Membuat penduduk kedua nagari bertetangga itu berkali-kali gagal panen dan berkali-kali mengungsi. Sampai kapan bencana dan derita ini dibiarkan terjadi?
HANYA dalam hitungan menit setelah hujan deras turun Senin sore (6/5), sungai yang disebut penduduk sebagai Batang Ayigh Pondam itu langsung meluap. Luapanya tak hanya merendam areal pertanian dan perikanan yang berada di sepanjang sungai tersebut, tapi juga merusak jembatan dan merendam rumah warga.
Batang Ayigh Pondam, Batang Ayigh Longkatan, Batang Ayigh Gontiang, dan Batang Ayigh Ampalu adalah sungai-sungai yang terdapat pada satu jalur yang sama. Semua sungai ini berada di Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Sedangkan hulu dari semua sungai ini sama-sama berada di Kabupaten Tanahdatar. Tepatnya di Nagari Barulak dan Nagari Tanjuangalam, Kecamatan Tanjuangbaru, serta Nagari Tabekpatah, Kecamatan Salimpauang.
Sementara, muara dari keseluruhan sungai-sungai tersebut, baik yang berada di Limapuluh Kota, maupun di Tanahdatar, sama-sama ke Batang Agam, Payakumbuh. Karena itu pula, bila aliran air Batang Agam di dekat jembatan Ratapan Ibu, terlihat berwarna keruh. Berarti, aliran sungai-sungai kecil yang disebutkan tadi, warnanya lebih keruh dan lebih pekat lagi.
“Sungai-sungai yang berada di Nagari Tungkar, Kabupaten Limapuluh Kota ini, dan juga di Nagari Barulak, Kabulaten Tanahdatar, semuanya bermuara ke Batang Agam, Payakumbuh. Karena bermuara ke Batang Agam, maka sungai-sungai itu memang masuk dalam wilayah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V,” kata Saktiawan, pejabat BWS Sumatera V, saat berkunjung ke Nagari Tungkar, Februari lalu.
Saat itu, Saktiawan bersama rombongan BWS Sumatera V dan Dinas PUPR Limapuluh Kota, terkejut mendapat laporan dari BPBD Limapuluh Kota dan warga Nagari Tungkar.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa sungai -sungai yang berada di Nagari Tungkar, yakni Batang Ayigh Pondam, Batang Ayigh Longkatan, Batang Ayigh Gontiang, dan Batang Ayigh Ampolu, meluap akibat lahar dingin Gunung Marapi.
“Kita pikir, lahar dingin Gunuang Marapi itu berdampak Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanahdatar saja. Ternyata juga sampai ke Kabupaten Limapuluh Kota, tepatnya ke Nagari Tungkar. Setelah kita lihat langsung, sungai-sungai di Nagari Tungkar ini, ternyata meluapnya juga disebabkan lahar dingin Gunung Marapi,” kata Saktiawan.
Kala itu, Saktiawan juga sempat membuka peta sungai yang dimiliki BWS Sumatera V. Dari sini diketahui, bahwa sungai yang disebut penduduk Tungkar sebagai Batang Ayigh Pondam, Batang Ayigh Longkatan, Batang Ayigh Gontiang, dan Batang Ayigh Ampolu, ternyata dalam peta BWS Sumatera V bernama Sungai Batang Sandir.
Apapun namanya, sungai yang bermuara ke Batang Agam ini, sudah tiap sebentar meluap. Sejak akhir 2023 sampai Mei 2024 ini saja, sudah empat kali Sungai Batang Sandir meluap. “Kami sudah dua kali bersurat ke BWS Sumatera V. Namun, belum ada penanganannya,” kata Wali Nagari Tungkar Yusrizal Dt Pado.
Penanangan dari BWS Sumatera V memang sangat diharapkan warga. Begitu pula dengan intervensi program dari Pemprov Sumbar dan Pemkab Limapuluh Kota. “BWS Sumatera V dan Pak Gubernur Sumbar, tolonglah kami. Tiap sebentar, sungai di kampung kami ini meluap,” kata Masyudha Putra, Ketua LPM Tungkar.
Menurut Yuda, luapan sungai di Nagari Tungkar, tak hanya merendam areal pertanian dan perikanan, sehingga membuat warga berkali-kali gagal panen. Bahkan, tidak sedikit sawah warga yang hilang disapu air.
“Selain merusak areal pertanian, juga merusak infrastruktur. Ada jembatan yang dibangun dengan dana desa, putus akibat luapan sungai. Warga yang berumah dekat sungai, jika sering mengungsi,” kata Masyuda Putra
Diantara warga Nagari Tungkar yang sering mengungsi akibat air sungai meluap dan merendam rumah mereka adalah keluarga Mak Torong, serta keluarga Mak Endi-Ni Os. Kalau air sungai meluap, mereka tak hanya sibuk memindahkan hewan ternak peliharaan, tapi juga menyelamatkan barang-barang.
“Cemas kami tinggal di sini,” kata Mak Torong dan Mak Endi, ketika Dandim 0306/50 Kota Letkol Inf Adri Asmara Yudha, meninjau lokasi sungain yang meluap di kawasan Pondam, Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar. Saat itu, Dandim meminta jajaran TNI-Polri, BPBD, Muspika, dan Pemerintah Nagari, memastikan betul keselamatan warga.
Kondisi serupa di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, juga dialami warga yang tinggal di kawasan Sawahliek, Barulak, Tanjuangbaru, Tanahdatar. Dimana rumah-rumah warga di sana juga sering disapu air sungai yang meluap bercampur lahan dingin Gunung Marapi.
Bencana alam yang rutin dialami warga pada dua nagari berbeda di dua kabupaten yang berbeda.di Sumatera Barat ini, agaknya memang perlu mendapat perhatian dan penanganan serius.
Tak hanya dari BWS Sumatera V, tapi juga Pemprov Sumbar. Sedangkan Pemkab Limapuluh Kota dan Pemkab Tanahdatar, juga perlu lebih serius lagi mengurus derita yang ditanggung warga. (FAJAR RILLAH VESKY---Situjuah Limo Nagari)
Editor : Novitri Selvia