AICCON Ke-6 Bahas Mitigasi Bencana

Suyudi Adri Pratama • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 07:36 WIB
AICCON ke-6 sukses digelar di Hotel The ZHM Premier Padang, Rabu (22/7). (SUYUDI/PADEK)
AICCON ke-6 sukses digelar di Hotel The ZHM Premier Padang, Rabu (22/7). (SUYUDI/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Isu komunikasi ling­kungan, mitigasi bencana, literasi digital, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi fokus pembahasan dalam Annual Interna­tional­ Conference on Communication (AICCON) ke-6 yang digelar di Hotel ZHM Premier Padang, Rabu (22/7).

Konferensi internasional yang dise­lenggarakan Asosiasi Pendidikan Tinggi­ Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) tersebut diikuti akademisi ilmu komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta sejumlah negara. Forum ini menjadi wadah bertukar gagasan mengenai tantangan komunikasi di tengah perubahan lingkungan dan pesatnya perkembangan teknologi digital.

Ketua Umum Pengurus Pusat ASPIKOM, Prof. Dr. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.Comm., mengatakan tema AICCON tahun ini disesuaikan dengan kondisi Sumatera Barat yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami berbagai bencana alam, seperti banjir bandang, banjir, dan tanah longsor.

“Iven AICCON ini kami rancang menyesuaikan dengan kondisi Sumatera Barat yang beberapa waktu lalu mengalami bencana alam. Kami ingin seluruh dosen komunikasi Indonesia berpikir bersama mengapa ini terjadi dan bagaimana cara mitigasi bahkan recovery-nya,” ujar Anang.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak hanya dapat dipahami dari aspek fisik, tetapi juga perlu dikaji melalui pendekatan komunikasi yang mampu membangun kesadaran masyar­akat untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi risiko bencana.

Untuk memperkaya pembahasan, AICCON ke-6 menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya akademisi dari Malaysia yang membahas komunikasi lingkungan, perwakilan Queensland University yang mengulas komunikasi untuk perubahan sosial, serta pakar media Merlyna Lim yang memaparkan perkembangan media di era digital.

Anang menilai edukasi kepada masyarakat mengenai media menjadi semakin penting seiring tingginya penetrasi teknologi digital.

“Bagaimanapun kita perlu menge­dukasi masyarakat tentang media. Di era penetrasi teknologi digital yang sangat tinggi saat ini, masyarakat harus memahami bagaimana media bekerja dan bagaimana posisi audiens da­lam bermedia,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perkem­bangan teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya, agama, dan kearifan lokal. Menurutnya, kemajuan teknologi tanpa diimbangi nilai-nilai tersebut berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial.

“Seolah-olah teknologi digital itu segalanya. Padahal dalam banyak kajian kami menemukan teknologi digital tidak bisa dilepaskan dari local wisdom, budaya, dan agama. Kalau ketiga hal itu tidak dikombinasikan, ma­syarakat bisa tercerabut dari nilai-nilai yang sebenarnya,” tegasnya.

Anang juga menyoroti berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Ia menilai bencana tidak terlepas dari perilaku manusia yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan teknologi dibandingkan menjaga kelestarian lingkungan.

Ia menambahkan, kepedulian generasi muda terhadap lingkungan juga perlu terus diperkuat. Menurutnya, tingginya intensitas penggunaan media sosial membuat sebagian anak muda semakin jauh dari lingkungan sosial maupun alam di sekitarnya.

AI Harus Menjadi Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Selain isu lingkungan dan mitigasi bencana, AICCON ke-6 juga mengangkat perkembangan kecerdasan buatan atau AI yang kini semakin banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, penelitian, dan berbagai aktivitas masyarakat.

Ketua Panitia AICCON ke-6, Revi Marta, M.I.Kom., menegaskan AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.

Ia menjelaskan, salah satu manfaat AI yang paling dirasakan di lingkungan akademik adalah kemampuannya mem­percepat pencarian referensi ilmiah.

“Dulu mencari lima sampai sepuluh artikel yang benar-benar sesuai bisa memakan waktu satu minggu. Seka­rang dengan bantuan AI, dalam hitungan menit kita bisa mendapatkan ratusan referensi yang relevan,” katanya.

Meski demikian, Revi mengingatkan bahwa seluruh informasi yang dihasilkan AI tetap harus diverifikasi oleh penggunanya.

“Yang sering menjadi masalah adalah ketika orang percaya sepenuhnya kepada AI. Semua informasi yang keluar dianggap benar tanpa dicek lagi sumbernya. Padahal verifikasi tetap menjadi kewajiban pengguna,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, fenomena hyper-reality akibat perkembangan AI juga menjadi perhatian. Menurut Revi, kemampuan AI menghasilkan gambar, video, dan berbagai konten digital yang sangat me­nyerupai kenyataan berpotensi membuat masyarakat kesulitan membedakan fakta dengan rekayasa teknologi.

“Produksi gambar, video maupun konten menggunakan AI memang bagus. Tetapi masyarakat tetap harus berpikir kritis karena tidak semuanya mencerminkan realitas yang sebenarnya,” ujarnya.

Revi juga mengapresiasi peran mahasiswa dalam menjalankan fungsi kontrol sosial melalui penyampaian kritik terhadap berbagai kebijakan publik. Namun, ia menegaskan kritik harus didasarkan pada data dan analisis yang kuat agar tidak memicu disinformasi maupun penyebaran hoaks.

“Mahasiswa harus menjadi motor dalam komunikasi yang demokratis. Kami sangat mengapresiasi itu. Tetapi kritik harus berbasis data, jangan sampai justru menyebarkan disinformasi atau hoaks,” katanya.

Menurut Revi, literasi digital dan lite­rasi AI kini menjadi kompetensi yang wajib dimiliki generasi muda. Masya­rakat tidak cukup hanya mengenal teknologi, tetapi juga harus memahami cara kerjanya serta mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab.

“Kuncinya bukan hanya tahu. Tetapi tahu, paham, dan menguasai. Di situlah pentingnya literasi digital dan literasi AI agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna pasif,” ujarnya. (yud)

Editor : Adriyanto Syafril
AICCON 2026 ASPIKOM komunikasi lingkungan Literasi Digital kecerdasan buatan Ai