PADEK.JAWAPOS.COM - Program KABA PADEK Sore edisi Senin (25/5) menghadirkan wartawan ekonomi senior, Two Efly sebagai narasumber. Program yang tayang setiap Senin, Rabu, dan Jumat itu dipandu oleh Febi Tri Lianti dengan mengangkat isu perkembangan ekonomi di Sumatera Barat.
Dalam dialog tersebut, Two Efly menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi makro Sumatera Barat secara year on year (yoy) memang mengalami peningkatan. Namun, capaian tersebut masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional karena masih bergerak di kisaran angka 4 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Sumbar memang naik, tetapi masih di bawah nasional. Salah satu penyebabnya karena pertumbuhan itu banyak ditopang dana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang masuk dari pemerintah pusat,” ujarnya.
Menurutnya, masuknya dana rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi salah satu faktor yang mendorong pergerakan ekonomi daerah. Selain itu, momentum Lebaran juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi Sumbar karena banyak perantau yang pulang kampung dan meningkatkan perputaran uang di daerah.
“Pascalebaran kemarin cukup membantu. Perantau yang pulang membuat konsumsi masyarakat meningkat dan itu ikut menggerakkan ekonomi daerah,” katanya.
Ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Sumbar saat ini berada di angka sekitar 3,5 persen dan diharapkan dapat meningkat pada kuartal kedua tahun ini.
“Kalau angka 3,5 persen ini bisa bertahan, dampaknya akan mulai terasa pada kuartal kedua. Kita berharap ada peningkatan lagi,” jelasnya.
Selain momentum Lebaran, masuknya tahun ajaran baru pada Juni mendatang juga diperkirakan akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Kebutuhan pendidikan seperti seragam, perlengkapan sekolah, hingga biaya pendidikan diprediksi mendorong perputaran ekonomi.
“Memasuki tahun ajaran baru biasanya konsumsi masyarakat meningkat. Itu bisa menjadi momentum untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Meski demikian, Two Efly menilai pertumbuhan ekonomi makro tidak selalu langsung dirasakan masyarakat kecil. Ia menyoroti kondisi daya beli masyarakat yang saat ini masih mengalami penurunan.
“Makro ekonomi dengan kondisi ekonomi rakyat itu berbeda. Banyak masyarakat sekarang menekan pengeluaran karena tabungan mereka sudah mulai habis. Itu yang membuat ekonomi terasa sulit,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan sesuatu yang instan. Ketika ekonomi makro mulai membaik, sektor mikro biasanya akan mengikuti secara bertahap.
“Kalau pertumbuhan makronya lambat, maka efeknya ke ekonomi rakyat juga lambat. Tapi ketika makro sudah bagus, mikro akan mengikuti,” ungkapnya.
Selain itu, ia menyarankan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Pengeluaran konsumtif yang tidak mendesak sebaiknya ditekan, sementara masyarakat didorong memanfaatkan peluang usaha kecil dan sektor produktif yang masih berkembang.
“Masyarakat sekarang harus lebih selektif dalam membelanjakan uang. Prioritaskan kebutuhan utama dan kalau bisa cari tambahan penghasilan dari usaha kecil atau sektor yang masih bergerak,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat juga perlu mulai membangun kembali kebiasaan menabung meskipun dalam jumlah kecil agar memiliki cadangan keuangan saat kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
“Sedikit demi sedikit harus mulai menabung lagi. Karena ketika ekonomi melambat, cadangan keuangan sangat penting untuk bertahan,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memaksimalkan belanja yang berkaitan langsung dengan pembangunan dan rekonstruksi agar dampaknya cepat dirasakan masyarakat.
“Belanja pemerintah yang langsung menyentuh pembangunan dan rekonstruksi harus dimaksimalkan. Itu yang paling cepat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tutupnya. (sel)
Editor : Adriyanto Syafril