Sejumlah sawah milik petani mengalami kerusakan akibat dijadikan akses keluar-masuk para pengunjung yang datang melihat langsung lokasi sinkhole.
Salah seorang petani terdampak, Bahtiar, mengaku sawahnya kerap dilintasi pengunjung sehingga merusak pematang dan membuat lahan sawah tidak lagi maksimal untuk diolah.
“Sawah saya ini saya pagari, karena para pengunjung sinkhole pulang dan pergi lewat di sini. Kalau tidak dipagari, orang-orang akan terus menginjak sawah ini dan rusak jadinya,” ujar Bahtiar.
Bahtiar menjelaskan, total ada tujuh petak sawah yang terdampak. Lahan tersebut merupakan sawah miliknya dan milik penghulu adat setempat. Aktivitas lalu-lalang pengunjung yang tidak melalui jalur resmi membuat pematang sawah hancur dan tanah menjadi tidak rata.
“Sawah ini ada tujuh petak, milik saya dan penghulu saya. Setiap hari pengunjung lewat, pematangnya rusak, tanahnya jadi hancur,” katanya.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada pematang, tetapi juga pada lahan sawah yang baru saja dipupuk. Pupuk yang telah ditebarkan menjadi sia-sia karena lahan diinjak-injak pengunjung.
“Lahan sebelah itu baru saja dipupuk, tapi rusak karena diinjak-injak pengunjung. Terpaksa dipupuk lagi,” ungkapnya.
Para petani berharap ada perhatian pemerintah nagari maupun pemerintah daerah untuk menertibkan akses ke lokasi sinkhole, agar masyarakat tetap bisa melihat fenomena alam tersebut tanpa merusak lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga. (rid)
Editor : Adetio Purtama