PADEK.JAWAPOS.COM - Momen libur Lebaran identik dengan perayaan dan sajian makanan istimewa bersama keluarga. Di Sumatera Barat, masyarakat kerap menikmati hidangan tinggi lemak seperti rendang, gulai bersantan, hingga aneka kue kering yang kaya gula dan lemak.
Namun, setelah euforia perayaan berakhir, tubuh sering memberikan sinyal kelelahan akibat asupan kalori berlebih. Laporan kesehatan pascaliburan menunjukkan adanya tren peningkatan berat badan, kolesterol, hingga gula darah pada masyarakat setelah Idulfitri maupun Iduladha.
Kondisi ini mendorong pentingnya transisi atau ”reset” pola makan guna mencegah risiko penyakit metabolik jangka panjang.
Kepala Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas (Unand), Syahrial menyarankan masyarakat untuk kembali pada pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi air putih, meningkatkan asupan serat, serta mengurangi makanan tinggi karbohidrat dan lemak.
“Yang terpenting adalah kembali ke pola makan yang benar, dengan mengonsumsi air putih, makanan tinggi serat, serta gizi seimbang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan perlunya aktivitas fisik seperti berjalan kaki atau olahraga ringan membantu meningkatkan metabolisme tubuh, membakar kelebihan kalori, serta menjaga keseimbangan energi setelah pola makan berlebih selama masa Lebaran. “ Kemudian mengelola stres juga sangat penting,” ujarnya lagi.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengatur kembali porsi makan. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan pedoman gizi seimbang melalui konsep “Isi Piringku”. Setengah piring diisi sayur dan buah, sedangkan setengah lainnya terdiri atas karbohidrat kompleks serta protein, baik nabati maupun hewani.
Selain itu, masyarakat juga diimbau membatasi konsumsi makanan dan minuman manis serta bersantan. Kemenkes menetapkan batas konsumsi harian, yakni 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak atau minyak. Makanan olahan, gorengan, serta minuman kemasan sebaiknya dikurangi untuk memberi kesempatan tubuh beristirahat.
Asupan serat juga berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan. Sayuran hijau, gandum utuh, serta buah-buahan seperti pepaya, nanas, dan apel membantu melancarkan sistem pencernaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi buah dan sayur minimal 400 gram per hari untuk menekan risiko penyakit tidak menular.
Selain itu, kebutuhan cairan tubuh juga perlu diperhatikan. Konsumsi air putih minimal dua liter atau delapan gelas per hari membantu proses detoksifikasi alami melalui urine dan keringat, sekaligus memberikan efek kenyang.
Meski demikian, pembatasan makan secara ekstrem setelah Lebaran tidak dianjurkan karena dapat memicu pola makan berlebihan di kemudian hari. Masyarakat tetap disarankan makan tiga kali sehari dengan porsi terkontrol dan jadwal teratur. Camilan sebaiknya diganti dengan pilihan yang lebih sehat, seperti kacang-kacangan atau buah segar.
Mengatur kembali pola makan menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan tubuh. Namun, dampak konsumsi makanan tinggi lemak dan gula selama masa liburan kerap tidak langsung terasa. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh secara menyeluruh. (juf)
Editor : Adriyanto Syafril