Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Drainase Buruk, Jalan IKK Langganan Banjir

Syamsu Ridwan • Selasa, 29 April 2025 | 17:00 WIB

PERLU JADI PERHATIAN: Sejumlah kendaraan berhati-hati saat melintasi genangan air di Jalan Sumbar–Riau, tepatnya di KM 9 Sarilamak, Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (28/4). (SY RIDWAN/PADEK)
PERLU JADI PERHATIAN: Sejumlah kendaraan berhati-hati saat melintasi genangan air di Jalan Sumbar–Riau, tepatnya di KM 9 Sarilamak, Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (28/4). (SY RIDWAN/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Hujan deras yang turun hanya selama 15 menit pada Senin (28/4) sore kembali memunculkan masalah lama di jantung Ibu Kota Kabupaten (IKK) Limapuluh Kota.

Tepatnya di ruas Jalan Sumbar–Riau, genangan air setinggi sejengkal orang dewasa melumpuhkan lalu lintas dan merendam sejumlah tempat usaha warga.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 hingga 13.45. Meskipun durasi hujan terbilang singkat, dampaknya langsung terasa.

Genangan air menutup seluruh badan jalan sepanjang kurang lebih 50 meter di kawasan Sarilamak, KM 9, yang merupakan jalur vital penghubung antarprovinsi.

Kondisi ini kembali menyoroti buruknya sistem drainase di kawasan tersebut. Air yang seharusnya cepat terbuang justru meluber ke badan jalan, bahkan sampai ke pelataran toko dan warung milik warga.

Akibatnya, aktivitas ekonomi tersendat dan pengguna jalan harus ekstra hati-hati melintasi area yang tergenang.

Menurut Erizal, 41, pemilik salah satu usaha di sekitar lokasi, banjir semacam ini sudah menjadi pemandangan rutin setiap kali hujan turun, meski hanya sebentar.

“Sudah bertahun-tahun seperti ini, Pak. Drainase tertutup dan tidak pernah dibersihkan. Akibatnya, setiap hujan, air langsung naik ke jalan,” ujar Erizal, yang mengaku tempat usahanya kerap terdampak.

Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan pengendara, khususnya pengendara roda dua. “Kalau tidak hati-hati, bisa tergelincir atau jatuh karena permukaan jalan tertutup air,” imbuhnya.

Ardy, 34, warga Harau yang melintas saat kejadian, juga menyuarakan kekhawatirannya. Ia harus memperlambat laju sepeda motornya dan menghindari cipratan air dari kendaraan lain.

“Kalau tidak waspada, bisa basah kuyup atau bahkan jatuh. Apalagi pas ramai-ramainya kendaraan dari dua arah,” ujarnya.

Baik Erizal maupun Ardy berharap Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota maupun instansi terkait segera bertindak. Mereka menilai persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sepele karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

“Ini kan jalan negara, dan berada di Ibu Kota Kabupaten. Masak setiap hujan harus banjir terus?” ujar Erizal.

Menurut pantauan di lapangan, tidak terlihat adanya upaya perbaikan atau pemeliharaan saluran drainase di sekitar titik rawan genangan. Hal ini menguatkan dugaan bahwa lemahnya tata kelola infrastruktur menjadi biang keladi permasalahan yang berulang ini.

Pakar tata kota dan infrastruktur kerap menekankan pentingnya sistem drainase yang baik sebagai penopang infrastruktur jalan, terlebih di daerah yang kerap dilanda hujan lebat.

Tanpa sistem pembuangan air yang memadai, genangan akan mudah terjadi, mempercepat kerusakan jalan, dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Situasi ini menjadi ironi tersendiri, mengingat lokasi genangan berada di jalur strategis yang seharusnya menjadi wajah utama kabupaten.

Warga pun mendesak adanya audit menyeluruh terhadap sistem drainase di kawasan ini serta langkah konkret dari pemerintah untuk menuntaskan masalah yang sudah menahun tersebut.

Jika tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin masalah ini akan semakin memburuk seiring meningkatnya curah hujan, apalagi menjelang musim penghujan yang diprediksi mulai intens pada Mei mendatang. (rid)

Editor : Novitri Selvia
#IKK Limapuluh Kota #drainase buruk #banjir