PADEK.JAWAPOS.COM–Sebanyak 600 kepala keluarga atau 2.053 jiwa di Nagari Situjuah Ladang Laweh, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, pada Kamis siang (14/5/2026), sudah tidak lagi terisolasi.
Akses jalan kabupaten ruas Ladang Laweh–Batas Batusangkar yang sebelumnya tertimbun longsor kini sudah dibersihkan warga secara gotong royong dengan bantuan mobil penggelontor air milik Dinas Pemadam Kebakaran.
“Jalan sudah bisa dilalui setelah ratusan masyarakat kami secara manual membersihkan material longsor. Alat berat pemda yang ditunggu baru datang sore hari, setelah warga kami bergotong royong,” kata Wali Nagari Situjuah Ladang Laweh, Mawardi Dt Sinaro Paneh, didampingi Ketua Bamus Ustad Yulius, Kepala Jorong Atas Riswan, dan Kepala Jorong Bawah Rijola Andiko.
Mawardi Dt Sinaro Paneh menyebut, ruas jalan yang telah dibersihkan warga bersama personel Damkar dan BPBD masih membutuhkan penanganan alat berat.
Baca Juga: 16 Irigasi Rusak di Padang Mulai Diperbaiki Juli 2026, Pemko Siapkan Anggaran Rp226 Miliar
Sebab, lereng tebing yang memicu longsor masih dipenuhi material tanah berlumpur dan kayu tumbang. Selain itu, bahu jalan yang terban ke dalam jurang juga perlu diperkuat dengan turap atau penahan tebing.
“Kemudian, sekitar seratus meter dari lokasi longsor ini, badan jalan kabupaten juga berlubang mirip sinkhole Situjuah. Lubang ini belum ditimbun sama sekali. Untuk sementara, warga yang ingin keluar-masuk nagari harus kembali melewati jalan lama. Jalan ini sebelumnya tidak lagi dilalui karena bekas longsor juga,” kata Mawardi Dt Sinaro Paneh dan Riswan.
Di sisi lain, anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang membidangi kebencanaan dan infrastruktur, menilai BPBD Limapuluh Kota lambat dalam menetapkan status tanggap darurat bencana.
Padahal, menurutnya, kondisi yang terjadi sudah memenuhi syarat penetapan status tanggap darurat karena warga sempat terisolasi, tiga sekolah diliburkan, dan aktivitas ekonomi terganggu akibat pedagang tidak bisa berjualan ke pasar nagari yang digelar setiap Rabu.
Baca Juga: Gempabumi Tektonik M4.0 Guncang Tuapejat, BMKG: Dipicu Aktivitas Sesar Mentawai
“Contoh kelambanan dalam penetapan status tanggap darurat ini, petugas yang datang tidak dibekali logistik memadai. Bahkan untuk alat berat pun sempat kesulitan memikirkan BBM-nya. Makanya dari awal kami menyarankan, kalau dana operasional terbatas, tetapkan status tanggap darurat untuk melegalkan penggunaan Rp2,5 miliar dana BTT yang ada dalam APBD 2026,” sentil Fajar Vesky.
Fajar berharap kinerja BPBD Limapuluh Kota yang pernah menjadi salah satu terbaik di tingkat nasional tidak mengalami penurunan.
“Manajerial di BPBD itu harus komunikatif, berjiwa lapangan, memahami aturan, dan tidak boleh takut mengambil kebijakan agar rakyat tidak menderita saat terjadi bencana. Kita punya dana BTT Rp2,5 miliar dalam APBD 2026. Gunakan itu untuk bencana, jangan ditahan-tahan,” kata Fajar Rillah Vesky.
Menurut Fajar Vesky, bencana yang terjadi beberapa hari terakhir tidak hanya melanda Situjuah Ladang Laweh, tetapi juga sejumlah wilayah lain di Limapuluh Kota, seperti Nagari Tungkar, Nagari Situjuah Batua, dan Nagari Situjuah Banda Dalam.
Baca Juga: Pengurus Forum Ketua KAN Kabupaten Solok 2026–2031 Dikukuhkan, Wabup Dorong Penguatan Adat Nagari
Selain itu, longsor juga terjadi di ruas jalan provinsi Payakumbuh–Lintau di Kecamatan Lareh Sago Halaban dan kawasan Sariak Laweh, Akabiluru.
“Khusus badan jalan kabupaten ruas Ladang Laweh–Batas Batusangkar yang berlubang mirip sinkhole, harus segera ditimbun. Akses jalan sementara saat ini belum aman karena pernah longsor di titik yang sama. Kalau tidak bisa menggunakan dana BTT, perbaiki melalui program OPD atau TKD yang sedang direviu APIP. Apalagi, sudah ada laporan dan SK bencana dari nagari,” tegas Fajar Rillah Vesky.
Selain di Situjuah Ladang Laweh, Fajar Rillah Vesky juga meminta Pemkab Limapuluh Kota menangani dampak bencana di Nagari Tungkar dan Nagari Situjuah Batua.
“Di Tungkar ada rumah guru yang halamannya longsor dan membutuhkan bantuan pemda. Kemudian ada jalan dan irigasi yang tertimbun longsor, lubuk ikan larangan dan sawah rusak. Terakhir, ada Sungai Batang Sandir yang perlu dinormalisasi dan memerlukan bantuan BWS V Sumatera,” kata Fajar Vesky. (*)
Editor : Hendra Efison