Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (15/5) di Fave Hotel, Padang, dengan melibatkan 41 Wali Nagari beserta staf dari berbagai wilayah di Sumatera Barat.
Dalam sesi kedua pelatihan, Pimpinan Redaksi Padang Ekspres, Rommi Delfiano, menyampaikan bahwa wartawan profesional harus menjadikan kode etik jurnalistik sebagai pedoman utama dalam setiap proses kerja jurnalistik.
Hal ini, menurutnya, bukan hanya soal kepatuhan terhadap aturan, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seorang jurnalis di bawah pengawasan Dewan Pers.
“Kode etik jurnalistik bukanlah sekadar aturan, melainkan pedoman moral yang harus dipegang teguh oleh setiap wartawan,” tegas Rommi Delfiano di hadapan para peserta pelatihan.
Ia menekankan bahwa kredibilitas media sangat bergantung pada ketaatan terhadap prinsip-prinsip jurnalistik, termasuk transparansi dan akuntabilitas dalam memperoleh dan menyampaikan informasi.
Salah satu aspek penting yang ditekankan Rommi adalah perlunya wartawan untuk selalu menunjukkan identitas secara jelas kepada narasumber.
“Narasumber berhak menolak diwawancarai jika identitas wartawan tidak jelas,” tambahnya. Ia menyebut hal ini sebagai bentuk perlindungan terhadap narasumber sekaligus untuk menjaga integritas data dan informasi yang diperoleh.
Pada sesi selanjutnya, Jufri Jao, Kepala Pra Cetak Padang Ekspres, turut memberikan materi tentang pentingnya elemen visual dalam pemberitaan.
Ia menekankan bahwa pemilihan foto yang tepat bukan hanya memperindah tampilan berita, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan secara langsung kepada pembaca.
“Foto yang baik mampu menceritakan sebuah kisah bahkan sebelum pembaca membaca teks berita,” ujarnya.
Jufri mengingatkan pentingnya sensitivitas terhadap dampak visual dari sebuah foto, terutama pada peristiwa tragis seperti kecelakaan atau bencana.
Ia menyebutkan bahwa tidak semua gambar layak ditampilkan, terutama jika berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan atau melukai perasaan publik.
“Kita harus sensitif terhadap dampak visual yang mungkin ditimbulkan oleh sebuah foto, terutama yang berkaitan dengan peristiwa tragis, seperti foto luka korban akibat kecelakaan lalu lintas,” jelasnya.
Selain itu, ia membagikan sejumlah tips teknis tentang pengambilan gambar, mulai dari komposisi, pencahayaan, hingga pemilihan sudut pandang yang mampu menghasilkan visual yang menarik dan informatif.
Pelatihan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Salah satunya, Jon Aprizal, Wali Nagari Latang, Kecamatan Lubuktarok, Kabupaten Sijunjung, mengungkapkan rasa antusiasnya mengikuti pelatihan ini.
“Saya merasa sangat awam dengan dunia kepenulisan berita jurnalistik. Pelatihan ini menambah wawasan saya. Ini pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan seperti ini, dan sebagai kepala desa, saya sangat berharap pelatihan serupa dapat berlanjut,” ujarnya.
Jon berharap ilmu yang diperoleh dapat membantunya menyampaikan informasi kepada masyarakat secara lebih efektif dan bertanggung jawab. Pengalamannya menjadi representasi dari banyak peserta lainnya yang menganggap pelatihan ini membuka wawasan baru dalam dunia jurnalistik dan komunikasi publik. (cr1)
Editor : Adetio Purtama