PADEK.JAWAPOS.COM-KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Limapuluh Kota kian meluas. Hingga hari keenam masa Tanggap Darurat karhutla, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai lebih kurang dari 120 hektare.
Titik api tersebar di sejumlah wilayah, termasuk di kawasan perbukitan Tarantang Sarasah Bonta, Kecamatan Harau, yang masih berkobar hingga Selasa (22/7) pagi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Limapuluh Kota Rahmadinol mengatakan, saat ini tim gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman.
”Ini merupakan hari ke-6 Tanggap Darurat karhutla. Luas cakupan kebakaran sudah lebih kurang 120 hektare. Saat ini (kemarin, red), tim sedang memadamkan api di Nagari Tarantang, Kecamatan Harau,” ujarnya.
Pihaknya, sambung Rahmadinol, belum melakukan pengecekan lapangan bersama Dinas Kehutanan Sumbar. Namun begitu, masyarakat diimbau untuk siaga dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami minta masyarakat tidak membakar lahan. Kondisi saat ini sangat rawan,” katanya.
Sementara itu, jajaran Polsek Harau bersama Forkopimca Harau juga menggelar patroli pencegahan Karhutla pada Senin (21/7). Kegiatan yang dipimpin Kapolsek Harau AKP Gusmanto tersebut melibatkan personel kepolisian, TNI, dan Satpol PP Kecamatan Harau.
Patroli dimulai sejak pukul 13.00 WIB hingga 15.30 WIB, menyasar wilayah rawan menggunakan kendaraan roda dua dan empat.
Dalam kegiatan ini, petugas memberikan imbauan langsung kepada warga agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun hutan, mengingat cuaca panas dan angin kencang yang memperparah penyebaran api.
“Pembakaran lahan menimbulkan dampak luas, termasuk kerugian sektor pertanian, serta membahayakan kesehatan masyarakat akibat asap. Kami minta warga ikut menjaga lingkungan,” kata AKP Gusmanto.
Ia menambahkan, hingga Selasa (22/7) pagi, api di Bukik Tarantang Sarasah Bonta masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya.
”Pemadaman berlangsung hingga subuh. Angin kencang dan kondisi lahan yang kering membuat api cepat menyebar. Untuk Kecamatan Harau saja, sudah ada 10 titik kebakaran,” jelasnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Limapuluh Kota, Alfian menyebut, banyaknya titik api yang tersebar menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Terlebih, banyak titik api berada di lokasi sulit dijangkau seperti puncak bukit.
“Satu mobil harus berpindah-pindah karena banyaknya titik api yang berjauhan. Bahkan ada yang tidak terjangkau selang air. Kami fokus berjaga agar api tidak merambat ke permukiman dan fasilitas umum seperti sekolah atau masjid,” ungkap Alfian.
Ia menambahkan, kebakaran terjadi hampir merata di sejumlah kecamatan secara bersamaan.
“Semua armada terpakai, tak ada cadangan yang bisa dikirim dari posko kecamatan lain. Lokasi yang jauh dan akses yang sulit membuat waktu tempuh ke titik api cukup lama. Api kadang sudah membesar ketika petugas tiba,” tuturnya.
Alfian mengimbau peran aktif masyarakat untuk membantu pemadaman dengan alat seadanya. “Dengan tongkat atau sapu ranting pun bisa. Petugas kami sangat terkuras tenaganya, ada yang berjaga dan memadamkan dari siang sampai tengah malam,” pungkasnya.
Ia menambahkan Pemkab Limapuluh Kota bersama aparat dan masyarakat masih terus berupaya menanggulangi karhutla agar tidak meluas lebih parah. (rid)
Editor : Novitri Selvia