peradaban besar lahir saat ilmu pengetahuan dan keterampilan bersatu.

Isaac Newton punya ilmu fisika, tapi tanpa keterampilan membuat teleskop, ia tidak akan bisa membuktikan teorinya. Thomas Edison punya keterampilan bereksperimen, tapi tanpa pemahaman ilmu listrik, lampunya tidak akan pernah menyala.

Di era sekarang pun sama. Kita punya banyak sarjana, tapi dunia kerja masih kekurangan tenaga terampil. Di sisi lain, banyak pekerja terampil yang sulit naik level karena minim dasar ilmu. Kesenjangan ini hanya bisa dijembatani kalau pendidikan dan pengajaran tidak dipisah.

Kurikulum merdeka deep learning yang sekarang digaungkan pemerintah sebenarnya ingin ke sana: 70% praktik, 30% teori. Anak SD sampai SMA bukan hanya belajar di buku, tapi langsung mempraktikkan ilmu yang ada di buku yaitu cara membaca Qur’an yang benar ,cara berwudhu yang benar ,cara shalat yang benar dan cara berbakti kepada kedua orangtua dan hormat pada guru dan kepada orang yang yang lebih tua umurnya. Mahasiswa tidak hanya bikin skripsi, tapi juga magang dan bikin proyek nyata.

4. Tantangan dan Harapan 

Tentu jalannya tidak mu­dah. Guru kita harus selalu menambah ilmu dan me­ngi­kuti berbagai macam workshop dan pelatihan di bidang pendidikan agar menambah wawasannya .Sarana  di se­kolah dapat mendukung kemajuan ilmu dan tekhnologi dengan adanya kelas-kelas digital dari SD sampai SMA dan Orang tua bekerja sama dengan baik menjadikan anak yang cerdas dan berkarakter dan terampil.

Harapan ke depan sederhana: mari kita hargai guru yang mengajar hitungan, dan juga instruktur yang mengajar las. Mari kita bangga pada anak yang masuk universitas, dan juga bangga pada anak yang lulus dari BLK. Karena bangsa ini butuh keduanya: pemikir dan pekerja, ilmuwan dan teknisi, arsitek dan tukang.

 

Penutup 

Singkatnya, pendidikan adalah kompas yang menunjukkan arah kepada menambah ilmu dan wawasan serta dengan ilmu kita dapat menge­nal robb (tuhan kita)­pencipta alam semesta ini dan beribadah kepada Allah dan berakhlak Mulia maka pengajaran adalah kaki yang membawa kita berjalan. Tanpa kompas kita tersesat, tanpa kaki kita tidak akan sampai.

Maka, memajukan bangsa berarti memajukan ruang kelas dan bengkelnya secara bersamaan. Memastikan setiap anak Indonesia harus cerdas otaknya,berkarakter dan taat beribadah, dan juga cekatan tangannya. Karena ijazah bisa membuka pintu pertama, tapi ilmu dan keterampilanlah ya­ng membuat kita bertahan dan naik ke lantai-lantai berikutnya.

Di tangan guru akan ber­kembang para generasi yang berilmu dan berkarakter serta terampil. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Laman Guru Payakumbuh