PADEK.JAWAPOS.COM -- Sejumlah pelanggan PDAM Kota Padang mengeluhkan air yang keruh akhir-akhir ini. Menanggapi keluhan tersebut, Perumda Air Minum Kota Padang menggelar konferensi pers, Jumat (10/7) di sebuah kafe di Padang.
Direktur Utama Perumda AM Padang.Hendra Pebrizal beserta jajaran mohon maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan tersebut.
Ia menyebut, keruhnya air yang mengalir kepada 50 persen dari 50 ribu pelanggan mulai Jembatan Siteba hingga pusat kota karena saat ini sedang dilakukan perbaikan IPA Gunungpangilun yang rusak akibat bencana hidromoteorologi akhir 2025 lalu.
Perbaikan ditarget tuntas Desember 2026. Jelang pengerjaan selesai kualitas air kepada pelanggan akan turun alias agak keruh. “Terjadi kekeruhan karena IPA tak mampu lagi memproduki air secara maksimal,” ujarnya.
Untuk meminimalisir kekeruhan, Jumat malam dilakukan pengurasan reservoar IPA Gunung Pangilun mulai pukul 20.00 WIB. Selama pengurasan bak penampung air dan pipa berlangsung, air mati sementara. Sabtu (11/7) pagi air akan mengalir kembali.
Butuh Anggaran Rp 659 Miliar
Hendra meyebutkan, kerusakan akibat bencana tidak hanya terjadi pada jaringan, tetapi juga menghantam IPA GunungPangilun serta Intake Kampung Koto yang menjadi tulang punggung pelayanan air bersih di Kota Padang.
“IPA GunungPangilun dibangun sejak 1957 dengan kemampuan mengolah air berkekeruhan maksimal sekitar 10.000 NTU. Saat bencana, tingkat kekeruhan melonjak hingga mencapai 30.000 NTU. Kondisi itu membuat instalasi yang sudah berusia tua tidak lagi mampu bekerja secara maksimal,” ujar Hendra.
Ia mengungkapkan, tingginya tingkat kekeruhan dan keasaman air bahkan menyebabkan sejumlah komponen vital mengalami kerusakan berat. Salah satunya bearing pompa di Intake Kampung Koto yang rusak parah akibat dipaksa bekerja dalam kondisi ekstrem.
Hendra memaparkan, saat ini pihaknya tengah melakukan rehab rekon mulai dari intake, filter, hingga ekskalator IPA Gunungpangilun berkapasitas 500 liter per detik memanfaatkan anggaran dari Kementerian PU.
“Rehab rekon sudah dimulai Desember 2025 dan ditargetkan tuntas Desember 2026,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Teknik Andri Satria mengatakan, PDAM Kota Padang menambil air baku 95 persen dari 5 sungai yang ada di Kota Padang.
“Sejak bencana terjadi perubahan pada air sungai. Kekeruhan sangat tinggi sedangkan pH rendah. Butuh banyak zat kimia untuk menjernihkan air. Penurunan fungsi filter menyebabkan air yang mengalir ke pelanggan jadi keruh,” bebernya.
Andri Satria mengatakan, total kebutuhan rehabilitasi pascabencana diperkirakan mencapai Rp659 miliar. Sementara penanganan darurat yang sedang berjalan sekitar Rp70 miliar. “Kerusakan akibat bencana memang sangat masif sehingga membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah pusat,” ujarnya.
IPA Gunungpangilun sendiri saat ini melayani hampir separuh pelanggan di wilayah pusat kota. Andri mengatakan, selain pengurasan reservoar untuk meningkatkan kualitas air, pelanggan juga dibantu air tangki
Untuk mengatasi persoalan jangka panjang, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum juga menyiapkan proyek strategis senilai hampir Rp800 miliar. Proyek tersebut meliputi pembangunan IPA baru berkapasitas 200 liter per detik di Palukahan, pembangunan reservoir, serta pemasangan jaringan pipa sepanjang 19 kilometer dari kawasan Ar Risalah hingga Simpang Alai. Selain itu, pemerintah juga merencanakan relokasi IPA Gunungpangilun ke kawasan Kampung Koto dengan fasilitas yang lebih modern. Saat ini proyek masih dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan studi kelayakan (FS) untuk diusulkan masuk dalam APBN Tahun 2027. (eni)
Editor : Adriyanto Syafril