Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Harga Gambir Anjlok, Petani Menjerit

Syamsu Ridwan • Kamis, 21 Agustus 2025 | 13:15 WIB

KELUHAN PETANI: Seorang pekerja tengah menjemur gambir di halaman gudang di Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (20/8).
KELUHAN PETANI: Seorang pekerja tengah menjemur gambir di halaman gudang di Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Rabu (20/8).

PADEK.JAWAPOS.COM-Harga gambir di Kabupaten Limapuluh Kota terus merosot tajam dalam tiga bulan terakhir. Dari sebelumnya sempat mencapai Rp75 ribu per kilogram, kini harga hanya bertahan di kisaran Rp50 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat petani gambir kian terjepit, sementara permintaan pasar juga ikut melemah.

Hal tersebut diungkapkan Chandra, salah seorang pengumpul atau tauke gambir di Jalan Raya Negara Km 7, Tanjung Pati, Kecamatan Harau. Menurutnya, penurunan harga yang berlangsung hampir tiga bulan terakhir telah membuat petani kehilangan semangat.

“Dulu masih Rp75 ribu per kilo, sekarang tinggal Rp50 ribu. Itu pun sudah paling kuat. Kalau kualitas bagus mungkin bisa Rp55 ribu, tapi tidak lebih. Padahal, gambir Siguntur di Pesisir Selatan masih bisa dihargai Rp65 ribu per kilo,” ungkap Chandra, Rabu (20/8).

Ia menduga, perbedaan harga tersebut disebabkan oleh pemisahan kualitas gambir di pasar internasional, terutama di India sebagai salah satu negara tujuan ekspor utama. Pembeli disebut mulai memilah gambir berdasarkan warna, seperti gambir hitam, kuning, dan cokelat.

“Yang paling rendah itu gambir cokelat, sekarang hanya laku Rp40 ribu per kilo. Kalau gambir hitam yang bagus, seperti dari Pangkalan Koto Baru, masih bisa Rp60 ribu. Tapi tetap saja jauh dari harga ideal,” jelasnya.

Selain soal kualitas, praktik nakal sebagian pihak juga ikut memperburuk citra gambir asal Limapuluh Kota. Chandra menyebut ada dugaan gambir dicampur dengan bahan lain, bahkan ada yang mencampurkan pupuk ke dalam olahan gambir.

“Ini berbahaya, bisa merusak kualitas. Kami berharap pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, membuat regulasi yang jelas supaya tidak ada lagi gambir oplosan yang masuk ke pasar,” tegasnya.

Akibat harga yang terus merosot, volume pengiriman gambir ke luar negeri juga ikut menurun drastis. Biasanya, pengiriman bisa mencapai 18 sampai 25 ton setiap dua minggu sekali. Namun kini hanya mampu 7 hingga 10 ton saja.

“Banyak petani yang sudah beralih, tidak lagi serius mengolah gambir. Permintaan ekspor pun sepi, pembayaran dari luar negeri juga sering macet, kadang berminggu-minggu baru ada pelunasan,” kata Chandra.

Ia menilai, harga ideal gambir seharusnya berada di kisaran Rp67 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, ekonomi petani bisa kembali bergairah dan roda perekonomian daerah ikut berputar.

“Kalau kondisi seperti sekarang, petani jelas menjerit. Kami berharap ada solusi konkret dari pemerintah, supaya gambir Limapuluh Kota bisa kembali punya daya saing,” tutupnya. (rid)

 

Editor : Novitri Selvia
#Tanjung Pati #koto baru #Gambir Anjlok