PADEK.JAWAPOS.COM -- Tim dosen dan mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Padang bekerja sama dengan Puskesmas Koto Panjang Ikua Koto (KPIK) Kota Padang menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa edukasi pengendalian faktor risiko penyakit kulit di Pesantren Al Falah, Kota Padang, Kamis (16/7).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya santri, mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan dan kebersihan diri sebagai upaya pencegahan penyakit kulit.
Kegiatan dihadiri Wakil Kurikulum Pesantren Al Falah Nilawati Adiro, S.Pd.I., pimpinan Puskesmas Koto Panjang Ikua Koto dr. Devita Rizki, tenaga kesehatan yang terdiri atas bidan, perawat, tenaga promosi kesehatan (promkes), sanitarian, tim dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Padang, serta santri dan santriwati kelas VIII Pesantren Al Falah.
Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa kesehatan merupakan hak setiap warga negara yang harus diwujudkan melalui penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Salah satu upaya penting adalah penyelenggaraan kesehatan lingkungan, termasuk di lingkungan pendidikan seperti pondok pesantren.
Pesantren menjadi salah satu lokasi yang memerlukan perhatian dalam aspek kesehatan lingkungan karena dihuni banyak santri yang berasal dari berbagai daerah dengan kebiasaan dan tingkat pengetahuan yang beragam. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran penyakit kulit apabila kebersihan diri dan lingkungan tidak dijaga dengan baik.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat menjelaskan bahwa penyakit kulit masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan di lingkungan pesantren. Kebiasaan bertukar barang pribadi seperti handuk, sisir, pakaian, jilbab, topi, jaket, hingga penggunaan tempat tidur secara bergantian dapat meningkatkan risiko penularan penyakit kulit.
Selain itu, kebiasaan kurang menjaga kebersihan badan, jarang mengganti pakaian dan sprei, serta kondisi kamar yang padat dengan kelembapan tinggi juga menjadi faktor yang mendukung berkembangnya mikroorganisme penyebab penyakit kulit.
Dalam materi edukasi, tim menjelaskan berbagai jenis penyakit kulit, termasuk skabies atau kudis, yang disebabkan oleh parasit, jamur, bakteri maupun virus. Penyakit tersebut dapat menimbulkan rasa gatal, luka akibat garukan, hingga infeksi apabila tidak ditangani dengan baik.
Tim juga menyampaikan bahwa penyakit kulit telah masuk dalam kategori Neglected Tropical Diseases (NTDs) atau penyakit tropis terabaikan dalam peta jalan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2021–2030. Selain itu, beberapa penyakit kulit juga dikategorikan sebagai penyakit yang berkaitan dengan kualitas air (water-related disease), sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi sangat penting.
Kegiatan edukasi disampaikan melalui metode ceramah yang membahas penyebab penyakit kulit, faktor risiko di lingkungan pesantren, pentingnya pengelolaan linen dan tempat tidur, penyediaan air bersih, fasilitas mandi yang layak, hingga penerapan kebersihan diri atau personal hygiene.
Selain penyampaian materi, peserta juga diajak menyaksikan video edukasi mengenai enam langkah Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) sebagai salah satu langkah sederhana dalam mencegah penyebaran penyakit.
Pada kesempatan yang sama, tim kesehatan Puskesmas Koto Panjang Ikua Koto memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis kepada para santri. Pemeriksaan meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, pemeriksaan kesehatan mata dan buta warna, pemeriksaan pendengaran, serta pemeriksaan kesehatan gigi.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para santri yang mampu menjawab pertanyaan maupun mempraktikkan kembali enam langkah CTPS mendapatkan hadiah berupa alat tulis sebagai bentuk apresiasi. (rel)
Editor : Adriyanto Syafril