Di antara pepohonan tua dan hamparan perbukitan hijau, kompleks makam ulama besar Minangkabau itu tampak tidak terawat, dengan gapura besi yang mulai kusam serta dinding bangunan kecil di sekitar makam yang catnya mengelupas di sejumlah bagian.
Rumput liar tumbuh di sudut halaman, sementara bangunan utama yang menaungi area makam terlihat cukup tua dengan plafon retak, kayu penyangga atap mulai lapuk, serta lantai semen yang pecah dan berdebu.
Tidak terlihat papan informasi sejarah yang memadai untuk menjelaskan sosok yang dimakamkan di lokasi tersebut, meskipun makam itu merupakan tempat peristirahatan terakhir Haji Piobang.
Haji Piobang dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan pemurnian ajaran Islam pada awal abad ke-18 hingga 19 di Minangkabau, yang kemudian berkontribusi dalam lahirnya gerakan yang dikenal sebagai Perang Padri.
Sepulang dari Mekkah pada awal 1800-an, ia bersama tokoh lain membawa semangat pembaruan yang berupaya memurnikan praktik keagamaan masyarakat Minangkabau dari kebiasaan yang dinilai bertentangan dengan syariat Islam.
Meski dalam perjalanannya memicu konflik sosial dan politik yang panjang, peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Sumatera Barat dan membentuk dinamika sosial masyarakat Minangkabau pada masanya.
Namun saat pantauan dilakukan, tidak terdengar lantunan doa, tidak tampak kendaraan terparkir, serta tidak terlihat aktivitas warga di sekitar lokasi, sehingga kompleks makam terlihat sepi sepanjang Rabu siang hingga sore.
Nisan makam Haji Piobang tampak sederhana tanpa ornamen mencolok, sesuai karakter ajaran kaum Padri yang cenderung menolak kemegahan fisik, meski lumut mulai tumbuh di beberapa sisi batu penanda usia dan minimnya perawatan rutin.
Seorang warga sekitar, Rei (36), menyebut kunjungan peziarah biasanya meningkat pada momen tertentu seperti bulan Ramadan atau menjelang hari besar Islam, sementara pada hari biasa lokasi kerap sepi.
Minimnya fasilitas penunjang turut menjadi kendala, karena tidak tersedia area parkir yang tertata dan papan petunjuk arah menuju lokasi terbatas, sehingga pendatang dari luar daerah perlu meminta panduan warga setempat.
Kabupaten Lima Puluh Kota dikenal memiliki sejumlah situs sejarah perjuangan Islam dan adat Minangkabau, namun tanpa pengelolaan dan promosi yang memadai, situs seperti makam Haji Piobang berisiko semakin terpinggirkan.
Kondisi bangunan yang mulai rapuh memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan situs tersebut, terutama jika tidak dilakukan perawatan dan revitalisasi dalam waktu dekat.
Sejumlah tokoh masyarakat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan pendataan ulang, perbaikan fisik bangunan, serta pemasangan papan informasi sejarah agar generasi muda tetap memiliki akses terhadap sejarah lokal.
Rabu sore itu, kompleks makam kembali tenggelam dalam keheningan, menyisakan bangunan tua yang menyimpan jejak panjang perjuangan seorang ulama dalam sejarah Minangkabau.(*)
Editor : Hendra Efison