Bullying Rusak Kerukunan dan Rasa Aman

Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 07:05 WIB
Ilustrasi. (REZA/PADEK)
Ilustrasi. (REZA/PADEK)

Penulis : Lidya Gusti, S.Pd - Guru SMPN 1 Padangpanjang

Sekolah adalah tempat tumbuh, belajar, dan membangun persahabatan. Setiap siswa datang dengan latar belakang, kemampuan, karakter, dan keunikan yang berbeda. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan alasan untuk saling merendahkan. Namun, masih ada perilaku bullying yang dapat merusak kerukunan antarteman dan mengganggu terciptanya lingkungan belajar yang aman serta nyaman.

Bullying merupakan tindakan menyakiti orang lain secara sengaja dan berulang, baik melalui perka­taan, tindakan fisik, pengucilan, mau­pun media sosial. Banyak yang menganggap bullying hanya sebagai candaan, pa­dahal dampaknya dapat mem­bekas dalam waktu ya­ng lama dan me­me­nga­ruhi­ kesehatan mental, pres­tasi belajar, bahkan masa depan korban.

Kerukunan antarteman dibangun atas dasar saling menghormati, saling percaya, dan saling membantu. Ketika bullying terjadi, rasa percaya akan hilang. Korban menjadi takut bergaul, enggan datang ke sekolah, kehilangan semangat belajar, bah­kan merasa dirinya tidak berharga. Di sisi lain, teman-teman yang menyaksikan bullying juga dapat merasa tidak aman karena khawatir akan menjadi korban beri­kutnya.

Bullying juga menciptakan perpecahan di lingkungan sekolah. Muncul kelompok-kelompok yang saling mengejek, mengucilkan, atau memprovokasi konflik. Akibatnya, suasana kelas menjadi tidak kondusif, kerja sama antarsiswa menurun, dan nilai-nilai persaudaraan semakin memudar. Padahal, keberhasilan pembelajaran tidak hanya di­tentukan  kecerdasan akademik, tetapi juga oleh hubungan sosial yang harmonis.

Di era digital, bullying semakin mudah terjadi melalui media sosial atau aplikasi pesan. Komentar yang menghina, penyebaran foto tanpa izin, fitnah, maupun ejekan di dunia maya dapat menyakiti seseorang sama seperti bullying secara langsung. Oleh karena itu, setiap siswa harus bijak dalam menggunakan tekno­logi­ dan menjaga etika dalam berkomunikasi.

Mencegah bullying merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah. Siswa perlu mem­biasakan sikap saling me­ng­hargai, tidak mengejek ke­ku­rangan orang lain, berani menolong teman yang menjadi korban, dan melaporkan tindakan bullying kepada guru apabila menemukannya. Guru dan orang tua juga perlu bekerja sama dalam menanamkan nilai empati, disiplin, serta menghormati perbedaan sejak dini.

Mari kita jadikan sekolah sebagai rumah kedua yang penuh rasa aman, nyaman, dan menyenangkan. Tidak ada tempat bagi bullying dalam dunia pendidikan. Sebaliknya, mari kita bangun budaya saling me­nghormati, saling mendukung, dan saling menguatkan. Dengan demikian, kerukunan an­tarteman akan semakin kokoh, sehingga setiap siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang berkarakter, berprestasi, dan berakhlak mulia. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
Laman Guru Sumatera Barat