Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menulis Mewujudkan Upaya Lestari Budaya

Novitri Selvia • Kamis, 2 Juli 2026 | 11:24 WIB
BUDAYA MENULIS: kegiatan Workshop menulis buku berwawasan Minangkabau dilaksanakan
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Perpusda) Kota Payakumbuh bersama guru-guru
penulis dengan tokoh budaya, penulis dan penerbit asal Minangkabau beberapa waktu lalu.(TIM LAMAN GURU)
BUDAYA MENULIS: kegiatan Workshop menulis buku berwawasan Minangkabau dilaksanakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Perpusda) Kota Payakumbuh bersama guru-guru penulis dengan tokoh budaya, penulis dan penerbit asal Minangkabau beberapa waktu lalu.(TIM LAMAN GURU)

 
PADEK.JAWAPOS.COM-Lembaga pendidikan formal bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan demi mengejar angka pada ijazah ataupun predikat, pangkat, dan kedudukan di masa depan sebagai bekal keberlangsungan hidup.

Sekolah merupakan benteng pertahanan kebudayaan terdepan. Perpaduan nilai-nilai budaya dalam kurikulum dapat menjadikan sekolah sebagai tempat identitas generasi dibentuk, diuji, serta menjadi harapan untuk mempertahankan budaya itu sendiri.

Dalam pelaksanaan sosialisasi nilai-nilai kearifan lokal yang termuat dalam pembelajaran muatan lokal di SD Negeri 21 Payakumbuh, guru memegang peran krusial sebagai agen kebudayaan.

Guru bertugas menjembatani kekayaan nilai masa lalu dengan masa depan yang serba digital di tengah transformasi teknologi yang semakin canggih. Guru tidak boleh hanya menjadi penonton pasif di tengah arus globalisasi, melainkan harus menjadi pemandu yang mengarahkan murid-muridnya agar tetap berpijak pada kearifan lokal.

Murid perlu memahami berbagai bentuk kebudayaan beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat diterapkan sebagai panduan karakter dan keluhuran budi dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya nyata guru dalam melestarikan budaya lokal sering kali dimulai dari ruang-ruang kelas melalui pembiasaan literasi yang terkontrol dan berkelanjutan.

Sebagai agen di lembaga pendidikan formal, guru memiliki otoritas untuk merancang pembelajaran yang menyisipkan nilai-nilai tradisi, mulai dari cerita rakyat, filosofi seni tradisional, hingga sejarah terbentuknya komunitas lokal.

Namun, tantangan terbesar muncul ketika guru menyadari bahwa metode lisan atau hafalan yang monoton tidak lagi efektif menarik minat generasi masa kini yang cenderung menyukai kecepatan dan visualisasi.

Kesadaran inilah yang mendorong para guru untuk melangkah lebih jauh, yakni mentransformasikan pengetahuan budaya ke dalam bentuk karya tulis yang abadi, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Keterlibatan guru sebagai pelestari budaya melalui jalur literasi menjadi sangat penting. Seorang guru menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup. Karena itu, guru memilih mengambil langkah progresif dengan berpartisipasi aktif dalam berbagai pelatihan, lokakarya, dan komunitas kepenulisan guna meningkatkan wawasan serta kemampuan literasinya.

Langkah tersebut diambil bukan semata-mata untuk mengejar angka kredit profesi, melainkan untuk mempertajam kemampuan menulis agar mampu mengemas narasi kearifan lokal yang selama ini dianggap kuno menjadi tulisan yang segar, menarik, dan relevan dengan cara pandang murid masa kini.

Melalui kepiawaian berbahasa dalam tulisan, guru juga dapat menjalin kolaborasi dengan orang tua dan tokoh masyarakat yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam menanamkan nilai-nilai budaya kepada peserta didik.

Melalui aktivitas peningkatan kapasitas menulis, guru bertransformasi dari sekadar konsumen buku teks menjadi produsen pengetahuan lokal. Keterlibatan aktif guru dalam dunia kepenulisan membawa dampak berantai (multiplier effect) yang luar biasa di lingkungan sekolah.

Selain melahirkan karya, guru juga dapat melakukan pengimbasan kepada guru-guru lain yang memiliki kompetensi dalam khazanah budaya lokal untuk menjalankan peran pelestarian budaya dari generasi ke generasi.

Hal ini tampak pada guru-guru di SD Negeri 21 Payakumbuh yang memiliki dedikasi dalam mengajarkan materi Budaya Alam Minangkabau.

Ketika seorang guru menulis esai budaya di surat kabar, menerbitkan buku kumpulan dongeng daerah, atau menyusun jurnal ilmiah berbasis kearifan lokal, ia sedang memberikan teladan nyata (role model) bagi seluruh warga sekolah.

Guru membuktikan kepada murid-muridnya bahwa mencintai budaya bukan berarti ketinggalan zaman, melainkan sebuah bentuk kecerdasan yang tinggi.

Energi kreatif yang lahir dari tulisan-tulisan guru perlahan mampu meruntuhkan rasa rendah diri peserta didik terhadap tradisi mereka sendiri dan menggantinya dengan rasa bangga kolektif yang tumbuh di lingkungan sekolah. 

Pada akhirnya, guru yang menguasai seni menulis merupakan penjaga ingatan kolektif bangsa yang tangguh di lingkungan pendidikan formal.

Terutama bagi guru-guru di SD Negeri 21 Payakumbuh, kemampuan menulis dapat menjadi benteng pertahanan terhadap penggerusan nilai-nilai budaya Minangkabau oleh pengaruh global yang tidak sejalan dengan keaslian dan kemurnian nilai budaya Minangkabau di ranah Bundo Kanduang.

Ketika seorang guru menuliskan tradisi atau filosofi lokal yang hampir punah, sesungguhnya ia sedang mengabadikan ruh kebudayaan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.

Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat yang asing bagi budaya lokal, melainkan berubah menjadi laboratorium literasi tempat warisan leluhur dirawat, dituliskan kembali, dan disebarluaskan.

Melalui goresan pena guru yang terus diasah, pelestarian budaya tidak lagi berhenti sebagai slogan di spanduk sekolah, melainkan menjelma menjadi gerakan literasi yang hidup. Gerakan ini memastikan anak cucu kita tidak kehilangan akar identitasnya.

Selain itu, pengembangan sumber belajar Budaya Alam Minangkabau juga diwujudkan melalui penyusunan buku referensi yang melibatkan guru-guru pada setiap fase pembelajaran.

Buku tersebut mengimplementasikan nilai-nilai kearifan lokal Payakumbuh ke dalam bahan ajar. Namun, upaya ini masih memerlukan proses lanjutan karena sempat terhenti akibat pergantian pejabat struktural di bidang pendidikan. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Lestari Budaya #menulis #Syafrianto Rajo Mudo